Pada pagi kedua di Terium, aku bangun karena Dego mengetuk pintu.
'Carl sudah menunggu.'
'Matahari saja belum siap menunggu siapa-siapa.'
Hana membuka tirai. Cahaya langsung membuatku menarik selimut sampai hidung. Rupanya matahari sudah siap sejak lama. Nenek tertawa dari meja kecil tempat ia memeriksa tasnya, lalu mengingatkan bahwa aku sendiri yang ingin melihat kolam bersama Carl.
Kolam itu memiliki ikan sungguhan, bukan gambar berkaki yang diperdebatkan kemarin. Carl membawa sedikit makanan dalam wadah yang diberikan penjaga taman. Dego berjongkok terlalu dekat sampai Grin menarik bagian belakang bajunya. Air memercik mengenai sepatunya, dan kali ini ia tidak bisa menyalahkan ikan.
Nero tidak ikut. Pendampingnya mengatakan ia ingin tinggal di kamar pagi itu. Carl mendengar penjelasan itu tanpa berhenti menaburkan makanan, tetapi dua kali ia menoleh ke jalan masuk.
'Nanti kita membawakan gambar,' kata Hana.
'Aku tidak mau menggambar ikan lagi,' ujar Carl.
Dego tampak tersinggung. 'Kalau begitu, katak.'
Mereka mulai mencari katak sampai penjaga menjelaskan bahwa tidak ada katak yang bisa dipanggil hanya karena dua pangeran membutuhkannya. Aku duduk di bangku bersama Hana. Dari sini pintu ruang perawatan terlihat di seberang halaman. Seorang perempuan berjubah abu-abu masuk didampingi Darre dan Linn.
Nenek keluar menjemputnya. Mereka berbicara sebentar, lalu pintu ditutup.
Aku bertanya siapa perempuan itu ketika Nenek menemui kami menjelang makan siang.
'Arna. Dulu dia membantu pencatatan obat di istana ini.'
'Dia tabib?'
'Bukan. Ia mencatat persediaan dan penyerahannya. Sekarang ia diminta menjelaskan catatan lama.'
Nenek tidak membawa kami masuk. Ia menyuruhku mencuci tangan, sementara Dego masih menunjukkan bagian celananya yang basah kepada siapa pun yang mau mendengar.
Di meja makan, Nero sudah duduk di samping Carl. Matanya agak sembap, tetapi tidak ada yang menyuruhnya menjelaskan di depan kami. Ia mengambil gambar katak yang akhirnya dibuat Dego dan bertanya mengapa hewan itu terlihat seperti cangkir.
Siang itu aku ingin mengikuti Linn. Ada buku obat lama, ada perempuan yang mengetahui sesuatu, dan ada kematian ibu Carl yang belum dibicarakan dalam surat-surat resmi. Dalam pikiranku, bagian-bagian itu begitu mudah disatukan.
Linn berhenti ketika menyadari aku terus berjalan di belakangnya.
'Aku boleh mendengar?'
'Tidak di ruang pemeriksaan saksi.'
'Aku sudah tahu ada racun.'
'Mengetahui ada kejahatan tidak membuatmu harus mendengar setiap pemeriksaannya.'
Aku menggembungkan pipi. Linn berlutut agar tidak berbicara dari jauh di atas kepalaku.
'Kalau ada hal yang perlu kauketahui tentang keselamatan temanmu, kami akan menjelaskannya. Tetapi Arna harus bisa bercerita tanpa seorang putri menunggu jawaban yang diinginkannya.'
Ucapan terakhir itu membuatku terdiam. Aku memang menginginkan satu jawaban tertentu. Aku bahkan sudah memilikinya sebelum perempuan itu membuka mulut.
Aku kembali ke kamar bermain. Carl sedang tidur, Nero membaca di dekat jendela, dan Hana membantu Dego mengeringkan sepatunya. Aku mengambil kertas kosong. Untuk pertama kalinya sejak tiba, aku tidak tahu gambar apa yang ingin kubuat.
Nero kemudian mengeluarkan kotak kecil berisi buah blum. Ia meletakkannya di antara kami, tetapi tangannya berhenti sebelum mengambil satu. Aku mengenali warna ungu yang dahulu dipakainya untuk berpura-pura memiliki luka.
'Sekarang boleh dimakan di meja,' katanya.
Hana mengambilkan piring. Kami tidak perlu menyembunyikan biji atau membersihkan jari sebelum seseorang datang. Ketika Carl bangun, Nero menyodorkan piring kepadanya. Carl memilih buah paling kecil, lalu menggeser yang lebih besar kembali kepada adiknya. Mereka makan perlahan sambil mendengar Dego menjelaskan bagaimana sepatunya sebenarnya bisa kering lebih cepat jika ia diperbolehkan mencoba spirit air. Hana menyuruhnya bertanya kepada guru terlebih dahulu. Nero tertawa sampai hampir menjatuhkan buahnya. Aku menyimpan gambar yang belum selesai dan ikut mengambil satu.
Malam ketiga, Linn dan Nenek menjelaskan hasil pertemuan kepada kami bersama Darre. Kaisar Terium telah mengizinkan keluarga Carl mendengar bagian yang berkaitan dengan perawatannya. Tidak ada saksi yang dibawa ke kamar kami.
Arna menyimpan buku penyerahan persediaan karena ia dahulu diminta menutup catatan yang belum ditandatangani. Sesudah ibu Carl meninggal, ia dipindahkan dari istana. Buku itu tidak menyebut kata pembunuhan, tetapi mencatat bahan yang keluar di luar permintaan tabib, tanggal, dan penerimanya.
'Penerimanya pelayan yang sekarang diperiksa?' tanyaku.
Linn mengangguk. 'Namanya sama dengan yang muncul dalam perintah dapur belakangan. Ia telah memberi keterangan. Catatan lama dibandingkan dengan laporan tabib yang merawat ibu Carl.'
'Jadi sudah pasti?'
'Ada bukti yang akan diajukan di persidangan. Hakim belum memutus.'
Tidak ada penjelasan tentang cara meracik atau jumlah bahan itu. Aku tidak membutuhkannya. Yang ingin kutahu hanya apakah Carl masih harus menunggu bertahun-tahun sampai seseorang menganggap penderitaannya cukup penting.
Darre menyatakan perawatan Carl akan diteruskan. Napas malamnya lebih baik, tetapi tubuhnya masih memerlukan waktu untuk pulih. Nenek akan meninggalkan dua penyembuh Hannes selama masa kerja sama, bergantian dengan tabib istana. Aku melirik Carl yang duduk di samping pendampingnya. Ia sedang memandangi tangannya sendiri.
'Ibuku tidak sakit karena aku lahir?' tanyanya.
Tidak seorang pun segera menjawab dengan cerita yang manis. Darre memindahkan kursinya mendekat.
'Kau tidak menyebabkan seseorang menyakitinya, Carl.'
Carl mengangguk sekali, tetapi bibirnya bergetar. Aku mengenali pertanyaan itu lebih baik daripada yang kuinginkan. Pernah ada saat ketika kematian Rein terasa seperti sesuatu yang mengikuti namaku sejak aku lahir.
Aku menggeser kotak pensil agar Carl bisa meletakkan tangannya di meja tanpa terhalang. Ia menyentuh gelang bangkunya, lalu bertanya apakah mereka masih memiliki gambar ibunya.
Kaisar Terium datang membawa sebuah kotak setelah Darre memanggilnya. Di dalamnya ada potret kecil seorang perempuan berwajah lembut, dilukis pada lempeng tipis dan dibingkai kayu gelap. Carl menatapnya lama sekali.
'Mengapa tidak pernah diberikan kepadaku?'
Ayahnya menunduk. 'Aku menyimpannya karena tidak sanggup melihatnya. Aku seharusnya tidak membuatmu kehilangan wajahnya juga.'
Carl menarik bingkai itu mendekat. Kaisar tidak mengambilnya kembali.
Nero berdiri di belakang kursi, sangat diam. Ketika Carl menangis, ia terlihat hendak maju, lalu berhenti. Aku mendekatinya dan menyentuh ujung lengan bajunya. Ia memegang tanganku sebentar.
Potret itu diletakkan di meja Carl, menghadap tempat tidurnya. Malam itu tidak ada permainan. Kami hanya duduk sampai Carl sendiri meminta pendamping menyalakan lampu yang lebih kecil.