'Kalau dia bisa mendengarmu, apakah dia bisa menyuruhmu pergi?'
Poppy mematuk ujung pensilku. Aku segera menjauhkannya dari lubang tinta. Burung putih itu duduk di atas buku pelajaran, sayap pelanginya terbuka sedikit karena kesal.
'Kau bertanya seolah-olah aku akan menurut kepada siapa pun yang memanggil.'
'Dalam ceritanya, spirit cahaya bisa mengendalikan semua spirit.'
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya. Poppy memiringkan kepala. Tidak ada orang lain di kamarku, tetapi jantungku berdetak seolah seluruh istana baru saja mendengar.
'Cerita yang mana?'
Aku memandang pensil di tanganku. Selama bertahun-tahun, ingatan tentang Mask adalah sesuatu yang kusimpan sendiri. Aku bisa membicarakan kekhawatiran tentang Carl dengan alasan pernah mendengar kabar. Aku bisa menanyakan Gorath setelah mendengar nama yang terpotong. Namun Poppy selalu berada dekat pikiranku, dan sekarang aku lelah menyusun alasan setiap kali ia bertanya.
'Aku mengingat kisah tentang dunia ini,' kataku akhirnya. 'Sejak sebelum aku lahir sebagai Qiya.'
Poppy tidak langsung menjawab. Ia melompat turun dari buku ke tanganku, mencengkeram jari dengan kaki mungilnya.
'Sebelum kau lahir?'
Aku mengangguk, kemudian bercerita. Tentang hidup yang berakhir terlalu cepat, tentang bayi yang terbangun dengan lima kakak menakutkan, tentang seorang pangeran yang akan menghancurkan Peranto. Aku tidak mengetahui semua hari dalam hidup Carl. Kisah itu mengikuti bagian-bagian yang dipilih penulisnya. Aku tahu hasilnya, tetapi bukan setiap jalan menuju ke sana.
'Dan sekarang jalannya berbeda,' kata Poppy.
'Aku berharap begitu.'
Ia menyentuhkan kepalanya ke ibu jariku. Tidak ada tuduhan bahwa aku putri palsu. Tidak ada perintah segera mengaku kepada Fran. Aku menangis sedikit, lalu marah kepada hidungku sendiri karena mulai mampet saat aku masih ingin berbicara.
Poppy menungguku selesai. Sesudah itu ia mengatakan tidak bisa menjelaskan dari mana ingatanku berasal. Ia hanya tahu bahwa ketika memanggilku, ia menemukan diriku yang sekarang.
'Tentang Nymph, kita lihat apa yang benar-benar bisa dia lakukan. Jangan mengurungnya di dalam kalimat sebuah buku.'
Pemeriksaan Nymph berlangsung beberapa hari kemudian di rumah kaca latihan yang ditutup untuk tamu lain. Baron Eradlo duduk di samping putrinya. Linn mendampingi pengajar spirit, sementara Fran ingin hadir setelah mendengar ada kemampuan yang mungkin menyentuh Poppy.
Aku menahannya sebelum ia membuka pintu.
'Ayah tidak boleh menakutinya.'
'Aku belum melakukan apa pun.'
'Wajah Ayah sudah melakukan banyak hal.'
Linn batuk kecil. Fran menatapnya, kemudian masuk dengan wajah yang menurutnya pasti sangat ramah. Nymph langsung duduk lebih tegak. Aku menghela napas dan memilih kursi di sampingnya.
Pengajar memperkenalkan diri sebagai salah satu pengendali yang biasa membantu murid baru. Ia tidak memegang tubuh Nymph tanpa menjelaskan. Batu spirit yang mulai tampak di dekat pergelangannya memancarkan cahaya pucat ketika ia diminta memusatkan perhatian.
Aku tidak menyebut nama kemampuan itu lebih dahulu.
Mereka mulai dengan kehadiran spirit yang sudah dikenali pengajar, bukan Poppy. Nymph mendengarkan, mengerutkan dahi, lalu menyebut satu keluhan tentang panas. Pengajar memeriksa melalui pemilik spirit itu. Jawabannya cocok, tetapi mereka mengulang dengan pertanyaan berbeda sebelum menyimpulkan apa pun.
Ketika Nymph diminta berhenti, cahaya di pergelangannya meredup. Ia tampak lelah dan meminta minum. Ayahnya segera menyodorkan cangkir yang disiapkan Lily.
'Aku tidak menyuruhnya bicara,' kata Nymph. 'Dia bicara sendiri.'
'Mendengar dan memerintah bukan hal yang sama,' jawab pengajar. 'Hari ini kita mempelajari yang pertama dahulu.'
Di bawah kerahku Poppy bergerak. Aku menatap Fran, lalu Linn. Sebelum pemeriksaan dimulai, aku sudah meminta izin berbicara dengan Baron Eradlo mengenai sesuatu yang tidak boleh diumumkan. Kini ayah Nymph menatapku dengan sungguh-sungguh ketika Linn menjelaskan bahwa spiritku menyembunyikan wujud aslinya demi keselamatan.
'Nymph sudah mendengarnya,' kataku. 'Aku tidak ingin dia merasa bersalah karena mendengar sesuatu yang tidak ia pilih.'
Fran menarik napas panjang. Ia tidak tampak menyukai keadaan ini, tetapi akhirnya mengangguk. Baron Eradlo menyatakan ia tidak akan membawa cerita putrinya menjadi bahan pembicaraan di luar ruangan. Kami tidak memintanya bersumpah dengan nyawa atau menyerahkan anaknya kepada istana.
Poppy keluar dari kerahku dan hinggap pada tepi meja.
Nymph membelalakkan mata. Lily cepat menggeser cangkir sebelum tangannya menyenggolnya.
'Kau benar-benar burung.'
'Menurutmu aku kendi?' balas Poppy.
Nymph tertawa. Pengajar menoleh karena tidak mendengar jawaban yang sama, dan aku sadar percakapan itu hanya sampai kepada kami berdua. Aku menerangkannya tanpa mengucapkan seluruh cerita Mask. Poppy membiarkan Nymph bertanya tentang sayapnya, lalu mengatakan ia boleh menolak bila lelah.
'Aku juga boleh?' tanya Nymph.
'Tentu.'
Ia menutup mata sebentar. Cahaya di pergelangannya meredup, dan ia mengatakan suara Poppy kini terdengar jauh. Pengajar mencatatnya. Mereka akan mempelajari batas itu dalam latihan berikutnya, dengan istirahat dan pendampingan ayahnya.
Ketika Poppy hendak kembali kepadaku, Nymph berseru agar ia menunggu. Burung itu berhenti di tengah kepakan, lebih kaku daripada yang pernah kulihat. Nymph sendiri terkejut. Ia segera menarik tangannya dan berkata bahwa ia tidak bermaksud menahannya. Poppy bisa bergerak lagi sesaat kemudian, lalu hinggap di bahuku dengan bulu sedikit mengembang. Pengajar menghentikan latihan hari itu. Mendengar ternyata bukan satu-satunya hal yang terjadi, dan kami belum tahu bagaimana membedakan panggilan biasa dari perintah yang membawa kekuatan. Nymph memeluk ayahnya sementara aku membelai kepala Poppy. Tidak seorang pun meminta percobaan itu diulang hanya untuk memastikannya.
Sebelum pulang, Nymph meminta maaf karena tanpa sengaja mendengar Poppy sebelumnya. Aku menggeleng.
'Aku juga mendengar pohon mengeluh tentang burung. Kadang mereka tidak peduli aku ingin belajar.'
'Pohon bisa mengeluh?'
'Banyak sekali.'
Kami tertawa sampai Fran bertanya apakah pohon di taman pernah membicarakannya. Aku memilih memeluk lengannya daripada menjawab. Poppy melipat sayap, kembali bersembunyi sebelum pintu dibuka.
Malamnya, aku memberi satu tempat kosong pada meja belajarku untuk catatan latihan Nymph ketika ia datang lagi. Buku Mask tidak pernah menuliskan sore ini. Di dalam ingatanku, mereka bertemu sebagai orang dewasa setelah perang dan kebencian yang panjang. Di sini, Nymph masih membawa beruang bertelinga miring dan ingin belajar mengecilkan suara agar tidak pusing.
Aku menutup buku pelajaran tanpa mencoba mengisi seluruh masa depannya. Besok ia akan datang dengan pertanyaan sendiri. Kali ini aku ingin benar-benar mendengarnya.