Carl tidak menunggu di halaman penyambutan.
Aku mencarinya di antara jubah para pejabat sampai Nenek menyentuh tanganku. Kereta kami telah berhenti di depan bangunan rendah di sisi istana Terium. Linn turun lebih dahulu, berbicara dengan seorang pengawal, kemudian mempersilakan kami keluar. Perjalanan dari perbatasan menghabiskan dua hari lagi, dengan penginapan dan wajah Dego yang semakin sulit menyembunyikan rasa bosan.
'Dia sakit lagi?' tanyaku.
'Dia sedang menunggu di tempat yang lebih tenang,' jawab Nenek.
Aku hampir berlari sebelum Grin mengingatkan ujung gaunku tersangkut di pijakan. Hana menolong melepaskannya. Dego telah membawa buku ikan barunya dengan kedua tangan, seolah-olah jika ia kehilangan pegangan, seluruh isi buku itu akan berenang pergi.
Kami melewati lorong yang menghadap taman. Dua pengawal berada di pintu, tetapi daun pintunya terbuka. Dari dalam terdengar suara Nero memprotes sesuatu tentang seekor ikan yang tidak mungkin memiliki begitu banyak kaki.
'Itu bukan kaki. Itu rumput,' kata Carl.
Dego berhenti di ambang. 'Rumput tidak tumbuh dari perut ikan.'
Carl mengangkat kepala. Sesaat ia hanya menatap kami. Lalu kertas di tangannya jatuh ke meja dan ia berdiri begitu cepat sampai kursinya berderit.
'Kau datang.'
Aku mengangguk, meskipun seluruh perjalanan panjang tadi tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang bisa dijelaskan dengan satu anggukan saja.
Carl maju dua langkah, lalu berhenti. Aku membuka tangan. Pelukannya terasa hangat, sedikit kaku pada awalnya, kemudian lebih erat. Ia tidak lagi berbau obat pahit sekuat ketika pertama kali tinggal di Peranto. Di pergelangan tangannya masih ada gelang bergambar bangku yang kubuat sebelum ia pulang.
'Empat malam,' kataku sebelum ia bertanya. 'Ayah menghitungnya sendiri.'
Nero mengangkat empat jarinya. 'Perjalanannya juga dihitung?'
'Tidak.'
'Kalau begitu, kau harus pulang melalui jalan yang sangat panjang.'
Dego langsung menoleh. 'Jangan. Kami sudah terlalu lama duduk.'
Hana tertawa. Carl tersenyum, dan untuk beberapa saat aku hanya ingin memandang wajahnya seperti itu. Bukan wajah pangeran dalam Mask yang mengingat setiap hinaan. Bukan anak pucat yang meminta maaf karena memilih makanan. Hanya teman yang baru bertemu lagi.
Darre datang membawa baki berisi cangkir. Ia menyapa Nenek dengan hormat, kemudian menyerahkan urusan rombongan kepada pendamping Carl yang sudah kukenal. Linn dan Nenek akan membahas perawatan di ruang sebelah setelah kami beristirahat.
Pendamping menunjukkan kamar tamu kami di seberang lorong. Nove memeriksa jendela, sementara Grin menghitung tas yang diturunkan pelayan. Sebuah jendela menghadap jalan masuk istana, dan aku melambai kepada kusir sebelum ia membawa kereta ke tempat beristirahat. Linn memberikan surat untuk dikirim kepada Fran melalui penghubung resmi. Aku meminta menambahkan satu kalimat bahwa kami sudah tiba. Dego ingin melaporkan jumlah lubang jalan yang dilewati, tetapi Hana mengingatkan ia tertidur hampir sepanjang pagi. Akhirnya ia hanya menambahkan gambar roda, yang tidak mungkin diperdebatkan siapa pun.
'Boleh bermain di sini?' tanya Dego.
'Sampai makan siang. Sesudah itu Carl perlu tidur sebentar,' kata Darre.
Carl tidak menunduk mendengar aturan itu. Ia malah menarik buku Dego mendekat, bertanya apakah ada ikan baru yang benar-benar mempunyai kaki. Aku duduk bersama Hana di depan kertas bertebaran. Nero mengambil pensil ungu, lalu meletakkannya kembali tanpa menggambar.
Di luar jendela tumbuh pohon berdaun tipis. Suaranya mengeluh tentang seekor burung yang terlalu rajin mematuk cabang. Poppy bergerak kecil di bawah kerahku. Aku menahan tawa ketika Nero menoleh, mengira aku menertawakan gambarnya yang bahkan belum dibuat.
'Ada burung bertengkar di luar,' kataku.
Nero memandang jendela. Burung itu terbang sebelum ia sempat melihatnya.
Saat makan siang, kursi di ujung meja tidak segera ditempati. Aku baru mengerti ketika kaisar Terium masuk tanpa rombongan bangsawan. Carl meletakkan sendoknya. Nero berdiri, lalu duduk kembali setelah ayahnya mengisyaratkan agar kami meneruskan makan.
Kaisar itu tampak berbeda dari Fran. Gerakannya lebih lambat dan suaranya tidak memenuhi ruangan. Namun aku tidak bisa menilai kebaikan seseorang hanya karena ia tidak membuat es setiap kali marah.
Ia bertanya tentang perjalanan kami, berterima kasih kepada Nenek, lalu menoleh kepada kedua putranya.
'Aku akan datang setelah pelajaran sore. Kalian boleh menunjukkan kebun yang kemarin kalian ceritakan.'
Carl tidak menjawab. Nero mengaduk supnya sekali.
'Ayah pernah bilang begitu,' katanya.
Ruangan menjadi sunyi. Aku menahan napas, menunggu suara keras atau ancaman yang sudah terlalu akrab di istanaku sendiri.
Kaisar memandang mangkuk Nero. 'Ya. Dan aku tidak datang.'
Ia tidak meminta Nero tersenyum. Sesudah makan, ia meninggalkan pesan kepada pendamping agar pertemuan kerja terakhirnya dipindahkan. Aku belum tahu apakah janji sore itu akan ditepati. Carl pun tidak tampak siap mempercayainya.
Ketika kami kembali ke kamar bermain, Nero berjalan paling belakang. Hana dan Dego sudah berdebat tentang warna sirip. Carl mengambilkan kertas untuk mereka. Aku menunggu di dekat pintu saat Nero menyentuh dua manik ungu pada gelangnya.
'Ibuku tidak boleh masuk ke sini lagi,' katanya pelan.
Aku tahu. Tetapi mengetahui dari surat sangat berbeda dari mendengarnya di depan anak yang merindukan orang itu.
'Kau ingin menemuinya?'
Ia mengangkat bahu. 'Kemarin aku ingin. Hari ini tidak tahu.'
Aku tidak mengatakan bahwa ia seharusnya lega. Selir itu menyakiti Carl, dan dalam cerita yang kuingat ia juga membunuh ibu Carl. Namun bagi Nero, perempuan itu pernah menyisir rambutnya dan mengetahui makanan yang tidak ia sukai. Ingatan baik tidak membuat perbuatannya benar, tetapi aku juga tidak bisa mengambil ingatan itu dari Nero.
Carl muncul di belakangku. Rupanya ia mendengar bagian terakhir.
'Aku tidak mau bertemu,' katanya.
Nero menatap lantai. 'Aku tidak menyuruhmu.'
'Aku tahu.'
Mereka diam cukup lama. Kemudian Carl menggeser kertas kosong ke sisi meja Nero. Ia tidak memeluknya atau mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Nero duduk dan akhirnya memilih pensil ungu.
Sore itu, terdengar langkah di lorong tepat ketika pelajaran mereka berakhir. Kaisar Terium berdiri di pintu, masih mengenakan pakaian kerjanya.
'Kebunnya ke arah mana?' tanyanya.
Nero menoleh kepada Carl. Carl melipat gambar ikannya, lalu menunjuk pintu taman. Ia berjalan di samping Dego, tidak langsung menggandeng tangan ayahnya.
Aku mengikuti bersama Hana. Di belakang kami, kaisar memperlambat langkah agar tidak mendahului kedua putranya. Ia datang kali ini. Untuk sore itu, itulah hal pertama yang bisa kulihat sendiri.