Kami tidak pulang dalam satu rombongan besar.
Sebagian tetap di perbatasan untuk membantu pengamanan dan pemulihan. Mereka yang masih memerlukan perawatan menunggu sampai perjalanan tidak membuat keadaan memburuk. Aku kembali beberapa pekan setelah gerbang ditutup, bersama rombongan yang membawa orang serta perlengkapan menuju ibu kota.
Linn berangkat kemudian bersama Lily, setelah para penyembuh mengizinkan. Niel menemaninya dan tetap mengatur pergantian petugas agar orang lain yang dirawat tidak kehilangan bantuan hanya karena keluarga kami ingin segera berkumpul.
Fran menunggu ketika keretaku berhenti.
Ia tidak mengangkatku dari tempat duduk seperti saat aku masih lima tahun. Ia berdiri di depan pintu, melihatku turun dengan kedua kaki sendiri, kemudian memelukku begitu erat sampai aku harus mengingatkan bahwa lenganku masih ada di antara tubuh kami.
'Ayah.'
'Sebentar.'
Aku membiarkannya. Di balik bahunya, istana masih berdiri. Lorong yang dulu terlalu sering dipenuhi teriakan para pangeran belum menjadi reruntuhan dalam ingatanku. Orang-orang berjalan membawa pakaian, makanan, dan kabar yang tidak semuanya baik, tetapi mereka masih dapat melewati pintu rumahnya.
Aku memejamkan mata dan mendengarkan napas Fran.
Ash menyambutku dari tempat teduh di dekat paviliun. Ia tidak berlari. Aku mendatanginya sendiri, duduk di tanah, lalu membiarkan kepala besarnya menekan paha seolah aku terlambat pulang hanya karena tidak memahami pentingnya jam tidur seekor panther.
'Aku merindukanmu juga,' kataku.
Ia mengeluh karena tanganku berhenti menggaruk. Aku menuruti permintaan itu sampai seorang pelayan datang mengingatkan makanan di meja akan dingin.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih lambat.
Aku masih bangun ketika mendengar pintu terbentur keras. Kadang tanganku bergerak sebelum aku menyadari tidak ada serpihan yang harus ditahan. Grin menungguku memeriksa ruangan, lalu membuka tirai dan mengajakku sarapan. Nove tidak menertawakan ketika aku bertanya siapa yang bertugas di luar.
Sedikit demi sedikit, aku dapat kembali tidur tanpa mendengar lonceng di setiap bunyi yang tidak kukenal.
Linn tiba sebelum ulang tahunku yang ketujuh belas. Ia sudah dapat duduk lebih lama dan berjalan beberapa langkah dengan bantuan, meskipun masih mudah lelah. Lily memastikan kursi tersedia sebelum ia berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak membutuhkan apa-apa.
Fran hendak memberinya tumpukan laporan pada hari pertama kembali.
Lily mengambil tumpukan itu lebih dahulu.
'Nanti, Yang Mulia.'
Ayahku menatapnya, lalu memandang Linn yang tampak terlalu bijaksana untuk ikut campur. Aku tertawa ketika Fran akhirnya menyerahkan kertas kepada penghubung Mith. Rupanya ada orang yang dapat memenangkan perdebatan dengan mantan kaisar tanpa menghunus satu pedang pun.
Pada pagi ulang tahunku, aku menemukan lampu peoni biru di meja dekat jendela telah dibersihkan.
Kiel berdiri di dekat pintu, berusaha tampak seolah itu bukan pekerjaannya. Aku menyentuh bagian luar lampu dengan hati-hati. Bunga yang diawetkannya bertahun-tahun lalu masih menjadi benda yang kukenal, meskipun kamar dan pemiliknya telah berubah ukuran.
'Tidak semua hadiah harus baru,' katanya.
'Tapi Kakak masih boleh membawa kue.'
'Aku akan menyampaikan tuntutan itu.'
Perayaannya kecil. Mith datang setelah menyelesaikan pertemuan pagi, tidak memaksa seluruh urusan berhenti agar adiknya dapat memotong kue tepat ketika diinginkan. Luca membawa Ash ke bagian taman yang tidak mengharuskannya menaiki tangga. Niel duduk bersama kakek dan nenek, menerima makanan sebelum ada yang sempat memintanya memeriksa luka lama lagi.
Mimy membantu menaruh cangkir, lalu tersenyum ketika aku menanyakan apakah ia sempat makan. Ia menunjuk meja kecil para petugas di sisi taman. Aku meminta mereka mengambil kue setelah lilin selesai ditiup, sebelum kelima kakakku mulai berebut bagian yang paling besar.
Hana datang dari Listo untuk menemui ayahnya sekaligus merayakan hari itu. Dego memindahkan tempat duduk agar ia tidak berada langsung di bawah matahari, lalu berpura-pura sibuk ketika aku menatapnya.
Carl dan Nero berkunjung setelah tugas rombongan mereka diserahkan kepada regu pengganti. Nymph datang bersama ayahnya. Mereka membawa salam dari orang-orang yang belum dapat meninggalkan pekerjaan pemulihan, bukan cerita bahwa seluruh dunia sudah kembali seperti semula.
Linn duduk di samping Lily dengan selimut pada lututnya.
Aku memandang kursinya berkali-kali sampai ia mengangkat alis.
'Saya belum akan pergi,' katanya.
'Tuan belum menghabiskan makanannya.'
'Alasan yang sangat baik untuk tetap duduk.'
Aku tertawa. Kalimat sederhana itu membuat sesuatu yang selama ini menegang di dadaku perlahan terlepas.
Ada saat ketika aku mengira harus menjadi cukup hebat untuk menahan setiap kematian sendiri. Kini orang-orang yang kusayangi duduk di tempat mereka, dengan luka, pekerjaan, dan pilihan yang tidak semuanya dapat kukendalikan. Mereka pulang melalui jalan yang kami jaga bersama.
Fran menyentuh bahuku ketika lilin dinyalakan.
'Apa keinginanmu?'
'Ayah juga makan sebelum mengatur semua orang.'
Lily langsung menyodorkan piring. Ayah menghela napas dengan wajah yang membuat kelima kakakku tertawa. Untuk sekali ini, ia tidak mencari siapa yang patut dibekukan karena ikut menertawakannya.
Aku meniup lilin tanpa menutup mata.
Kebahagiaan itu datang tanpa diminta. Bukan karena seorang pelayan berhasil menghiburku atau seseorang menyebut aku penyelamat dunia. Aku hanya melihat Linn menunduk kepada Lily, Carl dan Nero memperdebatkan bentuk hiasan kue, serta ayahku yang akhirnya duduk dan menerima piringnya sendiri.
Poppy mengepakkan sayap di atas bahuku.
Aku merasakan kehangatan bergerak, kemudian menahannya pelan seperti yang sudah kami pelajari. Tidak ada petugas yang berlari membawa tanah rusak ke hadapanku. Tidak ada yang menyuruhku mempertahankan senyum sampai cukup banyak ladang berubah warna.
Aku boleh berbahagia tanpa hari itu langsung diubah menjadi pekerjaan.
Sore menjelang ketika Juno datang bersama Rema membawa gambar yang dikirim dari Tsani. Ia sudah menjadi pemuda yang jauh lebih tinggi daripada anak pemilik kapur hijau yang kukenal. Kuda dalam gambarnya kini tampak seperti kuda sungguhan, tetapi ia sengaja mewarnai salah satunya hijau.
Aku tertawa ketika mengenalinya.
Di atas kertas ada keluarga yang duduk di bawah pohon dan sebuah jalan menuju rumah. Aku meletakkannya dekat lampu peoni, lalu kembali ke taman sebelum semua orang menghabiskan potongan terakhir kue tanpa menungguku.