Hana pulang pada awal musim ketika aku berusia dua belas, membawa tas yang lebih berat daripada ketika berangkat.
Ia tidak tinggal di Listo tanpa pernah kembali selama setahun penuh. Masa belajar pertamanya selesai beberapa bulan sebelumnya, disusul kunjungan ke rumah dan kesempatan meneruskan latihan bersama kelompok yang sama. Tetapi setiap kali ia datang, ada sesuatu yang berubah: cara mengikat rambut, nama teman baru, atau kebiasaan memeriksa wadah sebelum menuangkan air.
Kali ini ia membawa sepatu yang sudah diperbaiki sendiri.
'Aku tersangkut batu di tempat latihan,' katanya.
'Kau ingin menyaingi sepatuku di Hannes?'
'Belum. Sepatuku masih mau ikut pulang.'
Aku tertawa dan memeluknya sampai tali tasnya menekan bahuku. Dego menunggu di belakangku dengan wajah seolah ia tidak sedang menunggu siapa pun. Hana menyerahkan surat untuknya dari pengajar air, lalu menambahkan sekantong makanan yang disukainya.
Wajah Dego langsung menjadi jauh lebih ramah.
Ayah Hana menemuinya pada sore yang sama. Pengobatan bertahun-tahun telah membuatnya dapat berjalan lebih jauh, meskipun ia masih mudah lelah. Mereka duduk bersama di taman dan memperdebatkan apakah Hana membawa terlalu banyak oleh-oleh atau justru kurang. Aku meninggalkan mereka bersama Niel yang hendak memeriksa keadaan ayahnya.
Selama Hana pergi, pelindungku mulai dapat menahan benturan ringan dengan lebih baik. Aku masih tidak diizinkan menganggapnya baju kebal. Pengajar menggunakan alat latihan yang diperiksa lebih dahulu, dan setiap keberhasilan diuji kembali pada hari berbeda. Poppy kadang membuatku kesal dengan pertanyaan apakah aku benar-benar merasa kuat atau hanya sedang senang berhasil sekali.
Namun ada hal yang tidak bertambah sesuai jadwal pelajaran.
Kotak tanah Henzo di rumah kaca belum seluruhnya pulih. Kami telah memindahkan bagian yang pernah dimurnikan ke wadah terpisah untuk diamati. Selama bertahun-tahun, bagian itu tetap dapat menumbuhkan akar biasa. Tidak ada keharusan membuatku tertawa di dekatnya setiap pagi agar warna tanahnya tidak kembali hitam.
Rinn meminta ahli tanah mencatat hal itu. Jika pemurnian benar-benar mengubah keadaan tanah, hasilnya bukan sekadar cahaya yang hilang ketika perasaanku berubah.
Aku menyukai gagasan tersebut, tetapi tidak ingin setiap kunjungan keluarga menjadi percobaan lain.
Hana datang ke rumah kaca beberapa hari setelah pulang, saat aku sedang merapikan tanaman biasa. Ia mendengarkan aku mengeluh tentang batang yang selalu tumbuh ke arah jendela, kemudian menunjukkan bekas telapak tangannya yang mengeras karena pekerjaan di Listo.
'Pengajarku ingin aku membantu kelompok murid baru musim berikutnya,' katanya.
'Kau sudah menerima?'
'Aku ingin membicarakannya dengan Ayah dahulu.'
Aku mengangguk. Tidak ada perasaan dikhianati yang perlu kutelan kali ini. Aku justru ingin tahu apa yang akan dipelajarinya berikutnya.
Di luar, Dego datang bersama ayah Hana. Mereka membawa bangku yang dipinjam dari paviliun agar lelaki itu tidak harus berdiri lama. Fran mengikuti di belakang dengan ekspresi tidak senang karena kursi yang dibawanya sendiri ditolak sebagai terlalu besar untuk jalan rumah kaca.
'Ayah memilih kursi untuk tiga orang,' kataku.
'Lebih nyaman.'
'Untuk melewati pintu, tidak.'
Hana menunduk menahan tawa. Ayahnya akhirnya duduk di bangku sederhana, lalu meminta putrinya menunjukkan latihan yang diceritakan dalam surat. Hana membentuk aliran air kecil menuju wadah, menghentikannya tepat sebelum melampaui batas. Dego tidak menyela. Ia malah bergeser agar ayah Hana dapat melihat tangan putrinya dengan jelas.
Ketika latihan singkat itu selesai, ayahnya bertepuk tangan.
Aku tidak tahu mengapa bunyi itu membuat dadaku terasa penuh. Barangkali karena beberapa tahun lalu Hana berdiri gemetar, mengira hidupnya harus diserahkan agar ayahnya dapat terus dirawat. Kini ia berdiri tegak, punya tempat belajar dan tempat kembali, sementara keluargaku tidak mengambil keberhasilannya sebagai sesuatu yang mereka miliki.
Fran tidak menyuruhnya tinggal demi menemaniku. Dego tidak menertawakan ayahnya yang bergerak lambat. Aku pun tidak ingin menahan waktu hanya karena semua orang sedang berada di dekatku.
Poppy menyentuh leherku.
Cahaya muncul di tepi kotak tanah yang masih rusak. Bukan ledakan yang menelan seluruh ruangan, melainkan warna gelap yang perlahan surut pada bagian tempat akar tanaman kecil telah berhenti tumbuh. Aku berdiri diam, merasakan kehangatan menyusuri kedua lenganku.
Tak seorang pun meminta Hana mengulang tepuk tangan ayahnya.
Poppy membiarkan aliran itu bergerak sampai aku mulai lelah, lalu mengingatkan agar aku duduk. Dego sudah menarik bangku kedua. Niel yang baru masuk memeriksa napasku, bukan menuntut penjelasan mengapa aku tidak menyembuhkan seluruh wilayah sekalian.
Aku menangis sambil tertawa. Hana memegang tanganku dan tidak bertanya apakah ia penyebabnya. Ia hanya duduk sampai aku bisa menerima cangkir yang ditawarkan Lily.
Tanah itu diperiksa selama beberapa pekan berikutnya. Akar baru tumbuh pada bagian yang telah pulih, sedangkan bagian lain tetap dipisahkan. Ahli tidak menyatukannya supaya kotaknya terlihat lebih indah. Mereka ingin mengetahui batas perubahan yang benar-benar terjadi.
Ketika hasil awal dibawa kepada Mith, ia menanyakan apakah tanah yang sudah bersih dapat membantu perbaikan lingkaran luar di perbatasan. Rinn dan ahli segel tidak menjawab dengan janji kemenangan. Mereka mengusulkan mencoba sedikit bahan di tempat pengawasan yang aman, tanpa membongkar gerbang utama.
Aku tidak ikut perjalanan pertama itu.
Sebulan kemudian, laporan menyatakan tanah yang dipindahkan tetap bersih setelah berada di bawah penahan tambahan. Itu belum berarti mampu menahan seluruh tekanan dari seberang. Tetapi kini para ahli memiliki bahan yang dapat mereka periksa tanpa menunggu aku berada di samping gerbang sambil berusaha merasa bahagia.
Aku membaca laporan bersama Poppy, kemudian menyimpannya.
Pada malam terakhir sebelum Hana kembali ke Listo, kami makan bersama keluarganya dan beberapa teman. Ia membawa tas yang kembali penuh, kali ini oleh makanan yang dimasukkan Dego diam-diam. Aku menambahkan buku kosong dan pita biru baru, setelah ia mengatakan ikatan lamanya hampir putus.
'Kau tidak menyimpan pitanya?' tanyanya.
'Kau membutuhkannya.'
Ia memelukku, lalu meminta aku menulis tentang hal lain selain kotak tanah dan bola latihan. Aku berjanji akan berusaha. Saat keretanya berangkat keesokan pagi, aku melambaikan tangan tanpa merasa harus mengejar. Di belakangku, rumah kaca masih menyimpan tanah yang hangat, bahkan setelah hari gembira itu selesai.