Pada ulang tahunku yang kesepuluh, aku mengetahui mengapa ruang kerja Mith terus dipenuhi orang.
Selama beberapa bulan terakhir, Fran dan putra mahkota membicarakan penyerahan takhta. Bukan setiap pewaris harus dinobatkan tepat ketika berusia delapan belas, tetapi usia itu membuat Mith berhak menerima tanggung jawab yang selama ini dipelajarinya. Ayah telah meminta pendapat tujuh duke dan menyiapkan penyerahan urusan secara bertahap.
'Seminggu lagi?' tanyaku ketika mendengar tanggalnya.
Mith mengangguk. Ia tidak tampak seperti anak dua belas tahun yang bangga mengenakan pakaian debutnya. Di bawah matanya ada bayangan lelah, dan kali ini aku tidak bisa menertawakannya sebagai akibat memilih begadang tanpa alasan.
'Kakak ingin melakukannya?'
'Aku sudah mengatakan ya. Tapi itu tidak membuatku berhenti takut.'
Aku memandang pintu ruang kerjanya. Ada orang menunggu dengan daftar persediaan, salinan keputusan, dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan menggerakkan api.
'Kalau aku ingin bertemu Kakak, apakah harus membuat janji?'
Mith menatapku, lalu menarik kursi dekat mejanya lebih rapat ke dinding agar tidak menghalangi jalan.
'Untuk makan bersama, kita punya waktu sendiri. Untuk urusan kekaisaran, kau boleh mengajukan seperti orang lain.'
Aku mengerutkan hidung. Jawaban itu tidak semanis janji akan selalu mendahulukan adik kesayangannya. Namun aku teringat wajah perempuan yang membawa peti suaminya. Ia juga pernah membutuhkan waktu seseorang yang terlalu berkuasa untuk mendengar.
Fran datang ke kamarku malam sebelum penobatan. Ia membawa mahkotanya dalam kotak, lalu meletakkannya di meja tanpa meminta pelayan memegang sudutnya. Poppy menyingkir ke atas lemari agar ia dapat membuka tutup dengan leluasa.
'Ayah akan tinggal di mana?' tanyaku.
'Di istana ini.'
'Masih boleh mengganggu pelajaranku?'
'Tentu.'
'Itu bukan jawaban yang kuharapkan.'
Ia tertawa, lalu mengusap rambutku. Sesudah tidak memegang takhta, ia akan tetap membantu urusan yang diminta Mith, terutama pertahanan dan hubungan dengan wilayah. Tetapi perintah pemerintahan harus keluar dari satu meja. Linn telah mengatakan ia tidak bersedia bekerja untuk dua kaisar yang saling mengubah keputusan setelah sarapan.
Fran tampak tersinggung ketika mengulang kalimat itu. Aku yakin Linn mengucapkannya tepat seperti itu, mungkin dengan suara lebih keras.
Di bawah leluconnya, aku melihat sesuatu yang lebih sulit. Ayah harus melepaskan hak menentukan semua hal hanya karena ia takut kehilangan kami. Aku juga harus berhenti beranggapan bahwa kasih sayang memberiku jalan untuk meminta keputusan dibelokkan setiap saat.
Pagi penobatan, Nenek membetulkan kerah gaunku. Kakek berdiri di pintu bersama wakil Hannes, memeriksa apakah kami sudah siap berangkat. Aku menyentuh gelang Ameryst pada pergelangan kiri. Tali pengikatnya telah disesuaikan agar permata pemberian Ilvy itu tetap dapat kupakai tanpa menekan kulit.
Ilvy sendiri datang bersama rombongan Raini. Rambut merahnya terlihat dari ujung lorong sebelum ia mendekat. Ia memuji gaunku, kemudian berbisik bahwa Mith pasti akan berjalan terlalu cepat karena ingin upacaranya segera selesai.
'Kakak sekarang bisa berjalan lambat,' kataku.
'Kita lihat.'
Ia benar pada tiga langkah pertama. Setelah Linn memberikan tatapan dari samping, Mith memperlambat langkahnya. Luca memalingkan wajah, sementara Kiel nyaris menyenggol Niel karena menahan tawa. Dego menggigit bagian dalam pipinya begitu keras sampai aku takut ia akan membutuhkan penyembuh sebelum upacara dimulai.
Tujuh duke berdiri menurut kedudukan wilayahnya. Listo, Henzo, Drom, Nalte, Arwin, Hannes, dan Tsani hadir sebagai tameng kekaisaran, bukan hiasan yang hanya diperlukan untuk menyaksikan keluarga kami mengenakan sesuatu yang berkilau. Aku mengenali beberapa wajah dari laporan dan kunjungan bertahun-tahun. Di belakang mereka duduk para pejabat, perwakilan wilayah, serta utusan negeri sahabat.
Carl dan Nero datang bersama wakil ayah mereka. Carl tidak menunduk ketika pandangan Mith melewatinya. Ia juga tidak tersenyum seolah seluruh pengalaman masa kecilnya hilang. Mereka saling memberi salam, dan untuk saat ini itu cukup.
Sumpah Mith dibacakan sebelum mahkota dipindahkan. Ia menerima kewajiban menjaga rakyat, mendengar perkara, dan tunduk pada aturan yang juga telah disahkan untuk keluarganya. Fran meletakkan mahkota itu di kepalanya, kemudian mundur dari tempat yang selama ini selalu menjadi miliknya.
Aku mendengar aula bergema menyebut nama kaisar baru.
Mith tidak lagi tampak seperti kakak yang mencuri selai. Ia berdiri tegak, wajahnya tenang, sementara tangannya tetap menyentuh sisi meja sesaat setelah upacara selesai. Aku mengenali gerakan itu. Ia sedang memastikan sesuatu yang nyata dapat dipegang ketika ruangan terasa terlalu besar.
Pada jamuan, aku hampir memanggilnya hanya untuk menunjukkan bentuk buah yang lucu. Seorang wakil desa sudah lebih dahulu mendekat bersama petugas. Aku menutup mulut dan menunggu. Mith mendengarkan mereka, meminta percakapan diteruskan dalam pertemuan kerja, lalu menoleh kepadaku setelah selesai.
'Apa tadi?'
'Sekarang sudah tidak lucu lagi.'
Ia melihat buah di piringku dan tertawa juga, meskipun tidak tahu ceritanya.
Malamnya keluarga makan dalam ruangan yang lebih kecil. Mahkota disimpan. Fran duduk di sisi meja yang berbeda, mencoba memberi petunjuk sebelum Mith selesai berbicara, lalu berhenti ketika Linn mengangkat alis.
'Aku sedang mendengarkan,' kata Ayah dengan wajah sangat tidak rela.
Aku tertawa sampai bahuku menempel pada Hana. Nymph membetulkan letak cangkirnya, sementara Carl dan Nero mengikuti perdebatan tentang siapa yang boleh mengambil potongan terakhir hidangan penutup. Tidak ada keputusan negara yang diambil di antara piring.
Sesudah makan, Mith berdiri di taman tanpa pengawal mengelilinginya terlalu dekat. Aku menemuinya dan menyentuh gelang merah yang kini memakai tali baru.
'Masih berat?'
Ia tahu aku tidak menanyakan gelang. 'Masih.'
'Kalau begitu jangan dibawa tidur.'
Mith tertawa, lalu merangkul bahuku. Dari jendela terlihat Fran sedang berdebat dengan Linn tentang jadwal istirahatnya sendiri. Ayah masih ada. Kakakku masih ada. Tetapi pintu yang mereka buka esok hari tidak lagi sama, dan kami harus belajar berjalan melewatinya tanpa menyeret orang lain di belakang kami.
Ketika kami kembali masuk, Dego sudah menyembunyikan hidangan terakhir di bawah tutup piring. Mith memandangnya dengan kebesaran seorang kaisar baru selama dua detik, lalu mengulurkan sendok. Aku segera mengambil tempat di antara mereka sebelum keluarga ini membuat sengketa yang tidak tercantum dalam sumpah pagi tadi.