Aku menemukan Nymph di lorong belakang aula ketika para tamu masih sibuk memilih hidangan.
Ia sedang memegang dua potong kue. Melihatku datang, ia langsung memberikan salah satunya sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku hanya mencari tempat yang tidak terlalu ramai.
'Ayah sedang menceritakan masa kecilku kepada tiga orang yang baru ditemuinya,' katanya.
'Bagian beruang itu?'
'Bagian aku marah karena selimutnya dicuci.'
Aku tertawa. Nymph merapikan ujung lengan bajunya, lalu mengangkat piring ke dekat wajah agar tidak terlihat sedang ikut tersenyum.
Dari pintu yang terbuka, kami masih dapat melihat baron berbicara dengan Fran. Ayah Nymph tidak lagi berdiri di dekat dinding sambil menunggu seseorang menanyakan asal-usul anaknya dengan nada menghina. Usaha dagangnya telah kembali mempunyai pelanggan yang datang karena menyukai pekerjaannya, dan putrinya boleh berjalan memasuki ruangan tanpa harus lebih dahulu membuktikan bahwa ia pantas berada di sana.
'Kain pesanan nenekmu sudah sampai sebelum kami berangkat,' katanya. 'Ayah memeriksa sudut lipatannya sampai aku menyuruhnya tidur.'
'Nenek akan menyukai kalau ia tetap menyisakan waktu beristirahat.'
'Aku sudah menyampaikan itu. Ayah bilang nasihat tersebut sebaiknya ditulis dengan cap Hannes supaya ia tidak berani membantah.'
Kami makan kue dalam keheningan yang nyaman. Di luar lorong, pelayan membawa bunga yang layu untuk diganti. Tidak ada upacara yang harus kami saksikan selama beberapa menit berikutnya.
Nymph memandangku setelah meletakkan piring.
'Carl mengajakku berjalan besok. Hanya kami, dengan pengawal menjaga dari tempat yang tidak mengganggu.'
'Kau ingin pergi?'
Ia mengangguk, lalu mengembuskan napas seperti baru saja mengakui sesuatu yang lebih besar daripada perjalanan melewati taman.
'Aku tidak ingin jawaban itu muncul karena kau pernah menceritakan masa depan kami.'
Tanganku berhenti di dekat ujung piring.
Aku ingat ketika pertama kali melihatnya, masih begitu kecil di dekat ayah yang membawa kecemasan lebih berat daripada barang dagangan. Saat itu aku sudah mempunyai nama untuk tempatnya dalam kehidupan Carl. Aku tahu sifat rambutnya, kekuatannya, dan penderitaan yang menurutku harus dicegah.
Yang tidak pernah diberikan Mask kepadaku adalah hak untuk menentukan kepada siapa ia harus menyerahkan hatinya.
'Kalian tidak wajib jatuh cinta,' kataku. 'Bahkan jika aku dahulu terlalu yakin kalian akan begitu.'
'Aku tahu.'
Nymph menunduk melihat jemarinya, kemudian tersenyum dengan sedikit malu.
'Aku menyukai caranya memperhatikan orang yang sedang berbicara. Ia kadang terlalu lama memikirkan jawaban sampai aku mengira pertanyaanku tidak terdengar. Lalu beberapa hari setelahnya ia datang membawa sesuatu yang menunjukkan ia mengingat semuanya.'
Ia menceritakan sepucuk surat tentang ruang kerja bagi para pengajar. Carl pernah menawari ruang yang indah, tetapi Nymph mengatakan jendelanya terlalu dekat jalan ramai untuk spirit yang sulit memusatkan perhatian. Ia tidak meminta seluruh sayap istana diubah. Namun ketika kembali beberapa bulan kemudian, ia mendapati pilihan tempat lain yang dapat ditolaknya jika masih tidak cocok.
'Ia juga menjengkelkan ketika kalah permainan,' tambahnya.
'Itu terdengar lebih meyakinkan daripada seluruh pujianmu tadi.'
Nymph menepuk lenganku pelan.
Pagi berikutnya, aku tidak berjalan di belakang mereka untuk memastikan percakapan berlangsung seperti yang kuharapkan. Aku menemani Hana membeli sesuatu bagi ayahnya. Dari kejauhan, aku sempat melihat Carl dan Nymph berhenti dekat kolam, lalu berpaling kembali ketika Hana menanyakan warna kain yang lebih sesuai.
Hidup mereka tetap berlangsung meskipun aku tidak mengawasinya.
Menjelang sore, Carl mencariku di ruang tempat rombongan Peranto beristirahat. Ia tidak membawa kabar yang harus disampaikan kepada Mith, dan ia tampak sedikit kesal ketika Kiel sengaja bergerak terlalu lambat saat meninggalkan pintu.
'Kau tidak perlu melapor kepadaku,' kataku sebelum ia duduk.
'Aku tidak sedang meminta izinmu.'
'Bagus.'
Carl tertawa, kemudian menatap tangannya.
'Aku takut ia merasa harus tetap dekat agar aku tidak kehilangan kendali.'
Aku membiarkannya menyelesaikan kalimatnya sendiri.
'Jadi aku mengatakan jadwal pengajar dan latihan akan tetap berjalan seperti biasa. Ia tidak harus menjadi orang yang selalu berdiri paling dekat denganku.'
'Lalu?'
'Ia mengatakan aku akan sangat membosankan kalau terus-menerus menjelaskan mengapa ia boleh pergi, padahal ia sedang mencoba mengatakan bahwa ia ingin tinggal lebih lama sore itu.'
Kali ini aku tidak berhasil menahan tawa.
Carl ikut tertawa setelah beberapa saat. Wajahnya memerah sedikit, dan aku merasa lega melihat ada sesuatu yang membuatnya gugup tanpa menempatkan siapa pun dalam bahaya.
Mereka belum menetapkan perkawinan hanya karena aula penuh orang yang senang melihat keduanya berdiri berdekatan. Nymph ingin meneruskan pekerjaannya bersama pengajar dan kuil. Carl harus belajar menjalani kedudukannya yang baru. Mereka memutuskan saling berkunjung serta berbicara lebih banyak sebelum meminta keluarga membicarakan hal berikutnya.
'Aku juga harus belajar menunggu ceritanya sampai selesai,' kata Carl. 'Kadang aku terlalu cepat menawarkan cara mengatasi sesuatu, padahal ia hanya ingin didengar.'
Aku menatapnya sambil mengingat bahwa kesalahan yang sama pernah kulakukan kepada mereka berdua.
'Kalau kau lupa, ia tampaknya tidak akan kesulitan mengingatkanmu.'
'Ia sudah melakukannya tadi pagi.'
Ia mengatakannya dengan senyum yang tidak perlu kubantu tumbuhkan. Aku membiarkan percakapan berhenti di sana.
Malam terakhir kami di Terium, Nymph duduk di samping Carl ketika makan bersama.
Ia berbeda pendapat tentang sebuah rencana kunjungan yang terlalu padat. Carl membantah satu bagian, lalu mendengarkan penjelasannya sampai selesai. Ketika pembicaraan beralih pada hal lain, ia memindahkan wadah buah ke dekat Nymph tanpa menjadikan gerakan itu pengumuman bagi seluruh meja.
Baron melihatnya. Ia kembali mengeluarkan saputangan, dan Nymph segera mengingatkan bahwa udara di ruangan itu tidak berdebu.
Aku menyimpan pemandangan itu dalam ingatanku tanpa mencoba menamainya sebagai adegan dari sebuah buku.
Saat kereta kami meninggalkan Terium, dua orang itu berdiri berdampingan untuk melambaikan tangan. Poppy menggeser tubuhnya di bahuku. Aku tidak bertanya apakah masa depan mereka akhirnya telah kembali ke jalur yang benar. Mereka sudah mempunyai jalan yang mereka pilih sendiri, dan untuk pertama kalinya aku dapat merasa bahagia tanpa perlu mengetahui setiap langkah setelahnya.