Beberapa hari setelah ulang tahunku, kami mendatangi makam Rein.
Kakek dan Nenek masih tinggal di Peranto. Kelima kakakku mengatur waktu bersama Fran, sementara pengawal menunggu pada jarak yang tidak membuat seluruh jalan terasa seperti persiapan menyambut musuh. Aku membawa bunga putih yang kupilih sendiri dari kebun.
Linn dan Lily datang kemudian dengan langkah lebih lambat. Sebuah bangku disiapkan sebelum ia perlu duduk. Tidak ada yang menyebutnya lemah karena tidak memaksakan diri berdiri sepanjang kunjungan.
Aku meletakkan bunga di depan nama ibuku.
Rein Sin Hannes.
Dulu nama itu lebih sering datang kepadaku sebagai bagian penjelasan tentang mengapa aku masih hidup. Seorang ibu yang menyelamatkan anaknya, luka yang tidak dapat disembuhkan tepat waktu, dan orang-orang yang kehilangan seseorang ketika aku bahkan belum dapat memanggil mereka.
Kini aku sudah mengenal lebih banyak bagian dirinya.
Gadis yang membuat keluarganya mencari sepatu hilang. Perempuan yang memiliki kebiasaan sendiri di taman. Seseorang yang tidak hidup hanya untuk meninggalkan kisah pengorbanan bagi seorang putri yang datang sesudahnya.
Fran berdiri di sampingku dengan tangan terbuka pada sisinya.
Ia tidak membawa zirah Gorath atau tanda kemenangan untuk diletakkan di makam. Kabar kematian orang yang menyerang Rein telah dipastikan, tetapi benda itu tidak dapat menggantikan kehidupan yang seharusnya mereka jalani bersama.
'Dia sudah tidak dapat melukai siapa pun lagi,' kata Fran pelan.
Aku tidak tahu apakah ia berbicara kepadaku atau kepada orang yang namanya dipandang. Aku membiarkannya menyelesaikan kalimat tanpa menambahkan sesuatu yang seharusnya membuatnya segera merasa lega.
Mith menaruh satu bunga di samping punyaku.
'Aku ingat Ibu membetulkan rambutku sebelum menerima tamu,' katanya. 'Aku selalu menggerutu karena ingin segera pergi.'
Luca tertawa kecil. 'Kau masih menggerutu kalau terlalu lama menunggu.'
'Sekarang ada alasan yang lebih baik.'
'Menurutmu.'
Aku tersenyum. Mereka dapat mengingat Rein tanpa membuat ruangan di sekelilingnya terlalu suci untuk sebuah lelucon kecil. Ibuku pernah hidup bersama lima anak yang merepotkan. Barangkali ia juga membutuhkan kesempatan menertawakan mereka.
Luca mengingat hari ketika ia membawa Ash terlalu dekat dengan barang-barang di dalam istana. Panther itu masih jauh lebih kecil daripada yang kukenal, tetapi sudah cukup besar untuk membuat orang terkejut. Rein menyuruhnya memikirkan tempat Ash dapat beristirahat tanpa membuat orang lain takut melewati pintu.
'Aku mengira itu berarti ia tidak menyukai Ash,' kata Luca. 'Padahal ia hanya memintaku bertanggung jawab atas apa yang kubawa pulang.'
Aku memandang tangannya. Tangan yang kini memilih membiarkan Ash tinggal di paviliun, meskipun seekor hewan yang setia tidak akan menolak bila diminta mengikuti tuannya lagi.
Niel menunduk lama sebelum berbicara.
'Ada bagian yang masih membuatku berpikir aku seharusnya dapat melakukan lebih banyak.'
Nenek menyentuh lengannya. Ia tidak meminta Niel mengingat betapa hebat kemampuan penyembuhannya agar kesedihan itu terdengar tidak masuk akal. Ia mengingatkan bahwa Niel masih anak ketika Rein meninggal, dan tidak ada anak yang patut menerima tanggung jawab atas seluruh luka yang tidak dapat ditutup orang dewasa.
Aku berdiri lebih dekat kepada kakakku.
Selama bertahun-tahun aku meminta Niel berada pada begitu banyak tempat. Menolong Hana, merawat orang yang terluka, memastikan sesuatu yang kutakuti tidak menjadi kematian. Aku tidak selalu memikirkan apa yang dibawanya sendiri ketika mendengar sebuah panggilan.
'Kakak juga boleh beristirahat,' kataku.
Ia menoleh, kemudian mengangguk. 'Kau juga.'
Kiel mengingat suara Rein ketika bercerita sebelum tidur. Ia tidak lagi ingat setiap kalimatnya. Ia hanya mengingat bagaimana rasanya menunggu lanjutan sambil berusaha tidak terlihat mengantuk. Dego langsung membantah bahwa ia yang paling cepat tertidur.
'Aku tidak bilang siapa-siapa,' ujar Kiel.
'Wajahmu bilang.'
Kami tertawa, dan kali ini Fran ikut tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari nama istrinya.
Kakek duduk di dekat bangku Linn. Ia mengatakan ada banyak hari ketika kehilangan tidak terasa seperti sesuatu yang sudah selesai, meskipun orang lain menganggap cukup banyak tahun telah lewat. Namun ia senang dapat mengenal cucu-cucunya tanpa terus-menerus meminta mereka hidup sebagai pengganti putrinya.
Ia juga ingat Rein sering mengambil potongan roti sebelum makan dimulai. Mith langsung memandang bekalnya sendiri, membuat kami kembali tertawa.
Aku memegang jemari Nenek ketika ia mengeluarkan salinan gambar Rein yang lebih muda.
Gambar itu tidak ditinggalkan di luar agar rusak oleh hujan. Nenek hanya memperlihatkannya sekali lagi, lalu meminta kami membawanya kembali untuk disimpan bersama cerita-cerita yang belum sempat dibagikannya. Aku mengangguk dan menawarkan membantu menyalin tulisan di belakangnya.
Ketika yang lain mulai bergerak menuju tempat istirahat, aku tinggal bersama Fran sebentar.
'Aku pernah mengira semua orang akan lebih bahagia kalau Ibu tetap hidup dan aku tidak datang,' kataku.
Fran memegang tanganku, tetapi tidak segera menyela.
'Sekarang?'
Aku memandang bunga di depan nisan. 'Sekarang aku masih ingin Ibu hidup. Tapi itu bukan berarti aku harus menghilang.'
Ayah menarik napas yang panjang dan tidak rata. Ia membungkuk sedikit agar dahinya dapat menyentuh dahiku, seperti ketika aku masih kecil dan ia belum tahu cara menunjukkan kasih sayang tanpa membuat semua orang lain takut.
'Tidak pernah berarti begitu,' katanya.
Aku tidak meminta kata-kata itu menghapus seluruh hari ketika kami saling menyakiti karena ketakutan. Aku hanya menyimpannya sebagai sesuatu yang harus tetap terlihat pada pilihan yang dibuat sesudahnya.
Sebelum pulang, aku mengucapkan terima kasih kepada Rein dengan caraku sendiri.
Bukan janji akan menjadi putri paling berguna atau membersihkan setiap tanah yang rusak. Aku ingin hidup, belajar, dan membiarkan orang-orang yang mencintaiku juga memiliki kehidupan mereka. Jika ada bagian kasih sayangnya yang dapat kuteruskan, aku ingin bagian itu memberi ruang bagi orang untuk bernapas.
Di jalan kembali, Dego mengeluh lapar. Mith mengatakan kami baru saja makan sebelum berangkat, lalu ikut bertanya apakah bekal di kereta masih ada. Aku berjalan di antara suara mereka dan membiarkan nama ibuku mengikuti kami pulang sebagai bagian keluarga, bukan utang yang harus kubayar sampai tidak ada tempat bagi diriku sendiri.