Rinn membawa lembaran yang baunya lebih tua daripada seluruh buku pelajaranku.
Ia melarangku menyentuh bagian yang mengelupas. Aku segera menarik tangan, lalu memandang Fran agar ia tidak menganggap larangan itu sebagai penghinaan terhadap putrinya. Ayah hanya menggeser lampu supaya tulisannya lebih jelas. Setelah percakapan kami beberapa malam sebelumnya, ia sering memandangku terlalu lama, seperti sedang mempelajari wajah yang takut kehilangan tempatnya.
'Ini salinan dari ruang arsip Hannes,' kata Rinn. 'Bagian yang lain berasal dari tempat penyimpanan segel di Peranto. Keduanya tidak memakai semua istilah yang sama.'
Linn membuka peta yang dibawanya dari perbatasan. Pada bagian bawah batu yang retak ditemukan guratan lama, tertutup tanah dan bekas perbaikan. Para ahli telah menyalinnya sebelum memasang penahan sementara. Rinn diminta membandingkan guratan itu dengan bahasa dalam arsip, bukan menebak seluruh artinya dari satu tanda.
Aku duduk di samping Mith. Kakakku tidak tahu tentang Mask. Fran dan Linn menyetujui bahwa aku boleh menentukan sendiri kapan menceritakannya kepada yang lain. Namun pembahasan gerbang dan keselamatan perbatasan bukan sesuatu yang hanya boleh diketahui tiga orang di ruang tertutup.
Niel datang setelah pelajarannya selesai. Luca membawa kursi tambahan untuk Kiel, yang menyuruhnya berhenti menyeret kaki kursi di lantai. Dego menyelipkan tempat di sampingku dan bertanya apakah akan ada gambar naga.
'Ada,' jawab Rinn.
Kami semua langsung menatap lembaran itu lebih dekat.
Gambarnya sederhana: sosok panjang bersisik, beberapa manusia kecil di dekat luka pada sisinya, dan lima tanda mengelilingi satu lingkaran. Aku pernah mendengar bagaimana leluhur Peranto menolong naga setelah manusia yang diselamatkannya justru berbalik menyerang. Kini cerita itu memiliki bekas tinta, tahun penyalinan, dan nama orang yang menjaga catatannya.
'Bukan leluhur kita yang membunuhnya,' kata Dego, seolah masih ada orang yang berani mempertahankan dongeng kutukan di depan Fran.
'Bukan,' jawab Rinn. 'Tetapi naskah ini tidak berhenti pada pemberian berkat.'
Ia menunjukkan bagian yang diterjemahkannya bersama penjaga arsip. Pengaruh iblis tidak selalu hilang ketika tubuh penyerangnya pergi. Pada tempat tertentu, sisa kekuatan bisa tertahan di tanah dan kembali menerima tekanan dari jalan yang sama. Orang-orang dahulu membangun penahan pada batas itu, lalu memperbaikinya ketika lapisan luar melemah.
Linn mengetuk sisi peta. Itu cocok dengan susunan yang ditemukan para ahli: batu pengawas bukan seluruh segelnya. Di bawahnya ada lingkaran lebih tua yang belum bisa diperiksa tanpa membuka tanah rusak di sekeliling.
'Jadi Gorath tidak bersembunyi di bawah batu itu?' tanyaku.
'Kami belum menemukan tubuh atau suaranya,' jawab Linn. 'Yang kita tahu ada jalan yang dahulu dipakainya dan sesuatu menekan dari seberang.'
Mith bertanya apakah lingkaran itu bisa dihancurkan untuk memutus jalan. Rinn tidak menjawab seketika. Ia menunjukkan catatan tentang penahan yang dirusak dari sisi manusia dan justru memperlebar kerusakan. Memecahkan pintu tidak sama dengan menutup apa yang berada di belakangnya.
Ayah menyilangkan tangan. 'Maka kita pertahankan sampai tahu cara menutupnya.'
Poppy keluar setelah pintu dipastikan tertutup. Ia terbang mengitari lembaran, kemudian hinggap di depanku. Tanda kelima jenis spirit ada pada tepi lingkaran: menyerang, melindungi, menyembuhkan, menghimpun, dan menghancurkan. Rinn menggunakan istilah pengepul yang sudah kupelajari dari Linn, lalu menunjukkan bahwa tugas-tugas itu ditulis sebagai sesuatu yang saling membantu, bukan satu orang berdiri melawan seluruh dunia.
Aku mengingat kotak tanah di rumah kaca. Cahaya yang muncul karena keluargaku membuatku merasa aman. Apakah akhirnya semua pembicaraan ini akan kembali menjadi permintaan agar aku bahagia tepat ketika orang lain membutuhkannya?
'Apakah mereka mengorbankan putrinya?' tanyaku.
Fran menoleh begitu cepat sampai Dego bergeser di kursi. Rinn meminta melihat bagian yang membuatku berpikir begitu. Aku menunjukkan lingkaran di antara lima tanda, yang sejak tadi terasa seperti diriku dikelilingi lima kakak.
Rinn menggeleng. 'Tidak ada perintah menyerahkan anak dalam bagian ini. Lingkaran itu tempat yang dipulihkan. Kita tidak boleh menambahkan tubuh seseorang hanya karena bentuknya cocok dengan ketakutan kita.'
Poppy mendekat ke tanganku. Ia tidak mengingat perang lampau seperti saksi yang melihat semuanya, tetapi ia mengenali jenis kerusakan pada tanah yang pernah kami rawat. Ia bisa membantu pemurnian; ia tidak dapat menjanjikan menutup gerbang hanya karena memiliki lima jenis kemampuan.
'Dan aku tidak akan menyuruhmu mencintai sesuatu yang menyakitimu agar tanahnya sembuh,' katanya kepadaku.
Aku menghela napas. Ternyata sejak tadi bahuku terangkat terlalu tinggi.
Pembicaraan itu berlanjut tanpa menjadikanku rencana utama. Tujuh duke diminta menyiapkan pengendali sesuai keahlian wilayah masing-masing. Hannes mengatur penyembuhan dan tempat perawatan. Tsani meninjau lapisan sihir segel bersama para ahli. Wilayah lain memperkuat jalur bantuan, pengawasan tanah, air, dan pertahanan agar penjaga tidak harus menunggu istana jika keadaan berubah.
Tidak ada pasukan anak-anak yang dikirim menuju gerbang. Aku tetap pergi ke pelajaran esok hari. Namun Fran mengizinkanku mempelajari salinan yang sudah aman disentuh bersama Rinn dan Poppy. Bila kelak aku dapat membantu lebih banyak, kami harus mempelajarinya sungguh-sungguh, bukan mengharapkan satu senyuman menyelesaikan seluruh perang.
Pada ulang tahunku yang ketujuh beberapa pekan kemudian, Rinn menghadiahiku salinan gambar naga itu pada kertas baru. Di bawahnya ia menulis terjemahan pendek tentang tangan yang merawat luka, bukan pedang yang mengambil sisik.
Aku meletakkannya di dekat potret kecil Rein yang diberikan Nenek. Ayah berdiri di pintu ketika aku menggeser kedua bingkai agar mendapat cahaya yang sama.
'Kau takut Ayah akan memintamu pergi?' tanyanya.
Aku mengangguk jujur. Ia duduk di lantai di sampingku, meskipun pakaiannya akan kusut dan Linn tidak ada untuk menertawakannya.
'Kalau suatu hari kau pergi membantu, kita bicarakan jalannya bersama. Kau bukan pembayaran untuk perang siapa pun.'
Aku menyandarkan kepala di lengannya. Dari atas bingkai, Poppy mengepakkan sayap kecilnya, membuat gambar naga bergerak sedikit. Untuk malam itu aku tidak memikirkan kapan lingkaran di perbatasan akan retak lagi. Aku hanya ingin mengingat janji ayahku, agar kelak bisa memintanya tetap menepatinya.