Tiga bulan setelah kepulangan Carl, kabar penahanan ibu Nero sampai ke istana.
Ia tidak ditahan karena putranya pernah membawa buah atau karena Carl memiliki spirit yang ditakuti. Pemeriksaan petugas dapur menemukan perintah dan pembayaran yang mengarah kepadanya. Darre mengirim laporan tentang hasil yang sudah diserahkan kepada pihak yang memeriksa perkara, sementara kesaksian para pelayan dicatat terpisah.
Perkara itu belum diputus. Namun, kewenangannya atas dapur dan tempat tinggal kedua anak sudah dihentikan selama penyelidikan.
Aku memikirkan Nero lebih dahulu ketika mendengar kabar tersebut.
Carl pernah dikunci dan diracuni. Nero menolongnya diam-diam, tetapi orang yang kini harus diperiksa tetap ibunya sendiri. Aku tidak tahu apakah ia merasa lega, takut, marah, atau semuanya sekaligus. Tidak ada bagian Mask yang mempersiapkanku memahami perasaannya sebagai anak sekecil itu.
Surat undangan Terium datang beberapa hari kemudian. Mereka meminta keluarga Hannes mengirim perwakilan untuk membicarakan kelanjutan perawatan dan kerja sama pengobatan. Linn ditugaskan membawa laporan yang diperlukan dari Peranto. Nenek bersedia ikut sebagai penyembuh, dengan petugas Hannes yang akan membantu pekerjaannya.
Dego langsung ingin mengantar suratnya sendiri kepada Carl.
Aku juga ingin pergi.
Ayah mengatakan tidak sebelum aku selesai menjelaskan. Jawaban itu tidak mengejutkan. Nama ibu Nero, dapur yang berbahaya, dan perjalanan ke luar kekaisaran pasti bukan gabungan yang akan membuatnya tersenyum.
Nenek meminta kami duduk dan membicarakannya setelah rencana perjalanan lengkap. Anak-anak tidak dibawa untuk menghadiri pemeriksaan selir. Kunjungan kami, jika diizinkan, hanya untuk bertemu Carl dan Nero di tempat yang penjagaannya sudah dibicarakan kedua pihak.
Aku menunggu, meskipun menunggu terasa seperti pekerjaan paling sulit yang pernah diberikan kepadaku.
Selama beberapa pekan sebelumnya, latihan di rumah kaca terus dilakukan. Aku bisa menopang benda dengan sulur lebih rapi, melepaskan tanpa menjatuhkannya, dan mengenali saat pikiranku terlalu lelah untuk meneruskan. Pemurnian masih belum bisa kupanggil setiap kali kotak tanah diletakkan di meja.
Poppy tidak memarahiku. Ia hanya mengingatkan bahwa memiliki kekuatan bukan alasan mengira semua perjalanan boleh kutempuh tanpa orang yang bisa menjagaku.
'Aku tahu,' gerutuku.
'Kadang-kadang kau tahu sesudah mulai berlari.'
Aku ingin membantah. Lalu aku teringat toko gelang dan Grin yang hampir kehilangan aku dalam keramaian. Baiklah. Burung itu punya bukti.
Dua hari kemudian, ayah memanggil kami. Ia sudah menerima penjelasan tentang tempat menginap, pendamping anak-anak, dan siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban bila pengaturan berubah. Linn serta nenek ikut mendengar ketika ia menyampaikan syaratnya.
Empat malam di ibu kota Terium. Tidak menghadiri sidang. Tidak berpindah tempat tanpa pendamping yang ditetapkan. Jika keadaan memburuk, kami kembali sebelum jadwal.
'Qiya boleh membatalkan sekarang,' katanya. 'Tidak perlu membuktikan berani dengan ikut pergi.'
Aku melihat Dego, lalu Hana yang diundang nenek untuk menemani perjalanan jika ia sendiri ingin. Hana mengangguk kepadaku, bukan kepada pengawal yang berdiri di pintu.
'Qiya ingin bertemu mereka,' jawabku. 'Kalau tidak aman, Qiya akan ikut pulang.'
Ayah belum terlihat senang. Tetapi ia menyetujui setelah nenek mengatakan bahwa ia akan menjaga cucunya bersama rombongan dewasa, bukan menyerahkan semua keputusan kepada dua anak yang rindu teman bermain.
Aku memeluk ayah. Ia menahanku sedikit lebih lama sebelum membiarkan Lily mengurus tas perjalanan.
Pagi keberangkatan, Mith, Luca, Niel, dan Kiel mengantar sampai gerbang. Dego berdiri di samping kereta dengan membawa buku gambar pengganti buku ikan yang sudah dihadiahkan kepada Carl. Ia berkali-kali memeriksa apakah suratnya untuk Nero masuk ke kantong yang benar.
Niel menyerahkan catatan kepada petugas Hannes. Ia tidak ikut kali ini. Ada jadwal belajar dan tugas membantu pengobatan di ibu kota yang harus dijalankannya. Mith juga tetap di Peranto, melanjutkan tugas bersama ayah. Aku baru menyadari bahwa berpisah beberapa hari tidak selalu berarti seseorang ditinggalkan.
Perjalanan berlangsung lebih lama daripada kunjungan ke Tsani. Kami berhenti pada tempat yang sudah diperiksa dan tidak memaksakan perjalanan ketika kudanya perlu beristirahat. Poppy tetap menjadi bros di kerahku. Nove dan Grin bergantian berada paling dekat dengan kereta.
Pada malam pertama, Dego mencoba membaca suratnya sendiri di bawah lampu. Ia mengeluh tulisannya tampak terlalu formal.
'Kakak menulis sendiri?'
'Dibantu guru.'
'Kalau begitu tambahkan gambar ikan.'
Ia melihatku dengan wajah yang tidak menyukai lelucon itu. Hana tertawa kecil, lalu membantu membuka kertas baru agar Dego bisa menggambar sesuatu yang lebih mudah dikenali.
Aku tertidur sebelum gambarnya selesai. Tubuh lima tahun ini masih tidak peduli seberapa banyak cerita yang ingin kupikirkan sebelum malam berakhir.
Ketika melewati gerbang perbatasan, aku bangun dan melihat lambang yang berbeda dari lambang Peranto. Para petugas berbicara kepada Linn, memeriksa rombongan, lalu memberi jalan kepada pengawal Terium yang datang menyambut.
Aku memegang tepi jendela. Selama ini, Terium sering muncul dalam pikiranku sebagai tempat asal bencana yang akan menghancurkan keluargaku. Dari jalan ini, yang kulihat justru rumah, ladang, pedagang yang memperbaiki tali muatan, dan seorang anak yang tertawa sambil mengejar topinya.
Mereka bukan orang-orang yang kulihat dalam ingatan tentang kehancuran Peranto.
Di dekat gerbang, bunga ungu merambat pada batu dengan daun lebih lebar daripada tanaman rumah kaca. Suara-suara kecil menyambut kereta kami, bertanya mengapa begitu banyak orang menunduk kepada seorang anak. Aku menahan senyum dan tidak menjawab keras-keras. Poppy menyentuh kerahku dari tempatnya bersembunyi. Ternyata di luar Peranto pun, pepohonan bisa lebih terus terang daripada bangsawan yang menyampaikan salam sambil menjaga setiap katanya.
Nenek menyentuh bahuku. 'Sudah masuk negeri temanmu.'
Aku melepaskan tepi jendela, lalu duduk kembali di sampingnya.
Aku mengangguk. Di tempat ini ada orang yang menyakiti Carl, tetapi ada juga Nero, Darre, pelayan yang akhirnya berani memberi kesaksian, dan warga yang tidak pernah mengenal namaku.
Aku ingin bertemu mereka tanpa lebih dahulu memutuskan bahwa seluruh negeri ini adalah musuh. Seperti itulah aku ingin Carl melihat Peranto, dan kini aku harus belajar melakukan hal yang sama.