Aku meminta kue yang lebih kecil untuk ulang tahunku yang keenam.
Juru masak memandang Lily, Lily memandang Linn, dan Linn memandang pintu seolah Fran akan muncul untuk menyatakan bahwa ukuran kue adalah urusan keamanan kekaisaran. Akhirnya aku berdiri di atas bangku agar tidak perlu mendongak kepada semua orang.
'Aku ingin bisa melihat teman-temanku di seberang meja.'
Lily menutup mulutnya, menahan tawa. Tahun lalu hiasan kue hampir setinggi kepalaku ketika duduk. Fran menganggapnya indah, sementara aku harus mengintip di antara menara gula untuk memastikan Dego belum mengambil buah di atas piringku.
Permintaanku dikabulkan, meskipun Fran menambahkan dua meja makanan lain di taman. Ia memandang kue pendek itu dengan kecewa yang sangat jelas. Aku memeluknya sebelum ia meminta bangunan istana dibuat dari krim di sebelahnya.
Carl dan Nero datang sehari sebelum perayaan. Kali ini Darre tidak ikut karena pekerjaan di Terium, tetapi pendamping mereka membawa catatan perawatan untuk Niel dan tabib istana. Carl masih memerlukan pemeriksaan, meskipun ia sudah bisa berlari lebih lama tanpa berhenti memegang dadanya.
Ia langsung melihat Ash ketika turun dari kereta.
'Dia lebih besar?'
'Atau kau dulu melihatnya dari belakang Luca,' kataku.
Luca berdiri agak jauh, memberi tempat bagi pendamping Carl. Ia tidak menyuruh Ash mendekati tamu itu. Ash duduk di sampingku dengan gelang hitam masih terikat di ekornya, lalu menguap memperlihatkan gigi yang tidak membantu menjelaskan bahwa ia bisa bersikap lembut.
Carl tertawa gugup, tetapi tidak mundur. Ia memilih berjalan di sisi Dego menuju kamar tamu. Mith datang menyambut dengan tangan kosong, pedang upacaranya ditinggalkan bersama pengawal di luar halaman. Aku tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Carl pasti bisa melihatnya sendiri.
Pada hari ulang tahun, Nymph datang bersama ayahnya. Beruangnya tinggal di kereta karena ia ingin membawa buku latihan. Hana memintanya menyimpan buku sampai selesai makan. Ia sudah terlalu sering melihatku mencoba membaca sambil memegang garpu, dengan hasil yang buruk bagi taplak.
Nero duduk di antara Dego dan Nymph. Ia menunjukkan gambar kursi keenam yang dibalas Nymph beberapa bulan sebelumnya. Aku baru tahu mereka sudah saling berkirim gambar melalui surat Carl. Rupanya dunia bisa bergerak tanpa selalu memberitahuku terlebih dahulu.
Enam lilin dinyalakan. Fran menanyakan keinginanku sebelum aku meniupnya.
'Tidak ada yang menghukum juru masak kalau kuenya tidak habis.'
Keheningan itu berlangsung sampai Kiel menunduk ke bahu Niel untuk menyembunyikan tawa. Fran tampak hendak mengatakan bahwa aku meminta sesuatu yang terlalu mudah, tetapi aku menatapnya sampai ia benar-benar mengangguk.
Kue itu tidak habis. Juru masak tetap bekerja keesokan harinya. Aku memeriksanya sendiri.
Sesudah makan, kami bermain memasukkan cincin kain pada tonggak pendek. Dego menang dua kali sebelum Hana menuduhnya menggunakan hembusan air dari kendi. Ia bersumpah tidak melakukannya. Nymph menawarkan mendengar spiritnya untuk memastikan, lalu segera menutup mulut karena menyadari apa yang baru dikatakan.
Kami semua tertawa, termasuk Dego. Nymph tidak benar-benar memeriksa. Dalam latihan beberapa bulan terakhir, ia belajar membedakan meminta perhatian dari menyisipkan kekuatan ke dalam perintahnya. Poppy pernah mengeluh bahwa permintaan paling sulit ditolak justru datang dari suara yang terdengar sangat sopan.
Carl tidak ikut melempar pada putaran berikutnya. Ia memandang telapak tangannya, dan aku duduk di dekatnya.
'Mau istirahat?'
'Aku ingin belajar seperti mereka.'
Ia menunjuk Hana yang membuat bola air kecil di atas telapak untuk Nymph. Latihannya berlangsung jauh dari meja makan, dengan Dego dan pengajar mengawasi. Bola itu pecah ketika Hana tertawa, membasahi ujung roknya sendiri.
'Kau sudah punya pengajar di Terium,' kataku hati-hati.
'Dia tidak mengizinkanku mencoba.'
Ingatan tentang batu taman yang retak kembali begitu jelas. Aku menahan diri untuk tidak menyebut nama spirit yang kuketahui dari Mask.
Carl mengepalkan tangannya. 'Aku tidak akan memakainya di dekat kalian.'
'Aku tahu kau tidak ingin menyakiti kami.'
'Tapi semua orang tetap berdiri jauh.'
Aku tidak membantah hanya supaya ia merasa lebih baik. Ada jarak yang diperlukan karena kekuatan memang bisa melukai, dan ada orang yang memakai jarak itu untuk mempermalukannya. Aku ingin bisa membedakan keduanya sebelum memberikan janji.
Kami menemui Linn setelah permainan selesai. Carl meminta pendampingnya ikut. Ia mengatakan ingin mempelajari tanda sebelum kekuatannya keluar, bukan meminta mencoba ledakan di taman. Linn mendengarkan sampai ia selesai.
Pertemuan orang dewasa diadakan keesokan pagi, setelah Linn memeriksa surat dari ayah Carl yang dibawa penghubung resmi rombongan. Surat itu menyetujui pembahasan latihan bersama Peranto, bukan mencoba kekuatan berbahaya di dekat istana hanya karena seorang putri berulang tahun.
Aku menunggu bersama Nero di luar ruangan. Tidak ada batu pecah atau suara keras. Ketika Carl keluar, ia tampak lega sekaligus malu. Ia meminta kami ikut mendengar penjelasan Linn di tempat yang lebih pribadi.
'Spiritku disebut Bencana,' katanya.
Nero sudah tahu. Aku dapat melihatnya dari cara ia menggenggam tepi kursinya. Hana dan Dego diam, menunggu Carl meneruskan.
Pengajarnya telah mencatat tanda pada batu spirit tanpa memaksa serangannya keluar. Tingkat yang terbaca jauh di atas kebanyakan pengendali dewasa: delapan. Tetapi yang membuatnya berbahaya bukan angka itu saja. Sekali serangannya dimulai, kehancurannya tidak bisa dikecilkan sesuai keinginan pemiliknya. Latihan bukan janji bahwa aturan itu kelak akan hilang.
'Jadi aku belajar berhenti sebelum mulai,' katanya.
Aku mengangguk. Tidak ada yang menyuruhnya menunjukkan sesuatu sebagai bukti. Dego kemudian bertanya apakah ia masih mau bermain cincin sore nanti, karena Hana sudah melarang kendi dibawa dekat arena.
Carl memandang kami satu per satu. 'Masih.'
Nero mengambil pita lain dan meminta satu tanda halaman juga. Ia ingin mencatat giliran bermain supaya Dego tidak terus memulai lebih dahulu. Dego mengajukan protes yang tidak didengarkan siapa pun.
Di meja kamarku, sisa pita ulang tahun tergeletak di samping buku latihan. Aku mengambil sepotong, membuat tanda halaman untuk Carl, lalu menulis jadwal permainan di baliknya. Ia akan punya pelajaran yang lebih sulit daripada melempar cincin. Namun hari-harinya tidak perlu hanya berisi rasa takut terhadap kedua tangannya sendiri.