Rombongan tabib datang empat hari setelah surat balasan diterima.
Kali ini aku tidak menyaksikan penyambutan dari halaman. Aku sedang belajar bersama Rinn, berusaha membedakan dua kata yang bunyinya hampir sama. Ketika suara kereta terdengar di luar, guruku menutup buku sebentar dan membiarkanku melihat dari jendela.
'Kalau ingin tahu siapa yang datang, tanyakan sesudah pelajaran,' katanya.
Aku kembali duduk. Sulit memikirkan bunyi kata ketika seorang anak mungkin akan disuruh pulang ke rumah yang tidak aman. Tetapi berlari ke gerbang tidak membuatku lebih mampu memeriksa orang yang membawa segel Terium.
Aku menunggu sampai Rinn mengizinkan kami berhenti.
Tabib yang datang bernama Darre. Ia membawa surat tugas dan ditemani pejabat istana Terium yang dikenal pendamping Carl. Sebelum menemui Carl, mereka berbicara dengan ayah, Linn, dan tabib Peranto tentang hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan.
Niel hadir sebagai orang yang ikut membantu perawatan. Ia tidak diminta menjelaskan urusan racun sendirian hanya karena spiritnya kuat.
Aku menunggu di ruang lain bersama Dego. Buku ikan ada di pangkuannya, tetapi ia tidak membukanya.
'Kalau tabibnya bilang Carl harus pulang, kita tidak bisa bermain lagi?'
'Belum tahu.'
Dego mengangguk. Aku bersyukur ia tidak meminta jawaban yang bisa membuatnya senang saja. Ia kemudian mengeluarkan roti dari kantong dan membaginya dua, seperti kebiasaannya ketika Carl masih ragu menyentuh makanan.
Menjelang siang, Darre meminta bertemu Carl bersama pendampingnya. Pintu ditutup. Tidak ada pemeriksaan di depan rombongan bangsawan, tidak ada tuntutan memperlihatkan lambang spirit di halaman istana.
Ketika pemeriksaan selesai, Carl tidak langsung keluar. Darre tinggal lebih lama untuk mendengarkan sesuatu yang ingin diceritakannya. Aku mengetahui hal itu dari Niel, bukan dengan berdiri di dekat pintu dan mencuri dengar.
'Apakah tabib itu percaya?' tanyaku.
'Ia sedang membandingkan hasil dan catatan yang dibawa dari Terium. Ia tidak mengatakan Carl berpura-pura.'
Kalimat terakhir membuat Dego mengangkat kepala. Ia memegang bukunya lebih erat, lalu bertanya apakah ia boleh menunggu sampai Carl selesai makan.
Niel mengangguk. Aku menyadari bahwa kakak ketigaku juga mulai terlihat berbeda dari hari ketika utusan baru tiba. Ia tidak lagi berdiri jauh sambil memperhatikan anak yang dianggap tidak memiliki kemampuan. Ia menyiapkan bantal tambahan karena tahu Carl akan lelah setelah diperiksa.
Sore harinya, ayah mengizinkan kami mendengar penjelasan singkat bersama Carl. Rincian pemeriksaan disimpan oleh para tabib, tetapi keputusan tentang perjalanan disampaikan langsung kepada anak yang harus menjalaninya.
'Kau tidak perlu berangkat besok,' kata Darre.
Carl memandangnya lama. 'Ayah bilang pulang.'
'Sesudah kami mengetahui apa yang diperlukan untuk merawatmu. Aku akan mengirim hasil pemeriksaan lebih dahulu. Perjalanan akan disiapkan setelah ada tempat dan orang yang bisa melanjutkan perawatan di sana.'
'Nero?'
Darre mengambil sebuah amplop kecil dari tasnya. Ia menjelaskan bahwa amplop itu diberikan oleh petugas yang menjaga kediaman tempat Nero diperiksa. Tidak ada hasil pemeriksaan rahasia di dalamnya, hanya gambar dan beberapa kata yang dibantu dituliskan pelayan.
Carl melihat pendampingnya sebelum menerima.
Di dalamnya ada gambar buah berwarna ungu yang terlalu besar dibandingkan pohonnya. Di bawah gambar itu tertulis bahwa Nero ingin tahu apakah di Peranto ada pohon blum juga.
Carl menunduk begitu lama sampai aku menyangka ia sedang membaca kata-katanya berkali-kali. Kemudian bahunya bergerak pelan. Ia menangis tanpa suara, memegang kertas itu dengan kedua tangan.
Dego mendekat setengah langkah, lalu berhenti. Darre memberi Carl saputangan dan menunggu. Tidak ada yang menyuruhnya berhenti menangis karena seorang putra mahkota harus terlihat kuat.
Aku melihat ayah menoleh ke jendela. Tangan yang biasanya mengangkatku dengan mudah kini diam di sisi kursinya. Ia tidak bisa menggantikan ayah Carl hanya dengan memberi perintah, dan mungkin baru kali ini aku melihatnya memikirkan hal itu.
Setelah Carl lebih tenang, Darre menjawab pertanyaan tentang makanan. Pemeriksaan ulang sesuai dengan temuan tabib Peranto. Ada bahan berbahaya yang tidak seharusnya berada pada bekal Carl. Penyebab gangguan tubuhnya perlu ditangani lebih lanjut; orang yang memasukkan bahan itu belum ditetapkan hanya dari hasil tersebut.
Di Terium, persediaan dapur yang berkaitan dengan bekal diperiksa dan petugasnya dimintai keterangan. Nero kini tinggal sementara di bagian istana yang diawasi tabib dan pengawal yang ditugaskan ayahnya. Darre sudah melihatnya sebelum berangkat.
Aku baru bisa bernapas lebih lega setelah mendengar bagian terakhir. Bukan jaminan bahwa selir tidak akan melakukan apa pun. Tetapi kali ini ada orang yang benar-benar melihat Nero, bukan hanya meneruskan kabar dari tangan lain.
Carl bertanya apakah ia boleh menulis balasan. Darre menyetujuinya dan menunggu ia memilih apa yang ingin disampaikan. Aku tidak diminta membantu menyusun cerita tentang kamar yang dikunci. Urusan kesaksian dibicarakan orang dewasa dengan hati-hati, terpisah dari gambar adiknya.
Dego menawarkan buku ikannya untuk dibawa membaca di kamar. Carl menerimanya, lalu menyelipkan gambar Nero di antara dua halaman yang kosong. Ia menutup buku itu perlahan, memeriksa agar kertasnya tidak terjepit. Aku melihat Dego mengubah letak jarinya supaya tidak mengganggu. Mereka tidak perlu mengerti seluruh pembicaraan tabib untuk memahami bahwa kertas kecil tersebut sedang menjadi benda yang paling ingin dijaga Carl hari itu.
Malamnya, Darre kembali menemui ayah dan Linn. Aku tidak berada di dalam rapat, tetapi Niel mengatakan bahwa Carl akan melanjutkan perawatan di Peranto sampai rencana kepulangannya disetujui kedua pihak.
'Bukan berarti dia jadi milik kita,' ujar Niel ketika Dego bersorak.
Dego mendengus. 'Aku tahu. Aku cuma senang bisa menunjukkan ikannya.'
Aku tertawa kecil. Lalu aku memandang Niel dan menanyakan sesuatu yang sejak tadi kusimpan.
'Kalau dia sudah lebih sehat, dia tidak perlu sakit lagi untuk dipercaya, kan?'
Wajah Niel berubah serius. 'Tidak perlu.'
Aku mengangguk. Di ujung koridor, pintu kamar Carl masih tertutup, tetapi kali ini ia berada di dalam dengan gambar Nero yang bisa dibacanya sendiri. Aku ingin suatu hari kedua anak itu bisa berbicara tanpa mengukur lebih dahulu siapa yang sedang mendengar di luar pintu.