Aku membentangkan peta di depan Fran setelah kembali dari rumah Nero.
Ia memandang garis perjalanan yang kutandai, kemudian mengangkat wajah seolah sedang berharap titik terakhir akan berpindah lebih dekat apabila ia menatapku cukup lama.
'Berapa lama?'
'Empat pekan untuk perjalanan pertama. Aku ingin mengunjungi Hannes, lalu tempat pemulihan tanah di Henzo. Bukan medan perang.'
'Aku mengetahui letak kedua tempat itu.'
'Aku juga tahu Ayah mengetahuinya.'
Fran menghela napas. Aku duduk di hadapannya tanpa menarik kembali petanya.
Selama bertahun-tahun, keinginanku bepergian selalu terikat sesuatu yang harus dicegah. Aku ingin menemui Carl sebelum kebenciannya tumbuh, menemukan orang sebelum ia disakiti, atau tiba di tempat yang menurut cerita akan mendatangkan bahaya bagi keluargaku. Kini aku ingin berangkat tanpa menunggu ancaman menjadi alasan yang cukup kuat.
Aku ingin belajar melihat negeri tempat aku hidup.
Di Hannes, aku akan tinggal bersama kakek dan nenek untuk mempelajari pekerjaan pemulihan yang dapat dibantu oleh Aura tanpa mengganggu tugas para penyembuh. Di Henzo, aku ingin mengikuti pengamat tanah yang selama ini menerima bahan tanpa pernah cukup lama berbicara denganku tentang hasilnya.
Rinnelf telah memberiku bacaan yang tidak selesai hanya dengan mengetahui tanggal perang. Iana mengingatkan bahwa harga bahan di atas kertas tidak selalu sama dengan biaya membawanya melewati jalan yang rusak. Aku hendak belajar dari orang yang mengerjakan hal-hal itu setiap hari, bukan datang hanya ketika seluruh tempat telah disiapkan untuk menyambut seorang putri.
Fran memutar cincin di jarinya.
'Jika seseorang mencoba memaksamu tinggal untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum berhasil?'
'Aku akan menolak. Nove dan Grin tahu siapa yang harus dihubungi jika penolakan itu tidak dihormati.'
'Jika kau sendiri merasa tidak enak meninggalkannya?'
Pertanyaan kedua membuatku terdiam lebih lama.
'Mungkin aku masih akan merasa begitu,' jawabku. 'Aku ingin belajar meminta orang lain membantu sebelum menjanjikan sesuatu yang tidak dapat kulakukan.'
Fran menyentuh salah satu tanda di peta. Aku sudah menuliskan tempat singgah dan jeda perjalanan, termasuk hari ketika rombongan pengawal berganti tugas. Ia memeriksa bagian itu dengan sungguh-sungguh, lalu memanggil Linn agar pembicaraan dapat diteruskan bersama orang yang akan mengatur perjalanan.
Tidak ada izin yang disembunyikan di balik syarat membawa seluruh keluarga.
Linn meminta rencana diberi ruang jika jalan belum aman atau cuaca memperlambat kereta. Nove dan Grin menyebutkan apa yang mereka perlukan agar dapat beristirahat bergantian. Aku menambahkan satu hari sebelum keberangkatan agar Lily tidak harus menyelesaikan semua pakaian pada malam terakhir.
'Aku bahkan belum mengatakan akan menyiapkan pakaianmu,' kata Lily dari pintu.
'Aku dapat membawa sendiri.'
'Aku tahu. Aku hanya tidak percaya kau akan mengingat bahwa buku tidak dapat menggantikan baju bersih.'
Niel menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Sore itu, aku masuk ke rumah kaca dan menemukan Luca duduk di dekat Ash.
Panther tua itu mengangkat kepala ketika aku datang. Ia tidak berdiri sebelum yakin aku sedang membawa sesuatu yang patut diperiksa. Setelah mendapati tanganku kosong, ia kembali berbaring dengan napas panjang yang membuat Luca tertawa.
Aku duduk di lantai, membiarkannya mendekatkan kepala tanpa mengganggu kaki yang mudah terasa pegal. Ash kini berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Niel memeriksa keadaannya secara teratur, tetapi tidak seorang pun menjanjikan bahwa sihir akan mengembalikan tubuhnya menjadi hewan muda.
'Kau akan menjaganya?' tanyaku kepada Luca.
'Aku sudah menjaganya sebelum kau dapat berjalan.'
'Kau pernah mengusirnya.'
Senyum Luca mereda. Ia mengusap bulu di dekat leher Ash dan mengangguk.
'Aku ingat. Aku tidak ingin melupakan itu hanya karena ia sudah bersedia pulang.'
Ash menyentuh tangan Luca dengan hidung. Aku tidak meminta hewan itu memberikan pengampunan yang dapat diumumkan kepada semua orang. Ia cukup berada di tempat yang aman, dengan orang yang kini mengetahui bahwa kesetiaan bukan alasan memperlakukannya sesuka hati.
Luca memperbaiki lipatan alas di bawah kakinya. Ash bergerak sedikit, memilih posisi lain, kemudian mengeluarkan suara rendah ketika aku berhenti mengusap kepalanya terlalu cepat. Aku menuruti permintaan itu sampai ia kembali memejamkan mata. Sebelum pergi, aku meminta Luca mengabarkan hal-hal kecil seperti ini dalam surat, supaya cerita dari rumah tidak selalu harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Malam sebelum berangkat, aku membuka buku kosong di meja.
Poppy bertengger di dekat lampu peony biru. Cahaya dari bunga yang disimpan Kiel masih lembut, berbeda dari cahaya terang yang dahulu membuatku ketakutan ketika pertama kali memikirkan spirit dan takdir keluarga ini.
'Apa yang akan kautulis?' tanyanya.
Aku menggerakkan pena, berhenti, lalu mencoba lagi.
'Hal-hal yang benar-benar kulihat.'
Aku tidak hendak menulis ulang Mask agar menjadi buku yang selalu memuji orang-orang yang kusayangi. Ada peristiwa yang tidak dapat kuubah menjadi manis, serta orang yang mempunyai alasan untuk tidak mencintai keluarga Peranto. Jika aku ingin mengingat hidup ini dengan jujur, mereka juga harus mendapat tempat di dalamnya.
Pada halaman pertama, aku menuliskan namaku.
Qiya Arl Peranto.
Aku masih mengingat seorang gadis yang meninggal setelah menerima kabar kelulusannya. Kegembiraan itu tidak menjadi kebohongan hanya karena hidupnya berakhir terlalu cepat. Aku pernah menjadi dirinya, dan kini aku juga memiliki tahun-tahun yang tidak dijalani gadis itu: lima kakak yang ribut, seorang ayah yang belajar mendengar, serta orang-orang yang dapat datang dan pergi tanpa harus kucengkeram agar tetap hidup.
Pagi berikutnya, Fran menungguku di dekat kereta.
Ia memelukku sebelum bertanya apakah aku sudah membawa surat bagi nenek. Aku menunjukkan tempatnya di dalam tas. Setelah itu ia melepaskan tangannya, memperbaiki kerah pakaianku sekali, dan mundur agar aku dapat naik sendiri.
'Kirim kabar ketika sampai,' katanya.
'Aku akan melakukannya.'
Poppy terbang ke sisi jendela. Nove menghitung bekal, Grin memastikan tidak ada barangnya tertinggal, dan Linn memberi tanda bahwa jalan sudah siap. Saat kereta bergerak, aku melihat Fran tetap berdiri di halaman. Kali ini aku dapat meninggalkannya dengan keyakinan bahwa kepulanganku akan menjadi kegembiraan, bukan pembayaran atas hak untuk pergi.