Nero tiba pada pekan ketujuh kunjungan Carl.
Kedatangannya tidak diatur melalui sebuah pesan rahasia dari anak-anak. Setelah menerima hasil pemeriksaan Darre, ayah mereka mengirim izin kunjungan singkat bersama pejabat pendamping dan pengawal. Linn membaca suratnya di hadapan perwakilan Terium, lalu memastikan nama orang-orang yang datang sesuai dengan rencana perjalanan.
Aku mendengar kabar itu sehari sebelumnya. Carl mendengarnya pada saat yang sama, ketika pendampingnya masuk ke ruang belajar sambil membawa surat.
Ia tidak langsung tersenyum.
'Benar-benar Nero?'
Pendampingnya mengangguk. 'Ia sudah berangkat bersama rombongan yang ditugaskan ayahmu.'
Carl memandangi surat itu, lalu meminta melihat hari keberangkatannya. Setelah pendamping menunjukkan baris yang dimaksud, ia menghitung dengan jari di atas meja. Aku tidak menyela ketika hitungannya salah dan ia mengulang dari awal.
Keesokan harinya, ia menunggu lebih pagi daripada siapa pun.
Dego membawa buku ikan, seolah itu hadiah wajib bagi setiap orang yang baru datang. Hana menyiapkan tempat duduk di teras karena perjalanan panjang tentu membuat Nero lelah. Aku berdiri di dekat tiang, melihat Carl berkali-kali mendekati anak tangga lalu kembali ke tempatnya.
'Belum kelihatan?' tanyanya.
'Belum,' jawab Dego.
Ia tidak mengejek pertanyaan yang sama meski sudah mendengarnya beberapa kali.
Ketika kereta akhirnya masuk, Carl berhenti bergerak. Pejabat Terium turun lebih dahulu dan memberi salam kepada ayah. Setelah itu, seorang pelayan membuka pintu dan membantu seorang anak turun dari tangga.
Nero lebih pendek daripada kakaknya. Ia memegang sebuah kantong kecil dengan kedua tangan. Sebelum sempat melihat seluruh halaman, ia sudah mencari Carl di antara orang-orang yang berdiri.
Carl melangkah maju.
'Nero.'
Anak itu tampak hendak berlari, tetapi berhenti setelah melihat para pelayan. Wajahnya berubah cemberut dengan cara yang terasa terlalu tiba-tiba.
'Aku membawa—'
Ia tidak menyelesaikan kalimat. Carl sudah berlutut di depannya dan memeluknya.
Kantong kecil itu terjepit di antara keduanya. Nero memegang bahu kakaknya, masih terlihat bingung. Ia memandang para pendamping, seolah mencari tanda bahwa seseorang akan marah.
'Tidak usah pura-pura,' bisik Carl.
Aku mendengarnya dari tempatku berdiri, lalu menunduk pada ujung sepatuku. Ada hal-hal yang tidak perlu kutatap terus agar tetap menjadi nyata.
Mereka berpelukan cukup lama. Ayah menunggu pejabat Terium menyelesaikan salamnya, tetapi tidak menyuruh anak-anak itu berdiri terpisah demi urutan upacara. Ia akhirnya meminta rombongan masuk agar perjalanan dapat diakhiri dengan makan dan istirahat.
Di ruang duduk, Nero membuka kantongnya. Di dalamnya ada gambar Carl yang dikirim dari Peranto, kini dengan dua orang kecil ditambahkan pada bangku kosong.
Carl memegang tepinya. 'Kau menggambarnya.'
Nero mengangguk. 'Yang ini kau.'
'Kenapa kepalaku lebih besar?'
'Karena kau kakak.'
Dego tertawa keras, lalu buru-buru menutup mulut ketika Nero melihatnya. Aku memperkenalkan diri bersama Hana. Nero memandang kami dengan ragu, sampai Carl mengatakan bahwa kami yang memberikan kertas untuk gambarnya.
Ia lalu memberi salam yang terlalu resmi untuk anak sekecil itu. Aku membalas dan menawarkan duduk, bukan memintanya mengulang sampai gerakannya sempurna.
Darre datang memeriksa apakah Nero membutuhkan istirahat setelah perjalanan. Ia berbicara dengan pengantar dan memastikan barang bawaannya disimpan sesuai pengaturan yang sudah dibicarakan. Buah yang dibawa bukan satu-satunya makanan yang tersedia di meja. Kedua anak itu tidak lagi perlu mengandalkan sesuatu yang diselipkan diam-diam melalui pintu.
Aku melihat Carl menyadari hal yang sama ketika pelayan meletakkan dua piring kecil.
Ia menunggu Nero duduk di dekatnya, lalu mengambil roti untuk dirinya sendiri. Gerakannya masih hati-hati, tetapi ia tidak memeriksa wajah setiap orang sebelum menggigitnya.
Setelah makan, Nero bertanya apakah ia boleh tinggal di kamar kakaknya. Pendamping mereka mengatakan kamar berdampingan sudah disediakan. Mereka bisa duduk bersama sampai waktu istirahat, dan tidak ada orang yang akan mengunci pintu dari luar untuk menghukum salah satunya.
Carl mengangkat kepala ketika mendengar kalimat itu. Ia tidak bertanya apakah janji tersebut berlaku hanya hari ini. Mungkin ia belum berani, atau mungkin ia ingin mempercayainya sebentar sebelum memikirkan esok.
Nero meminta melihat letak kamarnya, lalu mengulurkan tangan kepada Carl. Kakaknya menyambut tanpa menunggu perintah. Mereka memilih berjalan berdampingan sementara pelayan menunjukkan pintu penghubung yang dapat dibuka dari dalam. Aku tetap di ruang duduk dan membiarkan keduanya mengenali tempat beristirahat tanpa terus diikuti para tamu.
Aku meninggalkan mereka setelah Nero mulai menguap. Di koridor, Mith menunggu bersama Luca. Keduanya tidak masuk menyela pertemuan hanya karena ingin menunjukkan bahwa sekarang mereka bisa bersikap ramah.
'Dia sudah bertemu adiknya?' tanya Mith.
Aku mengangguk.
'Kalau ada waktu, kakak ingin menyampaikan salam.'
'Nanti ditanyakan dulu,' jawabku.
Mith menerima jawaban itu. Luca menyentuh mansetnya, lalu mengatakan bahwa jalan setapak sudah selesai diperbaiki dan boleh dipakai lagi. Ia tidak mengangkat kabar tersebut sebagai syarat agar Carl menemuinya.
Aku mengajak mereka duduk di bangku koridor. Untuk pertama kalinya sejak keributan di taman, aku bisa berbicara dengan kedua kakakku tanpa merasa sedang mempertahankan seseorang yang berdiri di belakang punggungku.
Namun, kedatangan Nero tidak berarti urusan di Terium telah selesai.
Malamnya, Linn menyampaikan kepada ayah bahwa beberapa orang dapur sudah memberi keterangan yang saling menguatkan tentang pemisahan bekal Carl. Nama petugas yang menerima perintah sedang diperiksa. Pejabat pengantar Nero membawa salinan untuk dibicarakan dengan Darre dan pendamping Carl, bukan untuk diumumkan kepada para tamu perjamuan.
Aku mendengar bagian itu ketika hendak berpamitan tidur. Ayah mengatakan penyelidikan tetap harus berjalan, sekalipun kedua anak sekarang tampak lebih sehat dan bisa tertawa.
Aku mengangguk. Menyelamatkan hari ini tidak menghapus apa yang sudah dilakukan kepada mereka.
Sebelum kembali ke kamar, aku melihat pintu ruang duduk masih terbuka. Carl dan Nero sedang memperhatikan gambar bangku mereka, sementara pelayan menyiapkan air hangat di dekat meja.
Tidak ada wajah marah yang dipasang untuk menipu orang dewasa. Tidak ada buah yang harus dilempar seolah sedang menghukum. Aku berjalan melewati pintu itu dengan langkah lebih ringan, berharap tempat yang mereka sebut rumah kelak bisa memberi rasa yang sama.