Mith berusia tujuh belas seminggu setelah aku berusia sembilan.
Ia mengatakan aku tidak boleh lagi memasuki ruang kerjanya tanpa mengetuk. Aku mengatakan ia harus berhenti mengambil selai dari rotiku ketika lewat. Perundingan itu berakhir tanpa kesepakatan, tetapi ia tetap menaruh bangku yang cukup rendah di dekat mejanya agar aku bisa duduk tanpa memanjat.
Selama setahun sejak kunjungan Hannes, aku tumbuh lebih tinggi dan rambutku semakin sulit disisir setelah latihan. Hana kini sebelas tahun dan memiliki jadwal belajar yang tidak selalu sama denganku. Ia mendapat guru tambahan untuk kemampuan air, setelah Dego mengakui ada bagian pelajaran yang tidak bisa diajarkannya sendiri. Aku harus mulai bertanya kapan ia punya waktu, bukan sekadar menunggu ia datang ke kamarku.
Nymph juga semakin sibuk. Ayahnya masih menjemput setelah pelajaran, meskipun sekarang ia berani meminta berjalan sendiri sampai gerbang taman bersama pengawal. Poppy sudah bisa mendengar panggilannya tanpa langsung berhenti terbang. Mereka berlatih membedakan suara, permintaan, dan perintah yang sengaja diberi kekuatan. Sesekali Poppy tetap mengeluh Nymph lebih pandai membujuk daripada aku.
Carl dan Nero datang untuk perayaan keluarga sekaligus menemui pengajar mereka. Tidak ada pemeriksaan berbahaya yang dijadwalkan di tengah pesta. Carl membawa buku gambar yang kini hampir penuh; pada halaman terakhir ada potret ibunya yang sudah beberapa kali diperbaiki.
'Matanya masih sulit,' katanya ketika menunjukkannya kepadaku.
'Kau ingin aku mencoba?'
'Tidak. Kau pernah memberi mahkota ayahmu tujuh tanduk.'
Aku menutup buku itu sambil menggerutu. Nero tertawa begitu keras hingga Dego datang menanyakan apa yang terlewat.
Malam perayaan Mith diadakan di aula yang sama dengan debutnya lima tahun lalu. Aku mengenali tiang tempat aku pernah bersembunyi dari tamu yang menginginkan pertunjukan spirit. Kini aku dapat berjalan melewatinya tanpa menghitung berapa langkah menuju pintu keluar, meskipun Nove dan Grin masih tidak mengizinkanku menghilang di antara rombongan.
Carl berdiri bersama pendampingnya ketika seorang pejabat tamu dari Terium menyapa. Pria itu ikut rombongan diplomatik, bukan pengawal kedua pangeran. Mula-mula ia menanyakan kesehatan Carl dengan suara yang cukup ramah.
Kemudian ia menoleh kepada Nero.
'Yang Mulia tentu akan lebih tenang bila mengambil jarak dari orang yang masih mengingat perkara keluarga itu. Tidak semua orang melupakan dari rahim siapa seorang anak dilahirkan.'
Carl memandangnya tanpa menjawab. Nero memegang ujung lengan bajunya sendiri. Aku sedang mengambil minum tidak jauh dari mereka, dan cangkir di tanganku terasa terlalu berat untuk dibawa cepat.
Mith tiba lebih dahulu.
'Apakah Anda sedang meminta seorang pangeran menjauh dari saudaranya?' tanyanya.
Pria itu tersenyum kaku. 'Saya hanya menyampaikan kehati-hatian, Yang Mulia. Kekaisaran tentu ingin menghindari pengaruh buruk.'
'Kejahatan ibunya diperiksa dan diputus. Nero tidak ditetapkan sebagai pelaku.'
Ia mencoba menjelaskan bahwa orang-orang akan berbicara. Mith tidak mengangkat pedang atau memanggil api. Ia memanggil kepala rombongan diplomatik dan meminta percakapan itu diulang di hadapannya, supaya tidak berubah menjadi sesuatu yang lebih sopan setelah para tamu meninggalkan aula.
Beberapa kepala mulai menoleh. Carl berdiri lebih dekat kepada Nero, tetapi Mith tidak memintanya berbicara sebagai bukti keberanian. Kepala rombongan meminta pejabat itu mengikutinya keluar. Pendamping kedua pangeran memastikan mereka tidak perlu ikut.
Aku sampai di sisi Nero dengan cangkir yang sudah tidak ingin diminum. Hana menyentuh sikunya, bertanya apakah ia ingin duduk. Ia mengangguk. Dego membuka jalan menuju ruang kecil di belakang aula.
Carl tidak segera bergerak. Ia memandang Mith.
'Kau dulu menyuruhku menjauh dari Qiya.'
Kata-kata itu tidak keras, tetapi terdengar oleh orang-orang yang masih berdiri dekat. Mith menurunkan tangannya. Aku melihat rahangnya bergerak, lalu ia mengangguk.
'Benar.'
Tidak ada alasan tentang usia yang terlalu muda, sayang kepada adik, atau tidak tahu apa yang terjadi di Terium. Ia menyebut perbuatannya sendiri: menakuti Carl dengan api di taman, membuatnya merasa tidak layak mendekati kami, lalu membiarkan rasa takut itu disebut perlindungan.
'Aku bersalah waktu itu,' katanya. 'Aku tidak ingin mengulanginya dengan diam saat orang lain melakukannya.'
Aku tidak tahu apakah ia mengucapkannya karena ada tamu yang mendengar. Namun ketika Carl tidak memberi jawaban, Mith tidak mencari senyumku untuk memastikan ia sudah melakukan hal yang cukup baik.
'Aku akan menemui kepala rombongan. Kalian boleh beristirahat.'
Luca menunggu di pintu ruang belakang, lalu bertanya kepada pendamping apakah kami membutuhkan pengawal tambahan. Carl menggeleng. Kakakku menerima jawaban itu dan tetap di luar, memberikan ruang yang dahulu selalu diambilnya begitu saja.
Ia pergi tanpa meminta Carl menggenggam tangannya. Di ruang belakang, Nero duduk lama sebelum akhirnya meminum air. Ia marah kepada pejabat tadi, lalu marah kepada dirinya sendiri karena masih gemetar. Dego duduk di lantai dan mengatakan ia boleh marah kepada pejabat itu dua kali jika perlu, supaya dirinya sendiri tidak kebagian.
Nero tertawa pendek. Carl duduk di dekatnya dan membuka buku gambar pada halaman yang belum selesai. Tidak ada yang membicarakan apakah Nero masih merindukan ibunya malam itu. Ia tidak harus menjawab seluruh masa lalunya hanya karena seseorang sengaja menyakitinya di pesta.
Keesokan pagi, Fran memanggil kepala rombongan. Pejabat tadi dicabut dari tugas kunjungan dan diperintahkan kembali setelah pengurus perjalanan menyiapkan kepulangannya. Tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepada keluarga atau pelayannya. Surat resmi Terium tentang kedudukan Nero dibacakan kembali kepada rombongan agar mereka tidak dapat berpura-pura tidak mengetahuinya.
Mith menerima laporan itu di ruang kerjanya. Aku mengetuk kali ini. Ia mengangkat wajah, menunjuk bangku yang sudah disiapkan, lalu memandang roti di tanganku.
'Ini milikku,' kataku.
'Aku belum meminta.'
'Wajah Kakak sudah.'
Ia tertawa lelah. Aku duduk, membagi rotinya menjadi dua, dan menyerahkan bagian yang lebih kecil. Di pergelangan Mith, gelang merah dari masa kecilku hampir tidak lagi muat. Ia sudah mengganti talinya, tetapi manik pertamanya tetap sama. Aku menyentuh manik itu sebentar sebelum membuka buku pelajaranku. Ia meneruskan pekerjaannya, dan pagi itu kami tidak perlu mengatakan apa-apa lagi tentang aula.