Putusan atas Karn dibacakan ketika aku sedang belajar di istana putri.
Aku tidak dibawa ke tempat pemeriksaan terakhir. Ayah menyampaikan hasilnya setelah para pejabat selesai mencatat putusan, bersama Linn dan kedua orang tua ibu. Kami duduk di ruang yang jendelanya menghadap taman, jauh dari kerumunan yang mungkin datang hanya untuk melihat hukuman.
Karn terbukti menyerahkan informasi rombongan Rein dengan mengetahui bahwa penerimanya berhubungan dengan pasukan penyerang. Pembayaran, surat pengiriman, dan kesaksian pengawal yang selamat saling menguatkan. Perintah kantor Helius menjadi bagian dari perkara, bukan alasan memanggil semua orang yang pernah membeli barang dari sana sebagai pengkhianat.
Ayah mengatakan hukuman bagi Karn adalah hukuman mati.
Aku diam lama setelah mendengarnya. Aku sudah melihat betapa mudah keluargaku mengucapkan kata itu untuk goresan kecil atau jawaban yang tidak disukai. Sekarang ada sebuah kejahatan yang benar-benar dibuktikan dan seseorang yang akan kehilangan hidup karena perbuatannya.
Rasanya tetap tidak membuatku senang.
'Qiya tidak perlu melihat pelaksanaannya,' kata ayah.
Aku mengangguk. 'Qiya tidak mau.'
Ia tidak menyebutku lemah atau mengatakan aku harus bersyukur telah mendapat kesempatan menyaksikan pembalasan. Kakek Hannes mengulurkan tangannya, dan aku memegangnya sampai penjelasan selesai.
Ada bagian yang tidak dapat dipastikan kembali sepenuhnya. Cara keluarga Helius meninggal tidak dijadikan cerita kemenangan baru. Catatan resmi akan memisahkan perintah yang terbukti dari dugaan yang dulu beredar, termasuk anggapan bahwa istri dan anak-anaknya pasti ikut merencanakan serangan hanya karena nama mereka sama.
'Mereka tidak bisa kembali untuk mendengar catatannya diperbaiki,' kataku.
'Tidak,' jawab Linn.
Aku memandang ayah. 'Tapi orang lain bisa membacanya.'
Ayah mengangguk. Ia menyetujui agar hasil yang dapat diumumkan disampaikan tanpa mempertontonkan tubuh atau menyebut semua orang dalam satu keluarga sebagai sasaran. Beberapa pejabat mungkin menganggap itu tidak cukup menakutkan. Aku tidak ingin membangun keselamatanku dari ketakutan orang yang tidak terbukti melakukan apa pun.
Tentang Gorath, putusan itu tidak mengakhiri ancamannya. Keterangan dan jalur pengiriman akan dipakai untuk mencari sisa jaringan yang membantu pasukan iblis. Penjagaan segel diperiksa kembali. Tetapi tidak ada kabar yang membuktikan bahwa pemimpin iblis tersebut sudah keluar atau telah mati.
Aku menerima perbedaan itu. Kematian ibu tidak lagi hanya diikuti potongan nama yang dihentikan orang dewasa. Sebagian tanggung jawabnya sudah ditetapkan. Musuh yang belum ditemukan tetap harus dicari, bukan dinyatakan hilang agar keluarga kami dapat menutup berkas dengan perasaan tenang.
Sesudah penjelasan, nenek bertanya apakah aku ingin mengunjungi tempat peristirahatan ibu.
Aku mengangguk sebelum sempat memikirkan alasan untuk menundanya.
Kami berangkat bersama ayah dan kelima kakakku. Tidak ada rombongan tamu pesta. Pengawal tetap ada, tetapi mereka memberi ruang ketika kami memasuki bagian taman pemakaman keluarga kekaisaran.
Nama Rein terukir pada batu yang bersih. Aku melihat bunga yang masih segar di depannya, lalu menoleh kepada ayah.
'Ayah datang ke sini?'
'Ya.'
Aku tidak menanyakan berapa sering. Ada kesedihan yang selama ini dijalankannya tanpa harus diperlihatkan kepadaku setiap hari.
Lily menyerahkan bunga yang kubawa. Aku berjalan mendekat dan meletakkannya dengan hati-hati. Poppy tetap tidak terlihat, diam di dekat bahuku. Spirit itu bisa memurnikan tanah dan membantuku mendengar pohon, tetapi tidak bisa memberiku satu pagi baru bersama ibu yang telah pergi.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mencari celah pada kenyataan tersebut.
'Qiya sudah lima tahun,' kataku pelan.
Angin menggerakkan ujung pitaku. Tidak ada jawaban dari batu itu.
'Qiya sudah bertemu teman. Hana, Juno, Carl, Nero, dan Nymph. Qiya juga masih sering dimarahi karena salah membaca atau lupa waktu bermain.'
Di belakangku, Dego mengeluarkan bunyi kecil. Mungkin ia ingin membantah bahwa kami pernah memarahi adik sendiri. Aku hampir menoleh, lalu membiarkannya.
'Kakek dan Nenek bercerita tentang sepatu Ibu. Qiya ingin mendengar yang lain juga. Jadi nanti mereka akan datang lagi.'
Suaraku mulai bergetar. Aku mengusap pipi, tetapi air mata berikutnya datang sebelum tanganku turun.
Ayah berlutut di sampingku. Ia tidak mengangkatku menjauh seolah tempat itu sendiri berbahaya. Ia hanya menunggu ketika aku ingin menangis.
'Qiya tidak harus membalas semuanya, kan?' tanyaku.
Ayah menatap wajahku. 'Tidak.'
'Ibu menyelamatkan Qiya. Tapi Qiya tidak bisa membuat Ibu pulang.'
'Ibumu tidak memintamu membayarnya dengan hidup yang tidak boleh kaunikmati.'
Aku mengangguk, meskipun bagian dalam dadaku masih sakit. Mith berdiri di belakang ayah, memegang bunga yang belum ia letakkan. Luca, Niel, Kiel, dan Dego menunggu dengan wajah yang belum pernah kulihat serempak setenang itu.
Mereka juga kehilangan ibu. Aku bukan satu-satunya orang yang berdiri di depan namanya.
Mith bercerita pelan tentang Rein yang pernah membetulkan ikatan jubahnya sebelum sebuah acara. Ia masih mengingat ibu menyuruhnya mengangkat dagu supaya tidak menusuk leher sendiri dengan pengait. Luca tertawa pendek, lalu mengakui bahwa ia juga pernah dimarahi karena berlari sebelum pakaiannya selesai dirapikan. Aku mendengarkan kenangan yang tidak kumiliki itu dan membiarkan keduanya berhenti ketika suara mereka mulai berat. Tidak ada cerita tentang kebesaran kekaisaran di sana. Hanya anak-anak yang masih ingat tangan ibu pada pakaian mereka, dan seorang ayah yang menunduk supaya kami tidak melihat air matanya.
Satu per satu kakakku maju. Tidak semua berbicara keras. Aku tidak mencoba mendengar setiap kata. Nenek memegang tanganku ketika ayah memberi ruang bagi mereka, dan kakek berdiri di dekat bahunya.
Kami tinggal sampai bunga terakhir diletakkan. Kemudian aku menatap batu itu sekali lagi sebelum berbalik.
Dalam perjalanan pulang, aku tidak merasa seluruh kesedihan telah selesai. Nama Gorath juga belum berhenti menjadi ancaman. Namun, ada sesuatu yang berubah: ibu tidak lagi menjadi utang yang membuatku harus selalu berguna bagi kekaisaran.
Ia adalah Rein. Ia dicintai sebelum aku lahir, dan tetap boleh dikenang sebagai dirinya sendiri setelah aku tumbuh. Aku ingin membawa bagian itu pulang bersama keluargaku, bukan hanya nama orang yang telah merenggut hidupnya.