Pada akhir bulan kedua, Carl bersiap meninggalkan Peranto bersama Nero.
Aku mengetahui rencana itu sebelum peti-peti mereka dibawa ke kereta. Darre sudah memeriksa apakah Carl cukup kuat untuk menempuh perjalanan, dan pengaturan perawatan di Terium telah disampaikan tertulis. Mereka tidak kembali ke kamar yang sama dengan pintu yang pernah dikunci dari luar.
Bagian istana tempat mereka akan tinggal dijaga petugas yang ditugaskan ayah mereka. Makanan disiapkan melalui pengaturan baru selama penyelidikan berlangsung. Darre ikut pulang, membawa catatan yang telah dibandingkan dengan tabib Peranto. Pendamping yang mengantar Carl sejak awal juga tetap bersama rombongan.
Itu belum putusan atas orang yang bertanggung jawab. Tetapi bukan pula kepulangan diam-diam agar orang dewasa bisa berpura-pura tidak ada kejadian apa pun.
Aku mendengarkan penjelasan Linn sambil memegang ujung kursi.
'Kalau pengaturannya berubah?'
'Pendamping dan tabib wajib menyampaikan. Perwakilan kita di Terium akan menanyakan keadaan mereka melalui jalur yang disepakati. Bukan menunggu Carl kembali sakit baru membuka berkasnya.'
Ayah menambahkan bahwa ia akan meminta jawaban kepada ayah Carl jika perlindungan yang dijanjikan tidak dijalankan. Suaranya dingin, dan untuk sekali ini aku tidak merasa perlu menarik lengannya agar berhenti mengancam orang yang salah. Ia sedang membicarakan kewajiban yang memang sudah diterima seorang penguasa.
Meski begitu, malam sebelum keberangkatan aku tetap sulit tidur.
Aku mengambil kotak manik yang tersisa sejak membuat gelang untuk keluarga. Sebagian warna sudah habis, tetapi masih ada rantai kecil dan manik berbentuk buah. Hana duduk di sampingku, membantu memilah yang tidak cukup kuat untuk dirangkai.
'Dua gelang baru?' tanyanya.
Aku mengangguk. 'Untuk Carl dan Nero. Bukan hadiah supaya mereka tidak boleh pulang.'
Hana tersenyum. Ia memilih manik bulat untuk memisahkan hiasan, sementara aku membuat gelang pertama dengan warna tenang dan sebuah bangku kecil. Gelang kedua memiliki dua buah berwarna ungu. Tidak ada mahkota yang menyatakan siapa lebih penting daripada siapa.
Aku memikirkan Mith ketika merapikan kaitnya. Gelang merahnya sudah diberikan sebelum debut, dan surat pada hari upacara tidak menggantikannya. Dua gelang yang sekarang kubuat punya pemilik dan cerita berbeda. Aku tidak ingin semua hadiah menjadi cara menyuruh orang mengingatku dengan perasaan berutang.
Pagi harinya, aku menyerahkan kotak itu di ruang duduk sebelum rombongan keluar.
Carl membuka miliknya, lalu melihat manik bangku.
'Seperti gambar untuk Nero.'
'Ya. Qiya suka bangkunya.'
Nero menatap dua buah ungu pada gelangnya. Ia meminta bantuan pelayan untuk memasangkan karena jarinya belum bisa mengurus kait kecil itu sendiri. Setelah terpasang, ia menggerakkan tangan dan tersenyum melihat hiasannya ikut bergoyang.
Aku tidak meminta mereka berjanji memakainya setiap hari. Carl memasukkan kotak kosong ke tasnya, lalu mengatakan bahwa ia ingin mengirim gambar lagi setelah sampai.
Gelang Carl sudah dipasangkan pendampingnya pada pergelangan tangan. Ia merapikan manset agar manik bangkunya tidak tersangkut kain, kemudian membantu Nero menutup kotak yang lain. Kedua gelang itu boleh dibawa sebagai hadiah biasa, tanpa laporan kepada siapa pun jika suatu hari mereka memilih menyimpannya di laci.
Nero akhirnya membawa kotaknya sendiri ke kereta. Ia menolaknya dititipkan pada pelayan, tetapi membiarkan pendamping membantu ketika harus menaiki tangga.
'Qiya akan senang menerimanya.'
Dego memberikan buku ikan, kali ini sebagai hadiah yang benar-benar boleh dibawa pulang. Ia membuka halaman tempat gambar Nero pernah disimpan dan memastikan tidak ada kertas yang tertinggal di balik sampulnya.
'Kalau menemukan ikan yang tidak ada di buku, kau bisa menggambarnya,' katanya.
Carl mengangguk. 'Tapi aku belum pandai.'
'Aku juga belum.'
Keduanya tertawa. Aku menyadari tidak ada yang berlomba menunjukkan siapa paling kuat. Dego hanya ingin percakapan mereka tidak berakhir bersama dua bulan yang sudah lewat.
Nymph tidak datang ke istana pagi itu karena perjalanan dari rumahnya tidak memungkinkan. Ia menitipkan gambar beruang melalui pelayan yang menyampaikan kabar keberangkatan. Baron Eradlo menulis salam pada amplopnya. Carl menyimpannya bersama gambar Nero, bukan memamerkannya kepada orang lain sebagai hadiah dari gadis yang harus disukainya.
Di halaman, Mith dan Luca menunggu dengan pengawal. Mereka tidak membawa pedang terhunus atau meminta Carl memperlihatkan spirit sebelum meninggalkan wilayah kami.
Mith memberi salam, lalu mengulangi permintaan maafnya tanpa pidato panjang.
'Aku tidak seharusnya menakutimu di taman.'
Luca berdiri di sampingnya. 'Aku juga. Jalan setapaknya sudah diperbaiki, tetapi itu tidak menghapus yang kami katakan kepadamu.'
Carl memandang keduanya. Aku menahan diriku agar tidak mengangguk dari belakang kakak-kakakku, seolah memberi tanda jawaban yang kuinginkan.
'Aku mendengar,' katanya akhirnya.
Tidak ada pelukan. Tidak ada janji bahwa mereka langsung menjadi sahabat. Mith menerima jawaban itu dan memberi ruang ketika Carl hendak naik ke kereta.
Niel menyerahkan catatan kepada Darre, lalu menanyakan apakah bantal perjalanan yang disiapkan sudah dibawa. Kiel berbicara kepada pengawal tentang jalan keluar yang paling teduh. Mereka tidak berlomba meminta ucapan terima kasih dari Carl. Aku senang melihatnya, tetapi tidak ingin menjadikan sikap yang seharusnya biasa itu sebuah pertunjukan baru.
Nero melambaikan tangan dari jendela. Carl muncul di sebelahnya, memegang buku ikan Dego di pangkuan.
'Terima kasih, Qiya.'
'Selamat jalan.'
Kereta bergerak melewati gerbang. Aku melambai sampai tidak terlihat, lalu tetap berdiri beberapa saat. Dalam cerita yang kuingat, Carl meninggalkan Peranto dengan penghinaan yang dibawanya pulang. Sekarang ia membawa catatan perawatan, seorang tabib, gambar, dan dua kotak gelang kosong.
Aku belum tahu apakah semua itu cukup untuk mengubah masa depan.
Di belakangku, ayah berbicara kepada Linn tentang laporan dapur Terium yang masih perlu diikuti. Di tempat lain, petugas arsip masih membandingkan buku Soren dengan jalur penyerang ibu. Tidak ada persoalan yang mendadak selesai hanya karena kereta seorang anak sudah keluar dari halaman.
Aku meraih tangan Hana dan kembali masuk ke istana. Kali ini aku tidak ingin menutup buku lalu menganggap tokoh-tokohnya akan mengikuti akhir yang sudah kutentukan. Kami semua masih harus membuat pilihan setelah hari perpisahan ini.