Setahun setelah penobatan Mith, aku akhirnya diizinkan belajar membuat pelindung tanpa menggunakan batang tanaman.
Izin itu tidak datang bersama pedang berkilau atau pakaian yang membuatku tampak seperti penyelamat dunia. Linn memberiku sepasang sarung tangan, memeriksa halaman latihan yang ditutup untuk orang luar, lalu meletakkan tiga bola kain di atas meja.
'Ini musuhku?' tanyaku.
'Untuk hari pertama.'
'Aku merasa diremehkan.'
'Bagus. Jangan kalah.'
Luca tertawa begitu keras sampai Ash mengangkat kepala dari tempat teduh. Aku menatapnya tajam. Kakakku kini sudah jauh lebih dewasa, tetapi ia masih bisa menemukan kebahagiaan besar dari melihat adiknya harus menghadapi tiga bola kain. Niel berdiri di sisi halaman bersama penyembuh pendamping, bukan sebagai sasaran yang boleh kami lukai agar pelajarannya terlihat berguna.
Poppy menampakkan diri setelah pintu ditutup. Ia terbang memutari lenganku, meminta aku memisahkan perintah kepada tumbuhan dari kekuatan yang ingin kupakai. Sejak mempelajari lingkaran lama bersama Rinn, kami tahu Aura memiliki lebih banyak jalan daripada menumbuhkan sulur. Namun mengetahui nama sebuah kemampuan tidak sama dengan memahami rasa ketika menggunakannya.
Aku mencoba membayangkan dinding.
Yang muncul justru ranting dari pot terdekat.
Linn menunggu sampai aku melepaskannya. Ia tidak menambahkan bola keempat hanya karena aku gagal. Poppy menyuruhku mendengarkan aliran yang selama ini kugunakan untuk menahan sulur, lalu tidak mengikatnya pada akar atau kayu.
Pada percobaan berikutnya, sesuatu berkilau di depan telapak. Tipis, hampir tidak terlihat. Bola pertama yang dilempar Linn memantul sedikit, kemudian tetap jatuh mengenai bahuku.
'Aku kalah dari kain,' gumamku.
'Dari satu bola kain,' koreksi Luca.
Aku mengambil bola itu dan melemparkannya kepadanya tanpa spirit. Ia menangkap dengan mudah. Ash memutuskan permainan kami tidak menarik dan kembali tidur.
Pelindung pertamaku bertahan sebentar pada akhir latihan. Tidak cukup menahan pukulan pedang, tidak mengelilingi seluruh tubuh, dan tidak membuatku bisa melewati gerbang iblis sendirian. Namun ketika bola ketiga berhenti di depannya sebelum jatuh ke tanah, aku bersorak begitu keras sampai Poppy melipat sayap karena terkejut.
Linn menyuruhku berhenti setelah itu. Kedua lenganku sudah lelah. Aku ingin mencoba satu kali lagi, tetapi Poppy bertanya apakah aku ingin mengingat keberhasilan kecil atau membuat diriku jatuh karena tak mau pulang.
Aku memilih pulang sambil membawa bola yang berhasil kuhentikan.
Pada siang yang sama, Hana datang membawa surat dari wilayah Listo. Ia kini tiga belas tahun. Seorang pengajar yang mengenal latihan airnya menawarkan tempat belajar selama beberapa bulan bersama kelompok yang membantu mengatur saluran dan persediaan air wilayah itu. Bukan sekadar membuat bentuk indah di udara, melainkan memahami kapan kekuatannya menolong dan kapan justru mengganggu aliran.
'Beberapa bulan?' tanyaku.
Ia mengangguk. Jarinya terus merapikan tepi surat, tanda bahwa pembicaraan ini juga tidak mudah baginya.
Aku hampir mengatakan jadwal belajarnya bisa dipenuhi di istana. Kami memiliki pengajar, buku, dan Dego yang pasti akan mengajukan diri sebelum ditanya. Namun Hana sedang menunjukkan sesuatu yang ia inginkan sendiri, bukan meminta aku menyediakan versi yang lebih dekat dengan kamarku.
'Ayahmu bagaimana?'
'Pengobatannya tetap berjalan. Sekarang dia sudah bisa berjalan sampai taman tanpa dibantu. Aku sudah bicara dengannya.'
Ia tersenyum ketika menceritakan ayahnya memeriksa nama pengajar itu berulang kali, lalu bertanya apakah Hana memiliki cukup pakaian hangat. Ia tidak melarang hanya karena takut putrinya lebih pandai daripada saat ia kembali nanti.
Dego datang menjelang sore setelah mendengar kabar tersebut. Ia membaca surat dengan dahi berkerut, mengajukan terlalu banyak pertanyaan, lalu akhirnya mengembalikannya.
'Pengajarnya memang tahu bagian yang tidak kuketahui,' katanya.
Hana berkedip, seolah tidak menduga ia akan mengatakannya secepat itu. Dego memandangku dan menambahkan bahwa bukan berarti ia akan menyerahkan seluruh waktunya untuk menggantikannya menemaniku.
'Aku tidak meminta,' protesku.
'Wajahmu sudah.'
Aku melempar bantal. Ia tidak menangkap sebaik Luca.
Persiapan Hana berlangsung dua pekan. Rombongan yang membawanya bukan kereta sendirian; ada murid lain, pengantar, dan jadwal singgah yang diketahui keluarga mereka. Nove tidak dipindahkan dari tugasnya menjagaku untuk mengawasi Hana setiap langkah. Pengajar Listo bertanggung jawab menerima murid, sementara Hana akan menulis ketika sudah tiba.
Pada malam sebelum keberangkatan, kami duduk di kamarku mengurutkan pita yang pernah dikumpulkan Lily. Hana memilih satu yang sederhana untuk mengikat buku catatan. Aku mengambil yang biru dan menyerahkannya.
'Ini bukan supaya kau segera pulang,' kataku.
'Aku tahu.'
'Aku tetap ingin kau pulang.'
'Aku juga.'
Kami tertawa sedikit, lalu menjadi diam. Ia sudah bersamaku sejak kami masih lebih kecil, ketika aku mengira menebus utang ayahnya cukup untuk menyelesaikan seluruh kesedihannya. Kini ia punya pelajaran yang tidak dapat kubelikan hasilnya, dan aku harus membiarkannya mengalami sendiri.
Setelah Hana berangkat, halaman latihan terasa lebih kosong meskipun Dego tetap membuat terlalu banyak suara. Aku meneruskan latihan pelindung tiga kali sepekan, diselingi pelajaran lain dan istirahat. Cahaya yang kupelajari untuk bertahan tidak selalu muncul jika aku marah, dan tidak berubah menjadi pemurnian tanah hanya karena aku senang berhasil.
Carl menulis dari Terium bahwa ia mulai belajar pedang biasa. Pengajarnya mengatakan tidak semua masalah harus diselesaikan dengan spirit. Ia mengirim gambar pedang kayu yang patah karena tersangkut pintu, bukan karena Bencana.
Aku tertawa sendirian ketika membacanya.
Nymph yang datang sore itu meminta melihat gambarnya setelah aku menceritakan leluconnya. Ia membaca bagian yang boleh kubagikan, kemudian menuliskan pesan pendek di kertas balasanku: pintu tidak perlu dikalahkan untuk menjadi ksatria.
Di bawahnya Carl kelak menggambar pintu yang memakai mahkota.
Surat Hana tiba seminggu setelah ia sampai di Listo. Ia mengeluh tangan pegal karena harus mencatat sebelum menggunakan air. Namun ia juga menulis tentang seorang murid yang mengajaknya makan, tentang aliran yang berhasil mereka rapikan bersama, dan tentang hari ketika ia tidak menungguku memanggil namanya.
Aku membacanya di dekat jendela, lalu membuka kertas baru. Di sebelahku, bola kain pertama masih tergeletak di meja. Aku menggambarnya untuk Hana, termasuk bagian ketika bola itu mengenai bahuku. Ia pantas mengetahui aku juga sedang mempelajari sesuatu yang tidak bisa langsung kulakukan dengan baik.