Nymph datang dengan beruang yang telinganya semakin miring.
'Dia mendengar lebih baik begini,' katanya ketika aku bertanya.
Aku mencoba memiringkan kepalaku. Suara Lily tidak terdengar lebih jelas, tetapi bunyi cangkir yang diletakkannya di meja membuatku hampir menjatuhkan kepala beruang. Nymph tertawa sambil menyelamatkan bonekanya dari tanganku.
Kami duduk di ruang kecil dekat tempat Linn menerima tamu. Ayah Nymph sedang berbicara dengan seorang petugas perdagangan. Kali ini ia datang membawa dokumen, setelah beberapa bulan menimbang tawaran yang kusampaikan. Linn tidak mengirim orang untuk mengambilnya sebelum ia menjawab.
Baron Eradlo tampak lebih kurus daripada ketika mengantar Nymph menggambar bersama Carl. Lengan bajunya masih rapi, tetapi bagian manset sudah diperbaiki dengan benang yang sedikit berbeda warna. Nymph memerhatikan arah pandanganku dan menarik ujung bajunya sendiri.
'Ayah menjahitkannya juga,' katanya bangga.
'Berarti Ayahmu bisa membuat baju beruang?'
'Dia bilang beruangnya sudah cukup berbulu.'
Aku tertawa. Lily menawarkan kain sisa untuk dijadikan selimut boneka. Nymph memilih yang biru, lalu bertanya apakah boleh membawa potongan kecil untuk dicoba sendiri di rumah. Lily mengguntingkannya tanpa mengambil alih seluruh pekerjaannya.
Ketika pintu ruang Linn terbuka, aku mendengar Baron Eradlo menjelaskan bahwa salah satu pedagang telah membayar separuh pesanannya, kemudian membatalkan sisanya setelah mendengar gosip. Barang yang sudah disiapkan tidak diambil. Yang lain menolak melewati pintu rumahnya, seolah kemiskinan dan asal-usul seorang anak bisa menular melalui salam.
'Apakah istana bisa menyuruh mereka membeli?' tanyaku setelah ia duduk bersama kami.
Baron itu terkejut. Linn menggeleng sebelum petugas di belakangnya sempat menjawab.
'Kami dapat memeriksa perjanjian yang dilanggar. Tetapi membeli barang tetap berbeda dari membayar utang yang memang wajib dibayar.'
Baron Eradlo membetulkan letak berkasnya. Ia tidak meminta seluruh warga dipaksa menjadi pelanggannya. Ia ingin uang pesanan yang sudah jatuh tempo diselesaikan, dan kesempatan menawarkan barang kepada pembeli yang bersedia menilai mutunya.
Petugas itu menuliskan alamat tempat pesanan dibuat dan meminta salinan tanda terima. Baron menyerahkan kertas yang sudutnya sudah lecek karena terlalu sering dibuka. Nymph menyodorkan beruang kepadaku, lalu menolong ayahnya meratakan kertas dengan kedua telapak tangannya. Gerakannya begitu biasa, seolah di rumah mereka memang selalu bekerja bersama di meja yang sama.
Aku menoleh kepada Nymph. Ia mengusap telinga beruangnya dengan ibu jari. Barangkali percakapan ini sudah terlalu sering terdengar di rumah mereka.
Beberapa pekan kemudian, petugas perdagangan membantu mempertemukan ayahnya dengan pemasok kain untuk pengobatan keliling Hannes. Mereka memeriksa contoh barang, membandingkan harga, kemudian memesan jumlah kecil. Tidak ada janji semua dagangannya akan dibeli. Namun kali ini, ketika Nymph datang lagi, ayahnya membawa kotak contoh dengan langkah lebih ringan.
Kabar baik itu tidak menghentikan semua lidah.
Dalam sebuah pertemuan kecil yang dihadiri Lace, seorang perempuan bertanya apakah Nymph kini tinggal di istana karena ayahnya tidak mampu mengurusnya. Ia berbicara sambil tersenyum kepadaku, seolah sedang memberiku kesempatan menerima pujian.
'Nymph datang untuk belajar menggambar,' jawabku.
'Tentu, Yang Mulia. Anak seperti dia beruntung mendapatkan perhatian keluarga yang lebih pantas.'
Aku menurunkan cangkirku terlalu keras. Tangan Lily bergerak cepat menahan piringnya.
'Ayahnya ada di sini,' kataku.
Perempuan itu menoleh ke Baron Eradlo yang berdiri tidak jauh dari pintu. Ia pasti sudah melihatnya sejak awal. Aku tidak menyukai kenyataan bahwa melihat seseorang tidak selalu membuat orang berhenti merendahkannya.
Lace memotong percakapan sebelum kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang akan membuat Fran datang membawa serpihan es.
'Tamu kita tidak datang untuk diperiksa kelayakan keluarganya,' katanya. 'Bila ada urusan perdagangan, bicarakan dengan baron. Bila tidak, jangan jadikan putrinya bahan percakapan.'
Perempuan itu meminta maaf. Ia pertama-tama menatapku, tetapi Lace tidak mengangguk. Akhirnya ia berbalik kepada Nymph dan ayahnya.
Nymph tidak menjawab. Ia hanya memegang tangan Baron Eradlo. Tidak ada yang memaksanya menerima permintaan maaf itu di depan kami.
Sesudah tamu-tamu lain pergi, aku mengajak mereka ke taman dalam. Nymph meminta duduk di bawah pohon, dan ayahnya mengeluarkan selimut biru yang sudah selesai dijahit. Jahitannya tidak lurus, tetapi beruang itu tampak hangat.
'Aku yang menjahit bagian ini,' ujar Nymph, menunjuk satu sisi yang mengerut.
'Lalu aku membantu bagian yang tersangkut,' kata ayahnya.
Nymph menyandarkan bonekanya pada batang. Aku hendak memanggil Hana untuk melihat ketika Poppy tiba-tiba bergerak di bawah kerahku.
'Ada yang memanggilku,' bisiknya dalam pikiranku.
Aku membeku. Tidak ada pelayan di dekat kami selain Lily. Nove dan Grin berjaga di pintu taman. Poppy belum menampakkan diri kepada tamu.
Nymph menoleh ke arah kerahku.
'Kau mendengar burung?' tanyanya.
Lily mengangkat wajah. Baron Eradlo memandang cabang di atas kepala kami, mencari sesuatu yang belum terlihat. Aku menutup kerah dengan telapak tangan sebelum teringat gerakan itu justru membuatku semakin mencurigakan.
'Burung yang mana?'
Nymph mengerutkan dahi. 'Aku tidak tahu. Seperti ada yang bicara, tapi bukan dari pohon.'
Poppy menyuruhku tetap tenang. Ia tidak keluar. Aku meminta Lily memanggil Linn, lalu mengajak Nymph memeriksa selimut beruang sambil menunggu. Tanganku terasa dingin, bukan karena ancaman yang sudah terjadi, melainkan karena ingatan tentang gadis berspirit cahaya dalam Mask.
Linn mendengarkan tanpa meminta Nymph mengulanginya sampai berhasil. Ia menanyakan kapan suara itu mulai terdengar dan apakah membuatnya kesakitan. Nymph mengatakan baru beberapa kali, terutama ketika ayahnya membawa barang melewati tempat latihan pengendali spirit.
'Kita dapat meminta pengajar memeriksa,' kata Linn kepada ayahnya. 'Tidak di tengah pertemuan tamu. Dan bukan untuk hiburan orang yang ingin melihat keanehan.'
Baron Eradlo menatap putrinya. Nymph mengangguk kecil.
Sebelum pulang, ia bertanya apakah burung di kerahku baik-baik saja. Aku tidak menjawab dengan kebohongan baru. Aku berkata ada sesuatu yang perlu kubicarakan dahulu dengan keluargaku, dan aku akan memberitahunya jika sudah siap.
Nymph menerima itu. Ia mengangkat beruangnya untuk berpamitan, lalu menggandeng ayahnya menuju kereta. Selimut biru terseret sedikit di belakang boneka sampai baron membetulkannya. Aku memandang mereka sambil mendengar Poppy menghela napas di dalam pikiranku. Rupanya bukan hanya aku yang sedang belajar menyimpan kejutan.