Saat usiaku genap delapan belas tahun, undangan dari Terium datang tanpa satu pun perintah untuk membawa contoh tanah.
Carl menulis bahwa ia ingin kami datang sebagai sahabat. Di bawah tulisan yang rapi itu, Nero menambahkan pesan agar Dego tidak menghabiskan kue selama perjalanan. Aku tidak tahu sejak kapan urusan bekal menjadi pembicaraan antara mereka, tetapi Dego langsung menyebutnya tuduhan yang tidak berdasar.
Lily mengangkat alis ketika mendengar pembelaannya.
'Bekal perjalanan terakhir memang habis sebelum kita melewati perbatasan,' katanya.
'Itu juga dimakan Kiel.'
Kiel sudah meninggalkan ruangan sebelum namanya selesai disebut.
Kami berangkat bersama rombongan yang mempunyai tugas menghadiri penobatan. Mith datang sebagai kaisar Peranto, sementara Fran memilih berada di dekatku selama perjalanan. Linn yang telah kembali bekerja membagi pengawalan dengan petugas lain. Bekas lukanya masih sesekali terasa ketika perjalanan terlalu panjang, dan kali ini ia berhenti sebelum Lily harus menyuruhnya.
Aku menyaksikan hal kecil itu dengan lega.
Ada masa ketika aku mengira menyelamatkan seseorang berarti memastikan ia tidak pernah berubah. Sekarang aku lebih menyukai kenyataan bahwa Linn dapat merasa lelah, mengatakannya, lalu tetap berada bersama orang-orang yang mencintainya.
Di Terium, Carl menemui kami setelah rapat terakhirnya dengan para pejabat.
Ia berusia delapan belas tahun lebih tiga bulan. Bahunya telah lebih tegap daripada anak yang dahulu mencengkeram pakaian di depan ruang pemeriksaan Niel, tetapi cara ia mengetuk pintu tetap membuatku mengenalinya sebelum melihat wajahnya.
'Kau masih boleh mengatakan tidak,' kataku ketika kami mendapat waktu berbicara di taman.
Carl menatap pintu tempat para pengawal menunggu.
'Ayah sudah menanyakan itu berkali-kali.'
'Dan jawabanmu?'
'Aku ingin melakukannya. Aku hanya tidak ingin berpura-pura tidak takut.'
Aku duduk di bangku yang ditunjukkannya. Nero sedang mengantar Hana menemui petugas yang mengurus jalur air istana. Nymph akan datang bersama baron setelah menyelesaikan pekerjaannya di kuil. Tidak seorang pun sengaja mengosongkan taman agar aku dapat memberikan keputusan atas hidup Carl.
Ia hanya ingin bercerita.
Ayahnya telah membicarakan penyerahan kedudukan itu sejak perang berakhir. Carl menolak pengumuman yang terlalu cepat, kemudian meminta mengikuti pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya. Ia mendengarkan perkara yang selama ini hanya hadir sebagai berkas di dekat meja makan. Ada petani yang kehilangan ladang, pegawai yang belum dibayar, dan orang yang tidak percaya keluhannya akan sampai kepada siapa pun.
'Aku pernah menjadi orang yang menunggu pintu dibuka,' katanya. 'Itu tidak otomatis membuatku tahu cara memperbaiki semuanya.'
'Tapi kau mau mendengar ketika orang lain mengatakan caramu salah.'
Carl tertawa singkat.
'Kemarin aku tidak terlihat sebaik itu. Aku marah ketika rencana yang sudah kubaca tiga malam dikembalikan.'
'Kau membakar ruang rapat?'
'Aku meminta waktu berjalan ke halaman.'
Ia mengucapkannya dengan wajah begitu serius sampai aku ikut tertawa. Bencana tetap menjadi bagian kekuatannya. Namun tidak setiap kemarahan harus dibawa mendekati batasnya, dan tidak setiap pekerjaan yang sulit membutuhkan jawaban dari kekuatan itu.
Ayah Carl mendatangi taman menjelang senja.
Aku bangkit hendak memberi ruang, tetapi Carl memintaku tetap duduk. Ada sesuatu yang ingin ia katakan di hadapan orang yang dahulu mengetahui betapa buruk keadaan di rumahnya.
'Setelah besok, aku tidak ingin orang-orang masih menunggu perintah Ayah ketika aku sudah memberikan keputusan,' katanya.
Ayahnya menerima permintaan itu tanpa segera menjawab dengan alasan tentang pengalamannya sendiri.
'Aku akan meninggalkan ruang kerja utama,' katanya kemudian. 'Jika kau memintaku meninjau suatu perkara, aku akan melakukannya sebagai penasihat. Orang-orang harus mengetahui kepada siapa mereka bertanggung jawab.'
Carl mengangguk, tetapi tangannya belum terlepas dari tepi bangku.
'Itu tidak menghapus yang dahulu terjadi.'
'Aku tahu.'
'Aku tidak ingin besok dipakai untuk mengatakan keluarga kita tidak pernah mempunyai kesalahan.'
Untuk beberapa saat, hanya suara daun yang terdengar.
Ayahnya memandang kedua tangan yang diletakkan di pangkuan. Ketika ia kembali berbicara, ia tidak meminta Carl mengingat semua hal baik sebagai pengganti masa kecil yang telah terlewat.
'Aku tidak dapat mengambil kembali tahun-tahun itu. Aku dapat berhenti meminta orang lain menutupinya untukku.'
Carl tidak memeluknya saat itu. Percakapan mereka selesai dengan kesediaan duduk sedikit lebih lama, dan aku membiarkan bentuk kedekatan itu menjadi milik mereka sendiri.
Keesokan paginya, Nymph tiba dengan ayahnya.
Usianya kini delapan belas tahun. Ia mengenakan pakaian yang dipilihnya sendiri, dengan rambut perak yang tidak lagi selalu disembunyikan di belakang bahu. Baron membawa saputangan cadangan karena mengaku udara di aula terlalu berdebu. Nymph melihatnya sebelum aku sempat menjawab.
'Ayah menangis bahkan sebelum kami berangkat,' bisiknya.
Upacara berlangsung di hadapan para pejabat, tamu, dan wakil rakyat yang diundang dari berbagai daerah. Ketika mahkota diserahkan, Carl tidak berdiri sendirian di antara bayangan musuh yang belum pernah memberinya pilihan. Ayahnya hidup. Nero berada di sisinya. Orang-orang yang pernah menjadi sasarannya dalam cerita lama hadir dengan pekerjaan dan kesalahan yang telah mereka akui sendiri.
Carl mengucapkan janji tanpa menyebut Bencana sebagai alasan mengapa Terium harus mematuhinya.
Ia berbicara tentang keselamatan orang yang tidak memiliki jalan langsung menuju istana. Aku melihat Mith mendengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu berdiri saat para hadirin memberikan penghormatan kepada kaisar yang baru.
Mith menundukkan kepala dengan tenang. Kakakku yang dahulu menakuti Carl dengan api tidak berusaha menjadikan kedekatan kami sebagai alasan mendapat perlakuan khusus. Ketika Carl meneruskan langkah untuk menyambut tamu berikutnya, Mith memberi jalan tanpa menahan tangannya agar pertemuan itu tampak lebih akrab.
Setelah upacara, seorang pelayan menjatuhkan sendok di dekat meja minuman.
Carl menoleh karena bunyinya, kemudian membantu mengangkat nampan yang miring. Tidak ada seorang pun ditarik keluar untuk menerima hukuman. Percakapan berlanjut, dan pelayan itu akhirnya dapat menarik napas.
Aku memandang pemandangan sederhana tersebut lebih lama daripada mahkota di kepalanya.
Carl menangkap tatapanku dan mengangkat gelas sedikit. Aku membalasnya. Masa depan yang kutakuti dahulu tidak sedang menunggu di belakang pintu aula. Di hadapanku ada seseorang yang telah memilih pekerjaannya, masih dapat merasa takut, dan mengetahui bahwa ia boleh meminta bantuan tanpa kehilangan hak untuk memimpin hidupnya sendiri.