Aku tidur melewati pergantian jaga.
Ketika bangun, cahaya sudah masuk dari sisi lain tenda dan cangkir di dekat tempat tidur telah diganti dengan yang masih hangat. Grin duduk di depan pintu, memakan sesuatu yang berusaha disembunyikannya ketika melihatku membuka mata.
'Itu untukku?'
'Yang ini untuk saya. Punya Tuan Putri ada di meja.'
Aku hampir tertawa. Suaraku keluar serak, lalu ia segera menyodorkan air sebelum aku mencoba bangkit terlalu cepat.
Kabar tentang Linn kuterima dari Niel setelah pemeriksaan paginya selesai. Bagian pengaruh yang terus menekan luka tidak lagi menerima aliran baru sesudah jangkar diputus. Sisa yang tertinggal masih harus dirawat. Mereka menggunakan pergantian penyembuh dan catatan yang telah dipelajari selama perang, bukan menunggu satu orang kelelahan agar orang lain mengaku telah melakukan semuanya.
'Dia meminta air tadi,' kata Niel.
Aku memegang tepi selimut. Sesederhana itu kabar yang selama ini ingin kudengar. Bukan janji bahwa ia akan berlari esok hari, hanya seorang lelaki yang masih cukup hadir untuk mengatakan dirinya haus.
Aku melihatnya setelah Niel mengizinkan.
Linn berbaring dengan bagian tubuh disangga agar tidak menekan luka. Matanya mengikuti ketika aku mendekat. Ia memandang sarung tangan yang masih kubawa, kemudian menggerakkan satu jari ke arah kursi.
'Duduk,' katanya sangat pelan.
Aku langsung menurut. Dalam keadaan seperti ini pun ia masih menemukan cara menyuruh seorang Peranto berhenti berdiri di tempat yang mengganggu.
'Lily sudah menerima kabar,' kataku. 'Rombongan bantuan dari istana sedang menuju ke sini.'
Ia memejamkan mata sesaat, lalu membuka lagi. Aku menunggu tanpa menambahkan janji bahwa perjalanan itu pasti selesai sebelum malam.
'Maaf,' bisiknya.
'Untuk apa?'
'Membuatmu takut.'
Aku menggigit bibir. Ia tidak perlu meminta maaf karena tubuhnya dapat terluka. Aku mengatakan itu dengan suara yang masih bergetar, kemudian meletakkan sarung tangan cadangan di tempat yang mudah dilihatnya.
'Tuan sudah memanggil pengganti. Kami mendengarnya.'
Ia mengangguk kecil. Aku tidak membiarkan ketakutanku menuliskan ulang kejadian itu menjadi kisah seseorang yang sengaja pergi mati. Ada serangan yang datang, ada pilihan menolong, dan ada orang-orang yang bekerja bersama agar ia dapat dibawa kembali.
Sembilan hari setelah Linn terluka, Lily tiba bersama rombongan bantuan.
Ia masih mengenakan pakaian perjalanan ketika berhenti di pintu ruang perawatan. Tidak ada tangisan keras yang membuat seluruh orang harus menoleh. Ia memegang gagang pintu, meminta penjelasan penyembuh, lalu masuk setelah tempat di sisi tempat tidur dikosongkan.
Linn mengangkat wajah ketika mendengar suaranya.
'Saya datang,' kata Lily.
Aku mundur bersama Niel. Dari sela pintu sebelum tertutup, aku melihatnya meletakkan dahi pada punggung tangan suaminya. Ia tidak memeluk bagian yang masih sakit. Ia hanya tetap berada di sana, pada tempat yang selama berhari-hari tidak dapat dijangkaunya.
Di dalam tasnya ada pakaian ganti untuk Linn dan buku yang belum selesai mereka baca di rumah. Lily meletakkannya dekat tempat tidur, dengan penanda halaman tetap terselip pada bagian yang mereka tinggalkan sebelum keberangkatan.
Di luar, aku duduk bersama Nymph yang membawa dua mangkuk makanan. Ia menyerahkan satu kepadaku dan mengingatkan agar aku tidak kembali membiarkan sup dingin karena terlalu sibuk memandang pintu.
'Kau juga begitu kemarin,' kataku.
'Maka sekarang kita bisa saling mengingatkan.'
Kami makan tanpa terburu-buru. Sesekali orang lewat membawa kain, pesan, atau barang milik seseorang yang sudah boleh dipindahkan ke tempat perawatan lebih tenang. Tidak semua tandu bergerak menuju kepulangan yang sama. Ada keluarga yang menerima kabar yang membuat mereka tak dapat kembali duduk seolah makan siang masih hal yang biasa.
Daftar yang gugur dibacakan dalam pertemuan singkat beberapa hari kemudian.
Mith hadir bersama wakil Terium dan para penghubung klan. Nama-nama itu tidak dibacakan hanya setelah nama keluarga kekaisaran selesai disebut sebagai penyelamat. Mereka adalah orang-orang yang harus dicatat dengan benar, bersama keluarga yang akan menerima hak serta barang yang ditinggalkan.
Aku berdiri di antara orang-orang yang masih hidup, memegang tangan Hana sebentar ketika ia mendekat dari regu Listo.
Ada kelegaan besar karena Gorath mati. Ada kesedihan yang tidak harus dibuat lebih kecil agar kelegaan itu terlihat pantas. Aku belajar membiarkan keduanya berada dalam hari yang sama tanpa meminta Poppy memilihkan perasaan yang paling berguna bagi orang lain.
Carl datang ke tempat perawatan setelah membantu regunya memeriksa kembali perlengkapan. Luka di pelipisnya mulai menutup. Ia menanyakan Linn, lalu meminta izin mendekat setelah mendengar suaranya sudah lebih kuat.
Aku tidak ikut masuk. Lily berada di dalam, dan percakapan mereka tidak harus selalu memiliki aku sebagai pengantar.
Ketika keluar, Carl tampak menahan senyum.
'Apa katanya?'
'Dia menyuruhku memperbaiki cara mengangkat siku saat memegang pedang. Katanya aku terlalu mudah membuka sisi.'
Aku tertawa sampai mataku panas. Itu terdengar persis seperti Linn yang kukenal. Carl menunggu aku berhenti, lalu duduk di sampingku pada bangku luar.
'Dia benar,' katanya.
'Biasanya begitu. Menjengkelkan, bukan?'
'Sedikit.'
Kami diam beberapa saat, melihat halaman yang mulai dapat dilewati tanpa semua orang berlari. Dari tempat pembagian air terdengar Hana mengatur wadah, lalu Dego memprotes karena diminta mengangkat yang lebih besar. Hana hanya menunjuk wadah yang masih menunggu, dan Dego akhirnya mengangkatnya sambil terus menggerutu.
Di dalam, Lily meminta Linn berhenti mencoba mengikuti percakapan di luar dan kembali beristirahat.
Aku mendengar nada yang dahulu dipakai untuk menyuruhku mandi setelah bermain. Kini ia tidak menunduk meminta izin kepada seluruh orang sebelum mengucapkannya. Ia menjaga suaminya dengan keberanian yang tidak membutuhkan pedang.
Malam itu aku menulis kepada Fran. Suratnya lebih panjang daripada laporan yang dikirim sebelumnya. Aku menceritakan Linn yang meminta air, Lily yang sudah tiba, dan Carl yang menerima teguran tentang siku. Aku tidak menuliskan bahwa perang mengembalikan semua yang hilang.
Namun pada bagian akhir, aku dapat menulis sesuatu yang belum berani kupastikan pada hari tandu itu datang: Linn akan dibawa pulang setelah penyembuh mengizinkan perjalanan, bersama Lily yang telah menunggu cukup lama di depan pintu.