Pada malam keempat, Nero datang ke kamar kami membawa kantong kain.
Aku sedang berusaha melipat baju yang hasilnya semakin besar setiap kali dilipat lagi. Hana mengambilnya dari tanganku sebelum baju itu berubah menjadi sesuatu yang tidak muat di dalam tas. Dego duduk di lantai bersama Carl, memilih gambar mana yang akan tinggal di Terium dan mana yang dibawa pulang.
Nero meletakkan kantongnya di sampingku. Isinya buah blum yang sudah diperiksa petugas dapur.
'Untuk perjalanan.'
'Kalau aku menghabiskannya sebelum gerbang?'
'Maka perjalananmu masih sangat panjang.'
Aku tertawa, lalu berhenti ketika melihat ia tidak ikut tersenyum. Ia memandang tas yang hampir ditutup Hana.
'Aku bertemu Ibu tadi siang.'
Carl meletakkan gambarnya. Nero tetap berdiri dekat tempat tidurku, memegang ujung kantong yang sudah diserahkannya.
Pertemuan itu berlangsung bersama pendamping dan petugas, bukan di kamar tahanan. Nero tidak menceritakan seluruh percakapannya. Ia hanya mengatakan ibunya menangis dan memintanya berbicara kepada ayah mereka.
'Dia ingin aku bilang sesuatu,' lanjutnya.
Carl tidak bergerak. Aku melihat jari-jarinya mengerut di atas kertas.
'Aku bilang aku ingin dia berhenti menyakitimu.'
Nero mengucapkannya begitu pelan sehingga bunyi kancing tas Hana terdengar lebih keras. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk sampai rambutnya menyembunyikan wajah.
Pendampingnya berdiri di pintu. Perempuan itu masuk setelah Nero mengangguk, lalu duduk di sisi lain tanpa menyuruhnya bercerita lagi. Aku mengambil saputangan dan meletakkannya di dekat tangan Nero. Carl perlahan menggeser gambar yang tadi dipilihnya.
'Yang ini untukmu,' katanya.
Gambar itu memperlihatkan dua anak di bangku. Tidak bagus sekali. Salah satu bangkunya lebih pendek daripada kaki mereka. Nero mengambilnya, menempelkan kertas ke dadanya, dan akhirnya menangis.
Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan tangisan itu. Dego pun berhenti bercanda. Kami menunggu sampai Nero meminta air, kemudian Hana menuangkannya.
Pagi berikutnya kami berangkat sesuai janji. Linn menyerahkan laporan kerja sama kepada penghubung Terium. Dua penyembuh Hannes tetap tinggal bersama staf perawatan, sementara Nenek pulang bersama kami. Kaisar datang mengantar kedua putranya ke halaman tempat kereta menunggu.
Carl menggenggam potret ibunya yang dibungkus kain. Ia tidak menyerahkannya kepadaku. Ia hanya ingin menunjukkan tempat aman yang dibuat pendampingnya di samping tempat tidur.
'Nanti kalau aku datang lagi, aku boleh melihatnya?'
Ia mengangguk. 'Aku ingin menggambar rambutnya. Susah.'
'Aku juga selalu salah menggambar rambut Ayah.'
Dego mendengus. 'Kau memberi Ayah tanduk.'
'Itu mahkotanya.'
Carl tertawa. Nero melambaikan tangan ketika kereta bergerak, gambar bangkunya sudah disimpan di dalam kamar. Aku membalas sampai mereka menjadi dua titik kecil di ujung halaman.
Tidak ada putusan pengadilan yang kami bawa pulang. Ada pemeriksaan yang masih berlangsung dan orang dewasa yang harus menepati pekerjaan mereka. Tetapi Carl tidak lagi memohon agar kami membawanya pergi diam-diam. Ia tahu siapa yang akan memeriksanya malam itu, siapa yang menjaga pintunya, dan kapan ayahnya akan datang.
Fran menunggu di tangga istana Peranto ketika kami tiba. Aku baru menjejak tanah saat ia mengangkatku, memeriksa kedua pipiku, lalu menatap Linn dengan wajah yang membuat pengawal di dekat tangga berdiri lebih tegak.
'Empat malam,' kataku cepat. 'Tidak lebih.'
'Perjalanannya terlalu lama.'
'Jalannya tidak bisa dipendekkan dengan memarahinya, Ayah.'
Kiel tertawa dari belakang Luca. Aku segera mengulurkan tangan kepadanya sebelum Fran memutuskan jalan mana yang patut dibekukan karena membuat putrinya duduk terlalu lama di kereta.
Selama beberapa pekan berikutnya, surat Terium datang melalui Linn. Aku tidak duduk setiap hari di depan ruang kerjanya. Ada pelajaran yang tertinggal, latihan bersama Poppy, dan Ash yang menolak mundur dari depan pintu kamarku sampai aku menggaruk bagian bawah dagunya.
Hampir tiga bulan setelah kunjungan kami, putusan itu akhirnya datang.
Fran meminta Linn menjelaskan di ruang keluarga. Pengadilan Terium menyatakan ibu Nero terbukti memerintahkan pemberian bahan berbahaya kepada Carl dan terlibat dalam kematian ibu Carl. Buku Arna, catatan tabib, pembayaran, dan keterangan pelaksana telah diperiksa bersama pembelaannya. Gelar serta kedudukannya dicabut. Hukuman mati dijatuhkan, dan surat berikutnya mengabarkan pelaksanaannya setelah pemeriksaan akhir perkara selesai.
Aku menatap pola karpet sambil mendengar. Tidak ada pesta untuk kabar itu. Dalam Mask, peristiwa seperti ini baru datang setelah Carl dibawa sampai batas kebenciannya. Kini ia masih lima tahun, masih belajar menggambar wajah ibunya. Masa depannya belum harus mengikuti halaman yang kuingat.
'Nero?' tanyaku.
'Tetap tinggal bersama Carl,' jawab Linn. 'Tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Ayah mereka mengirim keputusan tertulis kepada para pejabat agar kedudukannya tidak diubah karena perkara ibunya.'
Mith menanyakan para pelayan yang telah bersaksi. Linn menjelaskan mereka tidak dikembalikan begitu saja kepada atasan yang dahulu membungkam laporan mereka. Ada yang memilih tetap bekerja di bagian lain, ada yang pulang kepada keluarga setelah keterangannya selesai diperiksa. Arna meminta salinan tanda penerimaan bukunya sebelum kembali ke tempat tinggalnya. Aku teringat pintu yang tertutup ketika ia datang menemui Nenek. Sekarang aku bersyukur tidak berdiri di baliknya sambil menuntut agar perempuan itu segera membenarkan cerita yang sudah kuketahui. Ia membawa sesuatu yang harus didengar dengan sabar, meskipun aku ingin semuanya berakhir lebih cepat.
Aku meminta kertas setelah Linn selesai. Lama sekali aku hanya memegang pensil. Kata selamat tidak mungkin kutulis. Menyebut ibunya juga terasa salah jika aku tidak tahu apa yang sedang ia rasakan hari itu.
Akhirnya aku menggambar meja kecil dengan lima kursi: untuk Carl, Nero, Hana, Dego, dan aku. Di bawahnya kutulis bahwa kursi Nero tidak pernah dipindahkan.
Hana membaca kalimat itu, lalu menambahkan gambar cangkir di depan setiap kursi. Dego mengisi bagian tengah meja dengan ikan sampai kami berdua memprotes. Ia menghapusnya dan mengganti dengan buah.
Surat balasan Nero datang beberapa pekan kemudian. Tidak panjang. Ia menulis bahwa ia masih menangis kadang-kadang dan belum ingin datang ke pesta mana pun.
Namun pada bagian bawah kertas, ia menggambar satu kursi lagi.
Untuk Nymph, tulisnya. Carl bilang dia juga teman kita.
Aku memperhatikan kursi keenam itu lama sekali, lalu membawa suratnya ke meja belajarku. Ketika Poppy menyentuh bahuku, aku menunjukkan gambar itu kepadanya. Kami belum tahu semua yang menunggu di masa depan. Tetapi seseorang yang seharusnya kehilangan saudaranya sedang menyediakan tempat bagi seorang teman baru.