Sepulang dari Terium, Hana tidak kembali menempati kamar lamanya di istana.
Ia membawa peti kecil ke rumah ayahnya, lalu datang keesokan hari untuk mengatakan bahwa ia telah menerima pekerjaan di salah satu daerah yang sedang memulihkan saluran air. Usianya dua puluh tahun. Masa belajar di Listo telah memberinya kemampuan yang dahulu bahkan tidak berani ia bayangkan ketika berdiri di dekatku dengan sepatu yang tidak nyaman.
Aku memeluknya sebelum menanyakan apa pun.
Di samping peti terletak sepasang sepatu baru dengan bagian bawah yang tebal. Hana membelinya dari uang pekerjaan sebelumnya. Ia mengangkat satu untuk memperlihatkan jahitan yang menurut pembuatnya lebih tahan air, lalu mengaku sudah mencobanya dengan menginjak kubangan di belakang rumah.
'Ayah mengira aku terjatuh,' katanya. 'Ia menyuruh orang mengambilkan kain sebelum tahu aku melakukannya dengan sengaja.'
Aku tertawa sambil memeriksa pengaitnya. Dahulu aku ingin memberinya banyak benda bagus agar ia tidak perlu takut lagi. Sekarang ia mengetahui sendiri apa yang dibutuhkan untuk tempat yang hendak didatanginya, dan dapat memilih benda yang akan menemaninya bekerja.
'Kau akan sering pergi?'
'Beberapa pekan untuk pekerjaan pertama. Setelah itu bergantung pada keadaan di tempatnya.'
'Kalau begitu, aku harus belajar mengundangmu jauh sebelum hari kunjungan.'
Hana tertawa dan mengangguk. Ia tidak meminta maaf karena mempunyai jadwal yang tidak dapat mengikuti keinginanku setiap saat. Aku bangga kepadanya, meskipun sebagian diriku akan merindukan kebiasaan membuka pintu lalu menemukannya sudah berada di sana.
Dego datang ketika kami sedang memeriksa ikatan petinya.
Kakakku kini berusia dua puluh tiga tahun, tetapi wajahnya masih mudah memperlihatkan bahwa ia ingin menanyakan sesuatu dan sedang mencari cara agar pertanyaannya tidak terdengar penting.
'Daerah mana?' katanya.
Hana menyebutkan tempat yang telah dipilihnya. Dego mengenal saluran utamanya, lalu berjongkok di samping gambar yang dibentangkan di lantai. Ia menunjuk satu belokan tempat air biasanya berkumpul setelah hujan.
'Aku pernah membantu di sana sebelum musim dingin. Tanah di sebelahnya mudah turun.'
'Itu sebabnya mereka meminta pemeriksaan sebelum menambah aliran,' jawab Hana.
Mereka berbicara beberapa saat tanpa menyisakan pekerjaan bagiku selain memindahkan cangkir agar tidak mengenai gambar. Kali ini aku tidak merasa perlu menyela hanya untuk membuktikan bahwa aku masih menjadi alasan mereka berkumpul.
Sore berikutnya, aku mengunjungi ayah Hana bersama Dego.
Baron Veienet menyambut kami di teras, lalu duduk kembali setelah berjalan cukup lama dari halaman. Kesehatannya jauh lebih baik daripada dahulu. Namun ia tetap berhenti ketika napas mulai pendek, dan Hana tidak membiarkannya mengubah kunjungan kami menjadi alasan memaksakan diri.
Ia menunjukkan tanaman yang telah dirawatnya sendiri.
'Yang itu bertahan karena tukang kebun datang saat saya hampir terlalu banyak menyiramnya,' katanya, menunjuk pot dekat kursi.
'Ayah menyebutnya belajar,' sela Hana.
'Memang belajar. Saya sekarang tahu bahwa tidak semua tanaman ingin hidup di dalam kolam.'
Dego tertawa lebih dulu. Aku melihat Hana memandang keduanya, lalu menunduk menyembunyikan senyum.
Di atas meja tersedia makanan yang tidak dibuat untuk menjamu seluruh rombongan istana. Kami makan sambil mendengarkan Hana menceritakan pekerjaannya. Ia telah menghitung biaya perjalanan, menerima penjelasan tentang upah, dan mengetahui kepada siapa harus bertanya jika bahan yang disediakan berbeda dari yang dijanjikan.
Ayahnya menanyakan semua itu dengan serius. Ia tidak mengatakan seorang putri kekaisaran pasti dapat menyelesaikan apa pun yang kurang.
Ketika Hana meninggalkan meja untuk mengambil air, baron menatapku.
'Dahulu saya takut ia tidak akan pernah dapat memilih hidupnya sendiri,' katanya.
Aku mengingat dua batu permata dari sepatuku dan tangan kecil yang menggenggam hadiah tanpa mengetahui apakah ia boleh mempercayainya.
'Ia tidak harus menghabiskan hidup untuk membayar pertolongan itu kepadaku,' jawabku.
Baron mengangguk pelan. Saat Hana kembali, ia memintanya duduk dan meneruskan makan. Tidak ada janji untuk menyerahkan putrinya kembali ke istana setelah pekerjaannya selesai.
Beberapa hari kemudian, Dego meminta izin berbicara dengan Hana setelah latihan.
Aku sedang mengembalikan buku di ruangan sebelah. Mendengar namaku disebut, aku hampir membuka pintu, lalu berhenti ketika menyadari mereka tidak sedang membutuhkan bantuanku.
'Aku ingin mengunjungimu di rumah,' kata Dego. 'Dengan maksud yang berbeda dari memeriksa pekerjaan saluran.'
Hana terdiam cukup lama sampai aku dapat mendengar gesekan kaki kursi.
'Aku tidak akan membatalkan pekerjaanku,' katanya.
'Aku tidak memintamu melakukannya.'
'Dan aku tidak akan selalu dapat menjawab surat pada hari suratnya datang.'
'Aku pun tidak selalu berada di istana.'
Hana tertawa kecil. Aku akhirnya menutup kembali buku di tanganku dan pergi melalui lorong lain. Ada percakapan yang sebaiknya tidak mempunyai seorang putri bersembunyi di belakang pintu sebagai pendengar tambahan.
Hana sendiri menceritakan jawabannya kepadaku pada hari keberangkatan.
Ia setuju menerima kunjungan Dego ketika kembali. Mereka akan mengenal satu sama lain dengan kesadaran bahwa kedekatan sejak kecil tidak otomatis menjawab semua pertanyaan tentang masa depan. Ia mengatakannya sambil tersenyum, lalu memintaku tidak membiarkan Kiel menjadikan hal itu bahan pertunjukan selama makan malam.
'Aku dapat mencoba,' kataku.
'Itu bukan jawaban yang menenangkan.'
'Kau mengenal Kiel.'
Ayah Hana mengantar sampai kereta, dengan seorang pelayan membawa kursi agar ia tidak harus berdiri terlalu lama. Dego menyerahkan sarung tangan yang tertinggal di ruang latihan. Ia tidak naik ke dalam kereta dan mengambil tempat yang seharusnya dipakai rekan perjalanan Hana.
Aku menggenggam tangannya sebentar sebelum ia berangkat.
Pita biru yang pernah kuberikan masih dipakainya untuk mengikat rambut. Warnanya mulai pudar setelah sering dicuci. Hana menyadari tatapanku dan mengatakan ia mempunyai pita lain untuk bekerja di tempat berlumpur.
'Yang ini untuk pulang,' katanya.
Kereta bergerak meninggalkan halaman. Dego berdiri di sampingku sampai suara rodanya menjauh, kemudian memungut gambar saluran yang ditinggalkan Hana untuk diperiksa bersama petugas berikutnya.
Aku tidak kehilangan sahabat hari itu. Aku melihatnya berangkat dengan pekerjaan yang dipilih, ayah yang menunggu kepulangannya, dan seseorang yang ingin mengenalnya tanpa meminta ia berhenti menjadi dirinya sendiri. Untuk kebahagiaan seperti itu, aku tidak perlu menahannya tetap berada di dekat pintuku.