Balasan Terium tiba ketika kunjungan Carl memasuki pekan keempat.
Aku melihat pengantarnya di halaman luar, tetapi tidak diizinkan mendekati kuda yang baru menempuh perjalanan jauh. Nove mengajakku kembali ke teras. Dari sana aku melihat Linn menerima tabung surat di hadapan pendamping Carl dan seorang pejabat yang pernah menyambut rombongan Terium.
Tidak ada yang membuka surat itu di tengah halaman.
Carl sedang bersamaku ketika pelayan datang memanggilnya. Ia langsung berdiri, hampir menjatuhkan dua lembar kertas yang sejak acara menggambar masih disimpannya dalam sebuah map.
'Dari Nero?' tanyanya.
Pelayan menjawab bahwa suratnya ditujukan kepada kaisar dan pendamping rombongan. Carl menunduk. Aku menawarkan menyimpan mapnya sampai ia kembali, tetapi ia memilih membawanya sendiri.
Aku tidak tahu apa yang dibicarakan orang dewasa selama pertemuan itu. Aku hanya melihat Carl kembali setelah hampir satu jam, berjalan di samping pendampingnya. Langkahnya tidak tergesa, tetapi wajahnya membuatku menutup buku yang sedang kubaca.
'Ayah ingin aku pulang,' katanya.
Aku merasa tenggorokanku mengering.
Di dalam Mask, Carl kembali ke Terium setelah dua bulan. Selir masih berada di sana, makanan masih diberikan dari dapur yang sama, dan Nero masih berusaha menolong dengan buah yang dipetik sendiri. Namun, sekarang sudah ada laporan pemeriksaan. Aku tidak tahu apakah kepulangannya akan berarti perlindungan atau kesempatan bagi seseorang menyembunyikan bukti.
'Sekarang?'
'Setelah tabib dari Terium datang.'
Pendampingnya meminta izin menjelaskan. Ayah Carl mengirim orang untuk memeriksa hasil yang disampaikan Peranto. Rombongan itu juga membawa kabar bahwa Nero hidup dan sedang berada dalam pengawasan tabib keluarga. Tetapi keadaan di sana belum diperiksa oleh utusan Peranto secara langsung.
Aku memandang Carl. Kabar tentang adiknya seharusnya membuatnya lega, tetapi ia terus meremas sudut map.
'Nero sendirian?'
Pendampingnya menjawab bahwa ada pelayan dan pengawal yang ditugaskan menjaganya. Ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak tertulis dalam surat. Carl mengangguk, lalu bertanya apakah ia boleh mengirim gambar.
Aku menatap kertas di tangannya. Ia rupanya tidak sedang memikirkan bagaimana menuliskan kesaksian yang bisa menghukum seseorang. Ia hanya ingin memastikan adiknya masih bisa menerima sesuatu darinya.
Setelah Carl kembali ke kamarnya, aku meminta bertemu ayah.
Ayah sudah membaca permintaan Terium. Ia menunjukkan kursi di dekat meja, sementara Linn menutup berkas yang tidak perlu kulihat.
'Qiya takut Carl pulang?'
'Kalau makanannya belum aman.'
Ayah mengetukkan jarinya pada sandaran kursi. 'Terium meminta putranya diperiksa oleh tabib mereka sendiri. Itu bukan permintaan yang bisa diabaikan begitu saja.'
'Kalau tabibnya datang ke sini, hasilnya bisa dibandingkan dulu?'
Linn mengangguk. Itulah jawaban yang sedang disiapkan. Mereka akan meminta pemeriksaan bersama sebelum perjalanan pulang, menyampaikan kebutuhan perawatan, dan menanyakan pengaturan bagi Carl serta Nero setelah tiba. Kesepakatan kunjungan dua bulan masih berlaku; tidak ada alasan memberangkatkan seorang anak malam itu hanya karena satu surat tiba.
Aku mengembuskan napas.
'Tapi kalau utusan itu berbohong?'
Ayah menatapku. 'Maka kita memeriksa orang dan keterangannya. Bukan mengatakan semua orang Terium berbohong.'
Aku terdiam. Dulu aku sering ingin keluargaku berhenti menganggap dunia hanya berisi orang yang boleh mendekatiku dan orang yang harus dibunuh. Sekarang aku hampir melakukan hal yang sama terhadap semua orang yang datang membawa nama Terium.
Linn menjelaskan bahwa pejabat yang menerima surat mengenali jalur pengiriman resminya. Identitas rombongan tabib akan diperiksa sebelum mereka menemui Carl. Pendamping Carl juga ingin hadir dalam pembicaraan, bukan menyerahkan seluruh urusan kepada orang yang belum ia lihat.
Aku tidak tahu apakah semua itu cukup. Tetapi ada perbedaan antara berhati-hati dan memutuskan seseorang pasti bersalah sebelum ia berbicara.
Saat hendak turun dari kursi, aku melihat sebuah map tua di sudut meja. Ada lambang Hannes pada pitanya. Tanganku berhenti memegang sandaran.
'Itu dari Kakek?'
Ayah mengangguk. Salinan arsip yang diminta setelah percakapan tentang ibu akhirnya selesai dibandingkan. Linn menemukan bahwa satu daftar perjalanan pernah disalin untuk kantor perantara perdagangan sebelum rombongan Rein berangkat.
'Orang yang menyalinnya yang bersalah?'
'Belum tentu,' jawab Linn. 'Menyalin daftar bukan kejahatan jika memang tugasnya. Yang perlu diketahui adalah siapa yang meminta salinan itu dan kepada siapa salinan kemudian diberikan.'
Pada salah satu lembar ada nama keluarga Helius.
Aku mengenali nama itu. Ketika aku masih bayi, keluarganya dikatakan menjadi dalang serangan kepadaku. Ia, istrinya, dan anak-anaknya sudah mati sebelum kakak-kakakku datang ke kediamannya. Tidak ada orang di meja ini yang bisa menyuruh mereka hidup kembali untuk menjawab pertanyaan baru.
'Jadi pertanyaannya berhenti di orang mati lagi?'
Linn menatapku sebentar. 'Tidak semua orang yang bekerja untuk kantor itu ikut mati. Kami sedang mencari petugas yang memegang arsip pengiriman.'
Ayah meminta agar orang tersebut diajak memberi keterangan, bukan diseret sebagai pelaku yang sudah dinyatakan bersalah. Perintah itu membuatku ingat pelayan yang dahulu harus kugendong agar tidak dipenjara karena goresan di tanganku.
Aku belum bisa mengatakan ayah berubah sepenuhnya. Tetapi aku mendengar perintah yang berbeda, dan ingin melihat apakah perbedaan itu benar-benar dijalankan.
Sore harinya, aku menemani Carl memilih gambar untuk Nero. Ia membuat dua buah blum di bawah pohon, lalu menggambar bangku kecil di sampingnya.
'Bangkunya kosong,' kataku.
'Nero boleh menggambar orangnya.'
Ia menunjukkan sudut yang sengaja dibiarkannya kosong. Aku baru menyadari bahwa pohon itu bukan sembarang pohon; Carl menggambarnya dua kali sebelum merasa cabangnya cukup panjang. Ia berkata Nero biasa duduk di bawah cabang seperti itu ketika membawa buah. Aku tidak menyuruhnya menambahkan mahkota supaya penerimanya tahu gambar siapa itu. Bagi kedua saudara tersebut, pohon dan bangku mungkin sudah mengatakan lebih banyak daripada lambang kekaisaran yang memenuhi surat orang dewasa.
Aku mengangguk. Kami menyerahkannya kepada pendamping Carl untuk dikirim melalui utusan yang sudah diperiksa. Tidak ada pesan tentang racun pada kertas anak itu. Ada ruang kosong untuk adiknya, dan harapan bahwa suatu hari mereka bisa duduk bersama tanpa harus berpura-pura saling membenci.