Linn meletakkan dua kotak di meja rumah kaca.
Kotak pertama berisi tanah biasa. Kotak kedua berisi tanah dari bagian Henzo yang belum pulih. Tanah itu dibawa setelah diperiksa para penjaga, dalam jumlah kecil dan wadah tertutup. Tidak ada seorang warga yang menunggu di luar agar aku menyelamatkan seluruh hasil panennya sebelum makan siang.
Pelajaran ini diadakan atas permintaanku.
Aku ingin memahami apa yang kulakukan pada hari tanah Henzo menghijau, bukan hanya menunggu sampai suatu kebahagiaan besar datang tanpa diduga. Tetapi ketika melihat kotak itu, aku langsung teringat semua orang yang pernah menyuruhku berdoa.
Poppy muncul di bahuku setelah pintu ditutup. Hanya keluarga, Linn, dan Lily yang berada di rumah kaca. Nove serta Grin menjaga bagian luar agar tidak ada tamu yang tiba-tiba masuk.
'Kau sudah menatap tanah itu seperti sedang menunggu ia meminta maaf,' kata Poppy.
Aku menoleh tajam. 'Aku sedang berpikir.'
'Terlalu keras.'
Dego tertawa. Aku memilih mengabaikannya dan duduk di bangku kecil. Kelima kakakku mengelilingi meja, sampai Linn meminta mereka mundur agar cahaya dari jendela tidak tertutup tubuh orang-orang yang terlalu bersemangat.
Ayah duduk di dekat pintu. Ia tidak memegang setumpuk laporan untuk dibaca selama menunggu. Untuk pelajaran singkat ini, perhatiannya benar-benar ada di ruangan.
'Yang pertama bukan pemurnian,' kata Linn. 'Tunjukkan gerakan sulur yang sudah biasa kau lakukan.'
Aku mengulurkan tangan ke kotak tanah biasa. Sulur kecil muncul dan bergerak mendekati tongkat yang diletakkan di tepinya. Aku melilitkan sulur itu sampai tongkat berdiri, lalu melepaskannya kembali.
'Sekarang mengapa tongkatnya jatuh?' tanya Linn.
'Karena dilepas.'
'Bagus. Jangan menunggu spiritmu memperbaiki perintah yang tidak kau pikirkan sampai selesai.'
Aku memandang tongkat yang tergeletak di tanah. Rupanya ada cara menegurku tanpa terdengar seperti teguran. Poppy menutup paruhnya dengan sayap seolah sedang menahan tawa.
Kami mencoba lagi. Kali ini aku meminta sulur membuat penyangga sebelum melonggarkan lilitan. Tongkat itu tetap berdiri. Luca mengangguk dengan wajah terlalu bangga, padahal tugasnya baru menjaga sebuah tongkat kecil agar tidak rebah.
'Qiya boleh melatihnya sampai bisa menahan serangan,' katanya.
'Bukan hari ini,' jawab Linn sebelum aku harus menolak sendiri.
Luca menutup mulut. Ia lalu membantu memindahkan kotak pertama, tidak mengeluarkan batu untuk membuktikan maksudnya.
Kotak tanah Henzo diletakkan di depanku. Poppy menjelaskan bahwa gerakan sulur dan pemurnian bukan hal yang sama. Aku sudah bisa memanggil tanaman, tetapi tanah yang rusak oleh iblis tidak berubah hanya karena sebuah akar berhasil melintasinya.
Aku mengingat apa yang dipelajari dahulu. Spirit tanah tertinggi pun tidak bisa begitu saja memurnikan tempat yang dirusak pasukan iblis. Itulah alasan orang memburu sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.
'Qiya harus bahagia sekali,' kataku.
'Kau tidak bisa memerintahkan diri sendiri bahagia seperti memanggil sulur,' jawab Poppy.
Aku sudah tahu. Namun, mengetahui syaratnya tidak membuatku mengerti bagaimana berlatih tanpa menunggu pesta, hadiah, atau seluruh keluargaku berkumpul untuk mengatakan mereka menyayangiku.
Aku memejamkan mata dan mencoba mengingat hari ulang tahun. Lima lilin. Surat Carl. Gambar kuda hijau. Tidak ada yang terjadi pada tanah di depanku.
Dego bergeser, lalu duduk diam ketika Niel menyentuh lengannya. Tidak ada yang menyuruhku mencoba lebih keras agar mereka tidak kecewa.
Aku membuka mata. 'Belum bisa.'
Linn mengangguk dan menuliskan hasilnya. Poppy menepuk pipiku dengan sayap yang lembut, lalu terbang ke dekat kotak. Ia mengatakan latihan tidak harus menghasilkan pemurnian setiap kali agar aku dapat mengenali perbedaannya.
Aku mengambil tongkat dari kotak pertama, ingin merapikan meja. Ujungnya menyentuh jariku yang tadi terlalu erat memegang kertas catatan. Ada goresan kecil.
Ayah langsung bangkit.
Aku menatapnya sebelum ia memanggil siapa pun. 'Tidak ada yang salah membersihkan meja.'
Luca juga sudah berdiri. Niel mengulurkan tangan dan meminta izin melihat jariku. Ia menutup goresan itu dengan sentuhan singkat, sementara Linn memeriksa tongkat agar ujung yang kasar tidak dipakai lagi.
Tidak ada pelayan yang diseret masuk.
Aku mengembuskan napas, baru menyadari bahwa itulah yang sejak tadi kutakutkan. Bertahun-tahun lalu, sebuah luka jauh lebih kecil hampir membuat orang lain kehilangan hidup. Hari ini kami bisa melihat sesuatu yang perlu diperbaiki tanpa harus mencari leher untuk disalahkan.
Ayah duduk kembali, perlahan. 'Tongkat yang kasar itu diganti.'
'Ya,' jawab Linn.
Aku menatap meja dan tersenyum, sungguh-sungguh. Bukan karena seseorang memberiku lebih banyak permata. Bukan pula karena aku sedang mencoba memenuhi permintaan di luar pintu. Aku hanya melihat keluargaku melakukan sesuatu yang dahulu hampir tidak bisa kubayangkan.
Rasa lega itu datang begitu besar sampai dadaku terasa penuh. Aku ingin tertawa dan menangis sekaligus. Wajah pelayan yang dahulu ketakutan terlintas, disusul tangan Niel yang baru saja menyembuhkan jariku tanpa meminta siapa pun membayar kesalahan. Untuk sesaat aku tidak sedang menghitung ancaman berikutnya. Aku bahagia, sepenuhnya, melihat bahwa orang-orang yang kucintai bisa belajar menjaga seseorang tanpa melukai orang lain.
Poppy mengangkat kepala.
Di kotak kedua, warna kelabu mulai berubah pada bagian yang paling dekat denganku. Bukan seluruh tanah, hanya petak kecil seukuran telapak tangan. Bau kering yang menyesakkan perlahan berkurang. Aku menahan keinginan meraih kotaknya dan membiarkan perubahan itu berhenti sendiri.
'Catat yang terjadi,' kata Poppy pelan. 'Jangan mengejarnya dengan memaksa diri tersenyum.'
Linn memberi tanda pada batas tanah yang berubah. Kami tidak langsung menanam benih atau mengumumkan hasilnya. Wadah itu disimpan untuk diperiksa lagi, dan aku diberi waktu berhenti sebelum terlalu lelah memperhatikan hal yang sama.
Di luar rumah kaca, Ash menunggu di bawah naungan. Aku duduk di dekatnya, menunjukkan jari yang sudah pulih. Ia mengendus tanganku, lalu menyandarkan kepala besar di samping kakiku.
Aku belum bisa memurnikan sebidang ladang kapan pun diminta. Tetapi sekarang aku tahu ada hal lain yang perlu tumbuh bersama kekuatanku: keberanian membiarkan hidup orang lain tetap aman, bahkan ketika keluargaku sedang paling takut kehilangan diriku.