Nama pengantar itu adalah Karn.
Aku mendengarnya dari ayah beberapa hari setelah ulang tahunku. Ia sudah disebut dalam catatan pengejaran lama, tetapi petugas tidak menemukan orang yang sesuai di tempat tinggal yang tercantum. Setelah membandingkan buku Soren dan arsip perbatasan, Linn mendapatkan nomor pengiriman yang masih dipakai oleh sebuah kantor dengan nama baru.
Petugas mendatangi kantor tersebut, memeriksa catatan, lalu menemukan Karn sedang mengurus keberangkatan barang. Ia tidak ditangkap karena pernah bekerja dekat keluarga Helius. Ada surat tugas lama, pembayaran, dan kesaksian pengawal yang masih hidup yang perlu ia jelaskan.
Aku mendengar semua itu di ruang kerja. Tidak ada tahanan di hadapanku, tidak ada orang yang dipaksa menjawab sambil berlutut di depan seorang anak.
'Dia sudah mengaku?' tanyaku.
Ayah melihat Linn sebelum menjawab. 'Ia memberi keterangan. Sebagian sudah cocok dengan catatan. Sebagian masih harus diperiksa.'
Aku merapatkan kedua tangan di pangkuan. Kata mengaku terdengar seperti akhir yang sederhana. Tetapi mungkin orang bisa mengatakan sesuatu agar pertanyaan berhenti, sama seperti seorang pelayan dahulu bersedia membayar dengan nyawa bahkan sebelum tahu kesalahannya.
Linn menjelaskan bahwa Karn menyebut pekerjaannya sebagai pengantar biasa. Namun, tanda penerimaan dari tempat penyerang berkumpul menunjukkan ia menyerahkan lebih dari barang dagangan. Salinan rute rombongan Rein dibawa melalui pengiriman yang ia urus. Seorang pengawal yang selamat juga mengenali tandanya pada peti di salah satu tempat persembunyian yang ditemukan setelah serangan.
'Kenapa mau membawa rute Ibu?'
'Ia dibayar,' jawab ayah.
Sesederhana itu, dan sekaligus tidak masuk akal bagiku. Seseorang menerima uang. Seseorang melewati jalan. Seseorang lain tidak pernah pulang kepada keluarganya seperti sebelumnya.
'Dia tahu yang diserahkan itu rute orang?'
'Ada catatan yang menjelaskan rombongan dan waktu melintas. Ia menandatangani penerimaannya.'
Aku menatap meja. Tidak ada cara mengatakan bahwa ibu mungkin selamat seandainya sebuah tangan memilih tidak menerima kertas itu. Hal yang sudah terjadi tidak berubah hanya karena kini aku mengetahui lebih banyak nama.
Linn melanjutkan dengan suara tenang. Kantor Helius meminta salinan dengan alasan mengatur pengiriman melewati jalan yang sama. Setelah salinan diberikan kepada Karn, pembayaran dari dua pihak masuk melalui petugas perantara. Jalur uang itu bukan satu-satunya bukti, tetapi membantu menjelaskan mengapa salinan yang seharusnya tidak keluar dari pengawalan akhirnya sampai kepada penyerang.
Marquess Helius tidak sekadar muncul sebagai nama pemilik sebuah kantor. Ada perintah tertulis dengan segelnya, yang telah dibandingkan dengan dokumen lain dari waktu yang sama.
'Anak-anaknya?' tanyaku.
Ayah menarik napas. 'Tidak ada perintah mereka dalam berkas itu.'
Aku mengangguk perlahan. Seseorang tidak menjadi bersalah hanya karena terlahir di rumah yang dipakai ayahnya untuk mengatur kejahatan.
Karn juga menyebut Gorath. Ia tidak pernah bertemu ibuku, tetapi mengantar orang dan pesan kepada pasukan yang berada di dekat jalur penyeberangan. Ia mengira sesudah serangan, urusannya selesai. Ketika Helius kembali mengatur serangan terhadap bayi putri kekaisaran, hubungan lama itu digunakan lagi.
Aku merasa ujung jariku dingin. Jadi ada hubungan antara perjalanan terakhir ibu dan orang-orang yang pernah mencoba masuk ke kamarku.
'Karena anak keenam?' tanyaku.
Ayah menatapku tajam, lalu meredakan suaranya. 'Mereka mengetahui Rein sedang mengandung setelah lima putra lahir. Mereka tahu cerita tentang berkat naga. Mereka tidak perlu menunggu melihat wajahmu untuk takut pada kemungkinan itu.'
Aku menoleh ke kerahku. Poppy tetap menjadi bros, diam di dekat kulitku. Ia tidak menyebabkan orang-orang itu memilih menyerang. Namun, mitos tentang kekuatannya telah memberi mereka sesuatu untuk dibenci bahkan sebelum aku bisa bernapas sendiri.
'Ibu tahu?'
'Ia tahu ada ancaman. Ia tidak tahu siapa yang membawa jadwalnya keluar.'
Ayah menutup mata sejenak. Aku turun dari kursi dan mendekat. Kali ini aku tidak meminta dipeluk karena takut. Aku menyentuh tangannya karena ia juga sedang memikirkan seseorang yang tidak bisa ia selamatkan.
'Bukan salah Ibu karena pulang dari rumah Kakek,' kataku.
Ayah melihatku. Beberapa saat ia tidak bicara. Kemudian ia mengangguk, sekali, dengan gerakan yang tampak lebih berat daripada perintah mana pun yang pernah kudengar darinya.
Linn menunggu sampai aku kembali duduk sebelum menjelaskan langkah berikutnya. Karn akan diperiksa di hadapan pejabat yang mengurus perkara itu. Soren tidak otomatis dijadikan tersangka karena namanya ada pada buku pekerjaan. Orang-orang yang menerima perintah akan dibedakan dari mereka yang mengetahui dan membantu serangan.
'Qiya boleh tahu hasilnya?'
'Ya,' jawab ayah. 'Bukan melihat semua pemeriksaannya. Tapi Ayah akan memberitahumu apa yang sudah diputuskan dan apa yang belum dapat dipastikan.'
Aku menerima itu. Aku tidak ingin menyimpan potongan kata lain selama bertahun-tahun, tetapi aku juga tidak ingin menjadikan kematian ibu acara yang harus kutonton dari awal sampai akhir.
Sore harinya, aku menulis kepada kakek dan nenek. Aku tidak menyalin seluruh keterangan Karn. Aku menulis bahwa ayah telah menjelaskan perkembangan dan bahwa aku ingin mereka mendapat hasil yang sama, bukan mendengar kabar dari orang yang datang berkunjung ke pesta.
Ayah membaca surat itu sebelum dikirim. Ia menambahkan pesan untuk keluarga Hannes dan membiarkan pertanyaanku tetap ada.
Di taman, Ash berbaring di bawah pohon. Aku duduk di dekatnya, memegang gelang hitam yang masih terpasang pada ekornya. Luka lama di tubuhnya sudah pulih, tetapi aku mengingat saat ia menahan anak panah untukku.
Luca datang membawa sikat dan duduk di sisi Ash yang lain. Ia merapikan bulu yang kusut tanpa menyuruh panther itu pergi ketika aku ingin menyandarkan kepala. Aku mengingat hari ketika ia pernah mengusir Ash setelah serangan di hutan. Kini tangannya berhenti lebih dahulu setiap kali Ash bergerak, memberi kesempatan hewan itu memilih tempat yang nyaman.
Aku ingin pelindung-pelindungku tetap hidup. Kini aku mulai mengerti bahwa keinginan itu tidak cukup diucapkan kepada sebuah spirit. Ada orang yang harus didengar, rute yang harus dijaga, dan kesalahan keluarga sendiri yang harus berani kusebutkan sebelum berubah menjadi luka pada orang lain.