Linn berangkat ke perbatasan tiga hari setelah laporan itu tiba.
Ia tidak membawa kami. Pengendali pelindung dari pos terdekat sudah memindahkan dua keluarga penjaga ke bangunan yang lebih jauh dari tanah menghitam. Para penyembuh memeriksa mereka, sementara ahli segel menilai kerusakan. Fran memerintahkan agar tidak ada orang mencoba membuka gerbang untuk mencari jawaban tentang Gorath.
Aku berdiri di depan pintu paviliun Linn ketika ia berpamitan kepada Lily. Tangannya tinggal beberapa saat pada tangan istrinya. Biasanya mereka akan tersenyum kepadaku jika melihat aku memandang terlalu lama. Kali ini Lily hanya mengingatkannya membawa sarung tangan cadangan.
'Aku juga bisa merawat tanah,' kataku ketika Linn mendekat.
'Dan sekarang belum ada tempat aman untukmu di sana.'
Ia tidak mengusap kepalaku sambil mengatakan semuanya pasti baik. Ia berjanji mengirim kabar setelah mengetahui lebih banyak. Aku mengangguk, lalu membiarkannya naik ke kereta pengawal.
Sepuluh hari kemudian, utusan kembali dengan laporan pertama. Gerbang masih tertutup. Retakan muncul pada batu penahan di luar lingkar segel, sementara tanah yang dahulu terkena pengaruh iblis kembali rusak dari bawah. Ahli yang memeriksa menduga ada tekanan dari sisi seberang, tetapi belum bisa memastikan siapa yang menyebabkannya.
Nama Gorath tidak ditulis sebagai sesuatu yang telah mereka lihat sendiri.
Linn pulang setelah kelompok pengganti tiba. Ia membawa peta lapisan segel dan luka kecil di punggung tangan akibat batu pecah saat pemeriksaan. Niel menyembuhkannya sebelum aku sempat mengusulkan seluruh perbatasan dibungkus kapas.
Fran bertanya apakah ada jejak orang yang membantu merusaknya. Linn menjawab tidak ditemukan. Perkara Karn sudah selesai; pelaksanaan hukumannya tercatat. Mereka tidak akan menghidupkan kembali tuduhan terhadap keluarga Helius hanya karena tanah kembali menghitam.
Aku mendengar itu sambil menatap peta. Dalam Mask, Carl dikirim berperang pada usia tujuh belas. Aku akan hampir tujuh belas ketika itu terjadi, lebih muda tiga bulan. Masih sekitar sepuluh tahun lagi dari ulang tahunku yang akan datang.
Tetapi kerusakan ini sudah muncul sekarang.
Malamnya, Poppy menemukanku duduk di lantai, dikelilingi kertas yang kusobek sendiri. Aku mencoba menulis semua yang kuingat, lalu takut melihat nama Carl berada dekat kalimat tentang penghancuran Peranto.
'Mereka akan membunuhnya sebelum dia dewasa,' bisikku.
'Kau belum berbicara kepada mereka.'
'Aku sudah melihat cara Ayah menghadapi ancaman.'
Poppy tidak membantah. Ia memandang potongan kertas itu, kemudian menanyakan apa yang ingin kulakukan bila terus menyimpannya sendirian. Aku tidak punya jawaban yang cukup baik. Aku bisa menulis kepada Carl agar tidak berperang, tetapi iblis tidak akan berhenti hanya karena kami ingin hidup tenang.
Keesokan malam aku meminta Fran dan Linn datang ke ruang belajarku. Lily menjaga pintu bersama Nove dan Grin. Kelima kakakku belum kupanggil; aku ingin menyelesaikan kalimat sebelum harus menghadapi enam pasang mata hijau sekaligus.
'Ayah harus berjanji tidak menangkap siapa pun karena cerita ini.'
Fran langsung menegakkan tubuh.
'Siapa yang mengancammu?'
'Tidak ada. Itu yang ingin kujelaskan.'
Linn memandang kertas di mejaku. Aku meletakkan telapak di atasnya sebelum ia mendekat.
'Aku tidak mendapatkan ini dari saksi. Aku juga tidak tahu apakah semuanya akan terjadi. Ada bagian yang sudah berubah.'
Fran duduk kembali setelah Linn meminta kami mulai dari awal. Aku bercerita tentang dunia sebelum kelahiranku, tentang namaku yang tidak ingin kusebut karena terasa jauh dan sekaligus masih milikku. Tentang membaca kisah cinta seorang kaisar dan gadis berspirit cahaya. Tentang terbangun sebagai bayi yang mengira seluruh keluarganya ingin membunuhnya.
Wajah Fran menjadi pucat pada bagian terakhir.
'Kau mengira Ayah akan membunuhmu?'
Aku mengangguk. 'Aku belum tahu tentang Ibu. Atau naga. Dalam cerita itu, aku hanya tahu anak perempuan Peranto selalu mati.'
Fran meletakkan tangan di atas meja, sangat perlahan. Ia bertanya sejak kapan aku mulai tidak takut kepadanya. Aku mengingat begitu banyak hari sampai tidak bisa memilih satu. Ketika ia menggendongku, mungkin. Ketika ia mendengar aku menangis dan kembali. Namun aku juga masih takut pada apa yang dapat dilakukannya kepada orang lain. Aku mengatakan bagian itu juga, meskipun suaraku semakin kecil.
Tidak ada tawa. Tidak ada yang mengatakan ingatanku hanya mimpi seorang anak. Namun Linn juga tidak menuliskannya sebagai laporan perang. Ia menanyakan bagian mana yang kulihat terjadi dan bagian mana yang hanya kuingat dari cerita.
Ketika aku menyebut Carl menghancurkan Peranto setelah penderitaan dan penghinaan yang bertahun-tahun, tangan Fran mengeras pada sandaran kursi. Suhu ruangan turun. Aku segera menggenggam pergelangan tangannya.
'Carl yang sekarang belum melakukannya.'
'Aku tahu,' kata Linn lebih dahulu.
Aku menatap Fran sampai ayahku mengangkat wajah. Matanya tertahan pada tanganku yang kecil.
'Dia menyakitimu?'
'Tidak. Dan aku tidak akan membantu Ayah menyakitinya karena sesuatu yang belum terjadi.'
Fran menutup mata. Lama sekali ia diam. Kemudian hawa dingin perlahan menghilang, menyisakan napasku yang masih terdengar terlalu cepat.
Aku meneruskan cerita tentang perang, ibu Nero, dan pertemuan Carl dengan Nymph sebagai orang dewasa. Perkara racun telah berubah waktunya. Nero tidak diasingkan. Nymph kini berlatih di taman yang sama denganku. Tidak ada alasan menganggap halaman yang kuingat tetap merupakan satu-satunya masa depan.
'Linn mati dalam kehancuran itu,' kataku pada akhirnya.
Linn tidak bergerak. Aku menatap tangannya yang sudah disembuhkan Niel. Segala penjelasan tentang masa depan yang bisa berubah mendadak tidak cukup untuk menghentikan air mataku.
Fran mengangkatku ke pangkuannya. Ia tidak menyuruhku diam. Linn menunggu sampai aku bisa bernapas lebih teratur, lalu mengatakan bahwa laporan perbatasan akan tetap diperiksa berdasarkan kejadian nyata. Ingatanku boleh membantu mereka memikirkan kemungkinan, bukan menjadi alasan menjatuhkan hukuman kepada seorang anak.
'Aku bukan putri yang kalian tunggu,' bisikku.
Fran memelukku semakin erat. 'Kau putriku yang sedang duduk di sini.'
Ia tidak bisa menjelaskan mengapa aku memiliki ingatan itu. Aku pun tidak bisa. Tetapi ketika Linn meminta izin menyimpan satu salinan catatan untuk perencanaan keselamatan, ia tetap memanggilku Qiya. Di luar pintu, suara langkah Lily mendekat membawa air hangat. Untuk pertama kalinya sejak membaca akhir Mask, aku tidak sendirian mengetahui halaman yang kutakuti.