Latihan Carl dimulai tanpa suara ledakan.
Itu membuatku jauh lebih lega daripada yang ingin kuakui. Ia duduk bersama pengajarnya di ruangan sejuk, mengenali perubahan napas dan tekanan pada telapak sebelum kekuatannya bergerak. Darre telah menitipkan catatan bahwa sesak karena gangguan tubuh tidak boleh selalu disamakan dengan tanda spirit. Tabib tetap mendampingi agar orang tidak salah menyuruhnya menahan sakit.
Aku hanya diizinkan menunggu di luar bersama Nero. Dari jendela kami bisa melihat pengawal menyiapkan halaman tempat latihan biasa, tetapi Carl tidak dibawa ke sana untuk membuktikan sesuatu. Pengajarnya keluar membawa kertas setelah pertemuan selesai.
Carl menyusul dengan wajah cemberut.
'Hanya duduk?' tanya Nero.
'Dan berhenti ketika disuruh.'
'Kau biasanya sulit berhenti bicara kalau Dego menanyakan ikan.'
Carl mendorong bahunya pelan. Aku tertawa sampai pengajar mengingatkan kami agar tidak menutup pintu lorong dengan tubuh sendiri. Kami bergeser, lalu mencari Dego yang berjanji menyimpan kue sisa.
Tidak ada satu latihan yang membuat kekuatan itu menjadi aman selamanya. Pada hari ketiga, Carl merasakan telapaknya dingin ketika mendengar dua pengawal bertengkar di halaman. Ia memberi tahu pendampingnya, menjauh, dan duduk sampai tabib memastikan ia tidak sedang sakit.
Batu di halaman tidak retak. Tidak ada yang menakutinya lebih jauh untuk menguji seberapa banyak ia bisa bertahan.
Ketika ia menceritakannya sore itu, aku ingin mengatakan bahwa semuanya sudah berubah. Aku menahan kalimat itu. Yang berubah adalah satu kejadian: ia mengenali sesuatu, berbicara, dan ada orang yang mendengar sebelum ia sendirian menanggungnya.
Pada akhir kunjungan, mereka kembali ke Terium membawa catatan latihan dan jadwal pertemuan pengajar berikutnya. Kami tidak mengirim surat yang meminta laporan setiap kali Carl merasa takut. Ia tetap boleh menulis tentang permainan, buku, atau hal menjengkelkan yang dilakukan Nero.
Nero membalas surat pertamaku dengan keluhan bahwa Carl mengambil tempat paling terang di dekat jendela. Carl menambahkan tulisan di bawahnya: aku sedang menggambar, dia hanya duduk di sana sambil menghabiskan buah.
Aku menyimpan surat itu di samping catatan yang jauh lebih berat dari beberapa bulan sebelumnya.
Musim berganti. Jadwal pengobatan Hannes diperbaiki agar Niel tidak meninggalkan pelajaran dan pasien tanpa pengganti. Pengobatan yang dahulu direncanakan sepekan setiap bulan telah menjadi kunjungan lebih sering karena kebutuhan warga. Kini para penyembuh bergiliran, dengan kunjungan Niel dicatat bersama hari istirahatnya. Nenek menolak usul agar cucunya selalu tersedia hanya karena kemampuannya tinggi.
Hana mulai membantu latihan air untuk murid yang lebih muda di bawah pengawasan pengajar. Dego tampak sangat bangga sampai Hana menyuruhnya berhenti memberikan petunjuk ketika ia sedang berbicara. Ia menggerutu, tetapi pindah ke bangku dan menunggu gilirannya.
Aku pun masih melakukan kesalahan. Suatu hari aku meminta sulur memegang penyangga terlalu erat hingga kayunya retak. Poppy menghentikan perintahku dan menyuruhku melepaskan satu bagian lebih dahulu. Aku ingin memulai lagi seketika, tetapi telapak tanganku sudah gemetar karena lelah.
'Kalau kau sedang takut salah, kau menambahkan perintah terus,' katanya.
'Aku ingin memperbaikinya.'
'Kadang kau harus berhenti agar bisa melihat bagian yang rusak.'
Kami mengganti kayu itu keesokan hari. Aku tidak memurnikan seluruh kotak tanah dengan berusaha tertawa. Petak kecil yang pernah pulih tetap diamati, sementara tanaman baru hanya dipindahkan setelah ahli tanah memastikan akar tidak akan masuk ke bagian yang masih rusak.
Mendekati ulang tahunku yang ketujuh, datang rombongan kecil dari Tsani membawa hasil panen dan laporan pemulihan tanah. Fran ingin mereka menghadap di aula. Aku meminta menemui Rema dan Juno di ruang makan yang tidak dipenuhi kursi tinggi.
Juno kini bisa membuat gambar kuda yang benar-benar terlihat seperti kuda. Ia juga membawa kapur hijau yang tinggal pendek sekali. Rema mengatakan saluran yang diperbaiki tidak membuat seluruh desa mendadak makmur, tetapi sebagian ladang sudah dapat ditanami lagi. Keluarga yang kehilangan pekerjaan di musim buruk mulai punya penghasilan, dan yang belum pulih masih mendapat bantuan.
Ia membawa seikat tanaman kering yang biasa dipakai ibunya memberi aroma pada lemari pakaian. Aku menerimanya, lalu menunjukkan gambar Ash yang disimpan di meja belajarku. Juno mengaku masih takut bertemu binatang aslinya. Kami sepakat gambar saja cukup untuk kunjungan hari itu.
'Pohon Rindu?' tanyaku.
'Bagian bawah jalurnya tetap dibuka. Bagian atas tidak kami paksa,' jawab Rema.
Aku teringat hari ketika pohon-pohon di sana memanggil tentang air di bawah batu. Bukan setiap suara harus kuikuti dengan berjalan sendiri ke tempat yang dilarang. Kini Juno mengeluarkan gambar piknik yang dibuat sesudah kunjungan kami dulu. Ia ingin memberikan salinannya, bukan mengambil kembali gambar yang sudah kusimpan.
Mith datang ketika mereka hampir selesai makan. Ia kini menjulang lebih tinggi daripada saat debutnya, dan tahun depan ia akan semakin dekat dengan syarat usia untuk naik takhta. Namun ia tetap kakak yang mengambil buah di piringku ketika mengira aku sibuk melihat gambar.
Sebelum ia sempat kabur, seorang pengawal menyampaikan pesan dari Linn. Ada laporan dari perbatasan yang harus dibawa kepada Fran. Wajah Mith berubah sungguh-sungguh. Ia mengembalikan buah itu tanpa bercanda.
Aku melihat lambang Hannes pada sampul laporan, lalu tanda pos pengawasan yang pernah disebut ayah saat menjelaskan kematian Rein.
'Apa yang terjadi?' tanyaku.
Mith tidak membuka surat itu di hadapan tamu. Ia meminta pengawal mengantarkannya kepada Fran, kemudian memanggil Linn. Rema dan Juno menyelesaikan kunjungan mereka seperti yang direncanakan, tanpa ditahan untuk menjawab pertanyaan yang bukan urusan mereka.
Malamnya, Fran memanggil kami ke ruang keluarga. Pada peta di mejanya, satu tanda merah baru ditambahkan dekat gerbang yang dahulu disegel setelah serangan Gorath.
Segelnya belum terbuka, kata Linn. Tetapi batu pengawas di sisi luarnya retak, dan dua penjaga telah melihat tanah menghitam di tempat yang seharusnya pulih.
Aku menyentuh kerah tempat Poppy bersembunyi. Selama hampir setahun, aku belajar bahwa masa depan Carl tidak harus menjadi bencana. Kini nama yang merenggut ibuku kembali mengetuk hidup kami, dan kali ini bukan dari halaman sebuah cerita.