Empat pekan setelah berangkat, aku kembali ke Peranto dengan sepatu kotor dan buku yang tidak lagi kosong.
Grin mengatakan kami seharusnya meminta peti tambahan sebelum berhenti di toko terakhir. Nove mengingatkan bahwa sebagian besar benda di dalam tas tambahannya adalah makanan. Aku memutuskan membiarkan mereka menyelesaikan perdebatan itu tanpa memasukkan dua kantong bahan masakan yang kubeli sebagai hadiah bagi Lily.
Fran menungguku di halaman.
Ia tidak menghitung berapa lama aku membiarkannya menunggu setelah kereta berhenti. Ia memelukku, mendengarkan penjelasanku bahwa kakek dan nenek akan datang beberapa hari lagi, lalu mengambil tas yang hampir terlepas dari bahuku.
Di ruang keluarga, Ash membuka satu mata dan kembali tidur setelah aku duduk cukup dekat.
Luca mengatakan itu sambutan yang sangat baik menurut ukuran suasana hatinya hari ini. Aku mengusap kepalanya dan membiarkan perjalanan berakhir dengan cara yang tenang. Tidak ada laporan ancaman yang harus kubawa sebelum boleh makan.
Pertemuan keluarga diadakan sepekan kemudian.
Aku memilih halaman yang mempunyai tempat teduh dan jalan cukup rata bagi Ash. Para pelayan menyiapkan makanan, kemudian bergantian beristirahat. Lily membawa satu wadah untuk dirinya dan Linn, sementara Mimy duduk bersama mereka setelah memastikan tugas penggantinya telah selesai.
Mith datang ketika meja hampir siap. Ia meletakkan sesuatu yang telah dibungkus kain di samping piringku, lalu melarangku membukanya sebelum makan. Kiel langsung mengatakan larangan itu tidak akan bertahan lama.
'Kau yang selalu membuka hadiah orang lain,' kata Niel.
'Aku membantu memeriksa keamanannya.'
Dego menyuruhnya mulai dari wadah sayur yang belum disentuh. Hana tertawa di sebelahnya, lalu mengambilkan porsi yang membuat alasan Kiel berikutnya semakin sulit dipercaya.
Ia baru pulang dari kunjungan kerja kedua. Setelah makan nanti, ia dan Dego hendak berjalan menemui ayahnya. Aku tahu karena mereka sendiri memberitahuku, bukan karena aku mengirim seseorang mengawasi seberapa dekat mereka duduk.
Carl dan Nymph tiba bersama Nero.
Baron Eradlo berjalan di belakang putrinya sambil membawa kotak kecil yang tidak bersedia diserahkan kepada pelayan. Ketika Nymph menanyakan mengapa ia terlihat lebih gugup daripada orang yang baru menerima lamaran, ia mengatakan kotak itu terlalu mudah terjatuh.
Aku menatap tangan Nymph sebelum menatap wajahnya.
'Kalian belum menceritakannya dalam surat!'
'Kami ingin memberitahumu langsung,' jawabnya.
Carl mengambil tempat di sisinya. Ia tidak menjawab menggantikan Nymph ketika aku menanyakan apa yang telah mereka pilih. Mereka akan menikah pada musim semi berikutnya. Tempat kerja Nymph tetap disediakan sesuai pembicaraan mereka, dan ia sudah mengetahui bagian kehidupan istana yang ingin dijalaninya bersama Carl.
'Aku juga sudah diberi tahu bahwa pekerjaannya tidak selalu selesai ketika waktunya makan,' katanya.
'Aku sedang memperbaiki itu,' sahut Carl.
Nymph menyentuh tangannya di bawah tepi meja. Gerakan kecil itu menjawab lebih banyak daripada janji yang sengaja diucapkan keras agar semua orang menganggap mereka bahagia.
Fran memberi selamat tanpa mengubah percakapan menjadi perjanjian antarkekaisaran. Mith mengangkat gelas, Nero menertawakan wajah saudaranya yang memerah, dan baron akhirnya membuka kotak yang berisi hiasan kecil untuk disimpan putrinya bersama beruang lama di rumah.
Beruang itu masih ada, dengan selimut biru dan jahitan yang tidak seluruhnya seragam. Nymph tidak membuangnya hanya karena kini ia dapat memilih barang yang jauh lebih mahal.
Setelah makan, aku menyerahkan sebuah gelang kepadanya.
Tidak ada mantra yang mengharuskannya tetap menyukai kami. Aku hanya membuat sesuatu dengan ukuran yang tidak lagi kutebak dari tangan seorang anak. Nymph memintaku membantu mengaitkannya, lalu mengangkat pergelangan tangan ketika Poppy mendekat untuk memeriksa.
Aku teringat tiga belas gelang pertama yang kubuat bertahun-tahun lalu.
Beberapa masih disimpan dengan ikatan aslinya, sebagian telah diperbaiki atau disesuaikan. Gelang itu tidak pernah menjadi pengikat yang dapat mencegah orang terluka. Mereka hanya pernah menjadi caraku mengatakan bahwa seseorang mempunyai tempat dalam hidupku, bahkan ketika aku belum pandai mengucapkannya.
Mith membuka lengan bajunya sedikit, memperlihatkan gelang merah yang dirawatnya. Aku tersenyum sebelum akhirnya membuka hadiahnya sendiri.
Di dalam kain terdapat buku catatan baru dengan sampul yang kuat.
'Yang pertama akan segera penuh,' katanya.
Aku memeluknya. Mith mengeluh bahwa aku hampir menyenggol minumannya, tetapi tangannya sudah lebih dahulu menahan punggungku.
Ilvy yang duduk bersama nenek tertawa melihatnya. Cahaya menyentuh Ameryst di pergelangan tangan kiriku ketika aku kembali duduk. Aku tidak memikirkan harga batu itu. Aku mengingat anak-anak yang dahulu saling mengejar karena seekor kelinci merah muda, dan betapa banyak tahun yang akhirnya dapat kami lewati setelahnya.
Menjelang sore, aku memandangi semua orang dari sisi halaman.
Kakek berbicara dengan Fran. Nenek sedang mendengarkan cerita Hana. Linn membiarkan Lily membetulkan letak bukunya, Niel menegur Kiel yang hampir menumpahkan minuman, dan Luca duduk di dekat Ash. Dego menerima bungkusan untuk dibawa kepada ayah Hana tanpa perlu diingatkan dua kali.
Carl menunduk mendengarkan Nymph, sementara Nero menyela sesuatu sampai keduanya tertawa.
Rein tidak berada di antara mereka. Kehilangan itu tetap mempunyai tempat, seperti nama-nama orang yang tidak pulang dari perang. Namun Gorath telah mati, gerbang telah ditutup, dan keselamatan mereka tidak lagi bergantung pada kesediaanku mempercayai tawaran untuk menghidupkan orang yang telah pergi.
'Kau sedang mencari sesuatu?' tanya Poppy.
Aku menggeleng.
Dahulu aku akan menghitung orang-orang itu sambil membayangkan cara mereka mati dalam cerita yang kubaca. Hari ini aku menghitung piring yang masih perlu ditambahkan, kursi yang harus digeser, dan waktu yang tersisa sebelum cahaya sore menghilang dari halaman.
'Qi, kemarilah!' panggil Fran.
Aku bangkit. Seorang pangeran hampir menabrakku karena berusaha menghindari pekerjaan mengangkat wadah terakhir, dan aku memanggil nama Kiel dengan suara yang membuat semua orang menoleh. Tawa menyusul sebelum ia sempat membuat alasan.
Aku melangkah ke tengah mereka, bukan untuk mendahului suatu bencana, bukan pula untuk membayar kesempatan hidup yang pernah kuterima.
Aku pulang karena inilah rumahku. Aku tinggal karena aku ingin. Dan hari ini, bersama orang-orang yang kucintai, aku akhirnya dapat menikmati hidup yang benar-benar menjadi milikku.
TAMAT