Petugas arsip yang dicari Linn datang tanpa mengenakan pakaian bangsawan.
Namanya Soren. Ia membawa sebuah tas kulit yang bagian bawahnya sudah diperbaiki. Ketika penjaga memintanya menunggu, ia meletakkan tas itu di antara kedua kaki dan terus memegang talinya, seolah takut seseorang akan mengambilnya sebelum ia sempat menjelaskan isinya.
Aku melihatnya dari teras ketika sedang berjalan bersama Lily. Linn menemuinya sendiri, lalu mengantar ke ruangan di dekat kantor, bukan ke penjara bawah tanah.
Soren menunduk begitu dalam ketika melewati kami sampai aku hampir tidak melihat wajahnya.
'Dia takut,' bisikku.
Lily mengangguk. Ia tidak berpura-pura bahwa setiap orang pasti senang dipanggil ke istana.
Aku tidak masuk mengikuti mereka. Aku kembali ke ruang belajar, tetapi sulit memusatkan perhatian pada peta. Di dalam ruangan lain, seseorang mungkin sedang memegang jawaban tentang perjalanan terakhir ibuku. Aku harus berkali-kali mengingatkan diri bahwa menunggu di luar tidak berarti kehilangan hak untuk bertanya setelahnya.
Menjelang sore, ayah memanggilku. Linn ada di ruang kerja, bersama sebuah tas kulit yang kukenal. Pemiliknya sudah diajak beristirahat dan belum diizinkan pulang karena masih ada salinan yang perlu dicocokkan.
Ayah menunjukkan kursi di dekatnya.
'Soren dulu bekerja untuk kantor perantara yang menyalin daftar perjalanan Rein,' katanya. 'Ia membawa catatan pembayaran yang disimpan di luar kediaman Helius.'
Aku memandang tas itu. 'Kenapa tidak dibawa dari dulu?'
Linn membuka satu lembar yang diletakkan terpisah dari berkas utama. Soren pernah menyerahkan sebagian keterangan setelah keluarga Helius ditemukan mati. Tetapi pertanyaan saat itu terpusat pada serangan terhadapku ketika masih bayi. Ia tidak tahu bahwa nomor pengiriman dalam bukunya juga digunakan pada tahun sebelum aku lahir.
'Dia baru ingat sekarang?'
'Ia tidak mengingat nomor itu,' jawab Linn. 'Kami menemukan salinannya dalam arsip Hannes, lalu meminta ia membawa buku yang memuat nomor sama.'
Aku mendekat sedikit. Kertas itu tidak terlihat istimewa. Ada angka, tanda penerimaan, dan beberapa baris keterangan tentang barang yang diangkut. Sulit membayangkan benda sekecil itu bisa bertahan ketika begitu banyak hal lain telah hancur.
Dalam buku tersebut, salinan rute rombongan ibu dicatat sebagai lampiran pengiriman atas permintaan kantor Helius. Ada pembayaran lain kepada pengantar yang namanya sudah muncul dalam berkas pengejaran penyerang. Dua catatan itu dibuat oleh tangan berbeda, bukan satu cerita panjang yang ditulis setelah semua orang mati.
'Itu berarti Marquess Helius yang menyerahkan rutenya?'
'Ada alasan kuat untuk memeriksa keterlibatan kantornya,' kata ayah. 'Kami belum tahu siapa yang membawa lampiran itu sampai ke tangan penyerang.'
Aku melihat wajahnya. Rahangnya menegang, dan ujung jari yang menyentuh meja menjadi pucat. Ia ingin jawaban itu lebih cepat daripada aku.
Linn mengingatkan bahwa Soren tidak melihat serangan terhadap Rein. Ia hanya bisa menjelaskan pekerjaannya dan mengenali tulisan pada catatan yang benar-benar pernah ia pegang. Kesaksiannya tidak boleh diubah menjadi cerita tentang malam yang tidak ia saksikan.
Ayah memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk.
'Soren boleh pulang setelah keterangannya disalin,' perintahnya. 'Pengawal mengantar untuk menjaga keselamatannya. Bukan supaya seluruh kampung menganggap ia penjahat.'
Aku menatap tas kulit di meja. Seseorang yang terlihat gemetar bisa membawa sesuatu yang lebih berguna daripada pedang. Tetapi itu hanya terjadi jika ia masih diberi kesempatan bicara setelah masuk ke pintu istana.
'Keluarga Helius sudah tidak ada,' kataku.
Ayah diam. Linn tidak menutup berkasnya, tetapi menunggu.
'Waktu Qiya kecil, semua orang bilang mereka memilih mati sendiri. Apa itu benar?'
Aku mengingat cerita yang pernah kudengar, lalu bagaimana aku menyimpannya seperti fakta yang sudah kulihat sendiri. Helius, istrinya, empat anaknya. Kabar itu diikuti hilangnya kediaman mereka dari peta dan kepala-kepala yang dipertontonkan di alun-alun.
Ayah menatapku lama. 'Mereka ditemukan sudah mati. Qiya tidak pernah diperlihatkan hasil pemeriksaannya.'
'Jadi Qiya tidak tahu kenapa mereka mati.'
'Tidak.'
Aku menunduk. Nama keluarga itu pernah terasa seperti nama musuh yang selesai dibuang dari cerita. Sekarang ada buku pekerjaan, seorang petugas tua, dan pertanyaan tentang orang-orang yang tidak lagi bisa membantah apa pun.
'Anak-anaknya ikut menyuruh orang menyerang Ibu?'
Ayah tidak langsung menjawab. Linn menutup buku perlahan.
'Berkas yang sedang kita baca tidak membuktikan itu,' katanya.
Aku mengangguk. Aku tidak meminta ayah memaafkan orang yang menyerang ibu. Aku juga tidak ingin ia mengatakan bahwa semua orang yang memakai nama sama pasti telah memilih perbuatan yang sama.
Ruangan itu sunyi cukup lama. Lalu ayah menyuruh Linn memisahkan catatan peran setiap orang dalam berkas yang sedang diperiksa. Tidak ada daftar hukuman untuk keturunan yang belum lahir, tidak ada perintah membakar rumah orang lain karena mereka pernah bekerja di kantor yang sama.
Perintah itu tidak bisa menghidupkan anak-anak Helius. Aku tahu. Mungkin justru karena itulah aku ingin mendengarnya sekarang, ketika masih ada orang yang bisa pulang dengan selamat.
Sebelum meninggalkan ruangan, aku bertanya apakah ada kabar baru tentang Gorath.
Linn menjelaskan bahwa pengantar yang tercantum dalam buku Soren pernah terlihat di dekat jalur penyeberangan pasukan iblis. Ia tidak kembali bersama orang-orang yang ditangkap. Catatan baru akan dibandingkan dengan laporan penjagaan segel, karena nama orang yang hilang bukan bukti bahwa Gorath sendiri sudah bebas.
Ayah menyuruh pemeriksaan dilanjutkan tanpa mengirimku ke perbatasan. Aku tidak membantah. Bisa berbicara dengan pohon tidak menjadikanku orang yang paling tepat memimpin pencarian penyerang.
Linn kemudian menyiapkan tanda penerimaan untuk buku Soren dan sebuah salinan bagi pemiliknya. Buku asli tetap disimpan untuk pemeriksaan, tetapi Soren tidak pulang tanpa catatan tentang barang yang ia serahkan. Aku mengamati Linn menuliskan nama lengkap petugas itu, lalu membacanya kembali agar tidak salah.
Di luar, Lily menungguku dengan mantel. Aku memandang langit yang mulai gelap dan memikirkan Soren yang akan pulang membawa tasnya lagi.
Hari itu aku belum mendapat seluruh jawaban tentang ibu. Tetapi ada sebuah pintu yang tetap terbuka bagi orang yang datang membawa keterangan, dan untuk keluargaku, itu bukan perubahan kecil.