Surat pertama Carl setelah kepulangannya tiba sebelum ulang tahunku.
Ia menulis dengan bantuan pendamping, tetapi dua gambar di bagian bawah jelas dibuat sendiri. Ada ikan yang terlalu bulat, sebuah pohon, dan dua orang yang kini duduk di bangku. Nero menambahkan buah ungu di atas meja, meskipun mejanya baru digambar setelah semua yang lain selesai.
Aku menunjukkan surat itu kepada Dego. Ia tertawa ketika melihat ikannya.
'Dia meniru gambar kakak.'
'Mungkin ikannya memang bulat.'
Dego mengangkat bahu. Ia tampak puas memilih penjelasan itu.
Laporan orang dewasa tiba melalui saluran berbeda. Darre menyampaikan bahwa Carl sudah ditempatkan di kediaman yang dijanjikan dan perawatannya dilanjutkan. Nero tinggal di dekatnya. Perwakilan Peranto telah diizinkan menemui keduanya, bukan hanya menerima kabar dari luar pintu.
Pemeriksaan terhadap orang-orang yang mengurus bekal belum berhenti. Beberapa keterangan sudah disampaikan kepada ayah mereka, dan akses terhadap dapur serta kamar anak-anak dibatasi selama penyelidikan. Aku tidak membaca nama setiap petugas yang dipanggil. Tetapi aku ingin tahu apakah janji untuk tidak menunggu sampai Carl sakit lagi benar-benar dijalankan.
Linn menjawab pertanyaan itu tanpa mengatakan seluruh Terium sudah aman selamanya.
Sebulan setelah perpisahan di gerbang, usiaku genap lima tahun.
Aku bangun karena suara orang berbisik di luar kamar. Poppy yang tidur dalam wujud kecil di dekat bantal mengangkat kepalanya, lalu menghilang ketika pintu diketuk. Kebiasaan menyembunyikan diri di depan orang yang belum tentu mengetahui rahasianya sudah menjadi bagian dari pagi kami.
Lily masuk membawa pakaian. Hana menyusul dengan sebuah pita yang sengaja dipilih agar tidak membuat kepalaku terasa berat.
'Selamat ulang tahun,' katanya.
Aku memeluknya sebelum ia selesai meletakkan kotak. Hana tertawa dan meminta aku berhati-hati terhadap kait yang masih terbuka.
Di depan cermin, aku melihat rambut pirang yang lebih panjang dan tubuh yang tidak lagi sebulat ketika bayi. Mataku tetap biru seperti mata ibu dan orang tuanya. Aku menyentuh gelang Ameryst dari Ilvy di pergelangan kiri, lalu liontin biru pemberian Niel di leher.
Benda-benda itu tidak harus menjadi baru setiap tahun agar tetap berarti.
Ayah menunggu di ruang makan. Kelima kakakku sudah ada di sana, dengan susunan kursi yang rupanya diperdebatkan sebelum aku datang. Kali ini tidak ada api atau serpihan tanah di antara piring.
'Kak Dego duduk di sebelah Qiya dulu,' kataku.
Empat pasang mata langsung menatapnya.
'Karena surat ikannya ingin Qiya tunjukkan.'
Mith menarik napas, lalu memindahkan kursinya tanpa mengeluarkan ancaman. Aku hampir tertawa, tetapi menahannya agar ia tidak merasa sedang mengikuti ujian yang seluruh hasilnya harus kuberi nilai.
Seminggu lagi Mith akan berulang tahun ketiga belas. Ia tidak lagi menyebut debutnya sebagai tanda bahwa ia paling berhak menentukan semua hal. Namun, keinginannya duduk paling dekat denganku tampaknya belum berubah sedikit pun.
Kue datang setelah sarapan. Ada lima lilin kecil dan hiasan bunga yang bisa dimakan. Grin menatap salah satu hiasan terlalu lama sampai Nove menggeser piring menjauh darinya.
'Itu belum dipotong,' katanya.
'Aku hanya melihat.'
Aku tertawa. Ayah menyuruh semua orang menunggu aku membuat permohonan. Tiba-tiba ruang makan menjadi sunyi, dan untuk sesaat aku tidak tahu harus meminta apa.
Supaya Carl tidak menghancurkan Peranto? Supaya Gorath tidak pernah muncul lagi? Supaya setiap orang yang kucintai selamat karena aku tahu bagian-bagian cerita yang belum mereka ketahui?
Terlalu banyak hal untuk diserahkan kepada lima api kecil.
Aku memejamkan mata dan mengingat ibu, bukan hanya jalan terakhir yang dilaluinya. Aku mengingat gambar bunga dari Hannes dan cerita tentang sepatu yang disembunyikan. Lalu aku membuka mata dan meniup lilinnya.
Ayah menatapku. 'Qiya meminta apa?'
'Tidak boleh diberitahu semuanya.'
Ia mengangkat alis. Aku tersenyum dan mengambil tangannya sebelum ia mengira aku sedang menyembunyikan masalah.
'Tapi hari ini Qiya ingin makan bersama tanpa semua orang pergi rapat di tengah jalan.'
'Tidak ada rapat sampai siang,' jawabnya.
Itu bukan janji meninggalkan kekaisaran seharian tanpa orang yang bertugas. Aku menerima dan meminta satu potong kue.
Hadiah Mith berupa buku bersampul sederhana. Di halaman pertama, ia menempelkan salinan suratku dari hari debutnya. Di halaman berikutnya ada tempat untuk menyimpan surat Carl, gambar Juno, dan kertas yang kubawa dari rumah kakek.
'Kakak tidak memilih mana yang harus paling depan,' katanya.
Aku menyentuh halaman kosong itu. Lalu aku memeluknya.
Luca memberiku kotak untuk menyimpan benda kecil tanpa membuatnya tercampur dengan perlengkapan belajar. Niel memeriksa liontinku dan menyerahkan tali pengganti jika yang lama mulai aus. Kiel membawa pelindung untuk lampu peoni biru yang dulu ia berikan. Dego, setelah berpikir cukup lama, menghadiahkan gambar Ash yang sudah ia coba buat tiga kali.
Telinga panther itu terlalu besar. Aku menyimpannya juga.
Menjelang siang, kakek dan nenek datang. Kami membuka buku baruku bersama dan memilih cerita tentang ibu yang ingin kutuliskan. Tidak semuanya menyenangkan, tetapi tidak semuanya harus berakhir dengan kematiannya.
Saat orang-orang mulai berbicara tentang makan siang, ayah meminta Linn menunggu sebentar sebelum menyerahkan berkas baru. Dari tempatku duduk, aku melihat lambang kantor perbatasan pada penutupnya. Penyelidikan tentang ibu tetap berjalan, bahkan pada hari ketika kami membicarakan kenangan yang lebih hangat.
Aku tidak meminta melihat berkas itu sekarang. Aku tahu ayah akan menemuiku jika ada sesuatu yang sudah dapat dijelaskan.
Sebelum tidur, aku menulis balasan untuk Carl. Aku menceritakan kuenya, gambar Ash, dan Dego yang merasa ikan bulatnya telah menjadi terkenal. Surat itu tidak berisi pertanyaan baru tentang penyelidikan. Kali ini aku ingin mengirim sebuah kabar yang bisa dibaca dua saudara di kamar mereka tanpa harus memanggil tabib atau pengawal lebih dahulu.
Malamnya, aku menaruh surat Carl di buku, bersebelahan dengan gambar kuda hijau Juno. Lima tahun sudah berlalu sejak aku membuka mata di dunia ini. Aku belum menghapus semua ancamannya. Tetapi orang-orang di dalamnya mulai memiliki ruang untuk menjadi lebih dari sekadar nasib yang kutemukan dalam Mask.