Surat Nero datang dua bulan setelah kepulangan kami dari penobatan Carl.
Ia mengabarkan bahwa tawaran kedudukan duke akhirnya diterimanya. Aku membaca bagian itu dua kali, lalu berhenti pada kalimat berikutnya. Ia ingin kami melihat rumah yang akan ditempatinya, terutama apabila Dego dapat datang tanpa membawa seluruh persediaan makanan dari dapur Peranto.
Aku langsung memperlihatkan surat itu kepada Dego.
Ia mengatakan Nero tidak pernah mempunyai bahan pembicaraan yang lebih baik. Namun pada sore harinya, ia sudah menanyakan kapan rombongan kami dapat berangkat.
Kami datang setelah Hana kembali dari pekerjaan pertamanya. Ia membawa kabar tentang saluran yang telah dapat dipakai dan satu gambar tempat yang masih harus diperbaiki sebelum hujan besar. Kami mendengarkannya di kereta sampai Grin tertidur dengan kepala hampir mengenai bahu Nove.
Rumah Nero tidak berada di balik gerbang pengasingan.
Ada jalan menuju pasar, halaman yang belum sepenuhnya rapi, serta tempat kereta barang dapat berbelok tanpa menghalangi orang berjalan. Ia memilih tinggal di sana setelah mengenal daerah tersebut melalui pekerjaan membantu pemulangan warga. Kedudukannya membawa tanggung jawab terhadap wilayah, bukan sekadar gelar yang dapat dituliskan sebelum namanya.
Carl datang sehari setelah kami.
Saudaranya menyambut tanpa upacara panjang. Mereka sempat berdebat tentang sebuah meja yang menurut Carl terlalu dekat jendela, lalu Nero memindahkan kursi agar kami dapat duduk sebelum perdebatan itu menghasilkan undangan makan malam yang terlambat.
Di dekat rak buku terdapat gambar buah blum.
Aku mengenali warna ungunya sebelum Nero sempat mengatakan bahwa Carl yang memberikannya. Bukan gambar yang bagus menurut ukuran seorang pelukis istana. Salah satu buah tampak terlalu besar, dan tangkainya seperti akan tumbang. Namun Nero meletakkannya di tempat yang dapat terlihat setiap kali ia bekerja.
'Ia masih tidak dapat menggambar daun,' katanya.
'Setidaknya sekarang buahnya tidak mengotori wajahmu,' jawabku.
Nero menatap gambar itu sedikit lebih lama.
Ingatan tentang buah blum tidak pernah menjadi sesuatu yang sederhana bagi mereka. Ada tangan seorang anak yang dahulu membuat noda ungu tampak seperti memar, berharap ibunya percaya Carl sudah cukup disakiti dan tidak bertindak lebih jauh. Kini tidak ada lagi yang memerintahkannya melukai Carl agar dirinya sendiri tetap aman.
Gelang buatanku masih disimpannya.
Ukurannya telah disesuaikan, seperti banyak benda yang pernah kuberikan saat kami kecil. Nero mengangkat pergelangan tangannya sebentar, lalu mengembalikan lengan baju ketika pelayan datang membawa teh.
Pada malam kedua, ia mengajakku berbicara di teras.
Lampu di dekat pintu telah dinyalakan. Dari dalam terdengar Dego menertawakan sesuatu yang dikatakan Carl, sementara Hana berusaha menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud membuat keduanya tersinggung dengan penilaiannya tentang cara membawa ember.
'Aku pernah mengira menjadi duke berarti akhirnya diminta pergi,' kata Nero.
Aku menunggu kelanjutannya tanpa mengutip kisah yang dahulu kubaca.
'Carl tahu itu. Sebelum menawarkan tempat ini, ia memintaku datang melihat daerahnya tanpa keputusan apa pun. Kami berbicara lagi setelah aku pulang ke istana.'
'Kau dapat menolak?'
'Aku menolak tawaran pertamanya.'
Nero tersenyum melihat wajahku.
'Bukan karena tempatnya buruk. Aku belum tahu apakah aku ingin menetap di sana. Kali ini aku tahu.'
Ia ingin memperbaiki tempat persinggahan di jalur yang pernah dipakai warga menyelamatkan diri. Ia telah bekerja bersama petugas yang mengenal keadaan setempat dan mengetahui berapa banyak keputusan yang belum dapat diambil hanya dari meja istana. Rumah ini dekat dengan pekerjaan yang ingin diteruskannya, serta masih dapat dijangkau keluarganya tanpa meminta izin untuk keluar dari pembuangan.
Pintu di belakang kami terbuka. Carl membawa tambahan kain karena udara mulai dingin, lalu duduk setelah Nero memberinya ruang.
Untuk beberapa saat, mereka mendengarkan suara di halaman.
'Orang masih akan mengingat ibuku,' kata Nero.
Carl tidak membantah hanya agar percakapan itu segera terasa nyaman.
'Aku pun mengingat ibuku,' jawabnya.
Keduanya memandang ke arah berbeda. Aku merasakan betapa banyak hal yang tidak dapat diselesaikan dengan meminta mereka saling memeluk di hadapanku.
Ibu Nero telah dihukum atas perbuatannya. Ibu Carl tidak dapat menerima permintaan maaf atau melihat putranya tumbuh dewasa. Kesedihan yang satu tidak menghapus kejahatan yang lain, dan Nero tidak perlu berhenti menyebut kehilangan hanya karena ia mengetahui ibunya bersalah.
'Aku tidak meminta kau melupakannya,' kata Nero akhirnya.
'Aku tahu.'
Carl menarik kain ke dekat saudaranya, lalu menanyakan apakah ruang yang biasa dipakainya ketika berkunjung mempunyai kasur yang lebih baik daripada kursi ini.
Nero mendengus. Percakapan kembali bergerak setelah jeda yang mereka perlukan, tanpa kesepakatan untuk berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi.
Pagi berikutnya, kami ikut berjalan menuju tempat persinggahan yang sedang diperbaiki.
Seorang perempuan menghentikan Nero untuk mengatakan atap bagian samping masih menetes setelah hujan. Ia menunjukkannya sendiri, menunggu sampai petugas memastikan bagian yang dimaksud, lalu meminta Nero melihat barang yang basah. Ia tidak berterima kasih lebih dahulu agar keluhannya boleh disampaikan.
Nero masuk memeriksa bersama mereka. Carl menunggu di halaman dan tidak mengambil alih pekerjaan saudaranya hanya karena ia mengenakan gelar yang lebih tinggi.
Hana berbicara dengan pekerja saluran, sementara Dego mengangkat keranjang yang menghalangi pintu. Aku membantu seorang anak menemukan sandal di bawah bangku. Tidak semua hal hari itu membutuhkan kekuatan langka atau keputusan besar.
Saat kami hendak pulang, Nero mengembalikan saputangan yang kupinjamkan pada malam sebelumnya.
'Kau boleh datang lagi tanpa menunggu undangan resmi,' katanya.
Carl yang berdiri di sebelahnya segera bertanya apakah aturan itu berlaku untuk dirinya juga. Nero mengatakan ia harus memberitahu dapur jika ingin makan, lalu menambahkan bahwa pintunya tidak akan ditutup.
Aku menaiki kereta dengan perasaan ringan. Dalam ingatanku dahulu, sebuah gelar pernah menjadi awal perpisahan dua saudara. Di rumah ini, gelar yang sama membuka tempat bagi mereka untuk tetap saling mengunjungi. Nero melambaikan tangan dari halaman yang dipilihnya, dan tidak seorang pun perlu menyebut keberangkatannya sebagai hukuman yang pantas ia terima.