Baron Eradlo membalas undanganku dengan tulisan yang sangat rapi.
Ia memastikan kembali apakah Nymph harus membawa perlengkapan tertentu dan apakah ada pakaian yang diwajibkan. Aku membaca pertanyaan itu dua kali, lalu meminta Lily membantu menegaskan jawabanku: semua alat disediakan, pakaian biasa cukup, dan ayahnya boleh menunggu di ruang sebelah.
Aku tidak ingin sebuah undangan menggambar menghabiskan uang yang seharusnya dipakai keluarganya untuk makan.
Hana membantuku menata meja. Ada empat kursi kecil, kertas, kapur warna, dan wadah air untuk membersihkan tangan. Aku sengaja tidak mengambil alat lukis emas dari lemari hadiah. Nymph tidak perlu khawatir memecahkan sesuatu yang harganya lebih mahal daripada rumah.
Carl sudah ditanya terlebih dahulu. Ia ingin ikut sebentar, dengan pendamping berada dekat pintu. Dego sedang belajar, tetapi menitipkan buku ikan jika kami ingin mencari gambar.
'Kalau menggambar ikan, jangan seperti gambar Kak Dego,' bisiknya kepadaku sebelum pergi.
'Kenapa?'
'Nanti kelihatan kalau kakak tidak pandai.'
Aku tertawa dan berjanji tidak menjadikan ikannya bahan pengumuman istana.
Nymph tiba membawa boneka beruang di dalam kantong yang sama. Baron Eradlo menuntunnya sampai pintu, lalu menunggu ia melihat ruangan sebelum melepaskan tangannya. Ia tidak meminta putrinya melakukan sesuatu yang bisa membuatku berkenan.
Aku memperkenalkan Hana dan Carl satu per satu.
Nymph tampak hendak menunduk sangat rendah ketika mendengar gelar Carl. Aku hampir mengatakan tidak perlu, tetapi Carl lebih dahulu menggeser kursinya.
'Kau bisa duduk di sini,' katanya.
Tempat yang ditunjuknya paling dekat dengan pintu. Nymph melihat ayahnya sekali lagi, lalu masuk dan meletakkan bonekanya di kursinya sementara kami mengambil kertas. Sebelum duduk, ia memindahkan beruang itu ke pangkuan.
Kami mulai menggambar tanpa menentukan siapa yang harus membuat gambar paling bagus. Hana memilih bunga. Aku mencoba menggambar Ash. Carl lama menatap kertas kosong, sampai Nymph menawarkan kapur hijau yang berada di dekat tangannya.
'Kau mau warna ini?'
Carl mengambilnya. 'Terima kasih.'
Tidak ada cahaya yang memenuhi ruangan. Tidak ada suara yang menyatakan takdir mereka akhirnya bertemu. Hanya dua anak yang berbagi kapur di atas meja.
Aku menunduk pada gambarku dan merasa lega karena tidak harus membuat saat itu menjadi sesuatu yang lebih besar.
Masalah pertama muncul ketika Grin membawa kudapan. Aku lupa memindahkan kantong kertas di dekat sikunya. Sebuah piring bergeser, menyenggol wadah air, lalu menumpahkan sebagian isinya di atas meja.
Nymph langsung berdiri.
'Maaf.'
Padahal tangannya tidak menyentuh apa pun. Carl menarik kedua telapak tangannya dari meja. Hana buru-buru mengangkat kertas yang belum basah, sementara aku menatap Grin yang sudah meletakkan piring dengan aman.
'Aku yang menyenggol,' kata pengawalku. 'Tidak ada yang perlu dihukum.'
Ia memanggil pelayan untuk membawa kain. Aku membantu memindahkan kapur ke sisi kering. Nymph masih berdiri sampai aku menunjukkan bahwa kertas baru tersedia di bawah meja.
'Gambarnya rusak sedikit?' tanyaku.
Ia melihat kertasnya. Sudut yang terkena air belum diisi apa-apa. Perlahan ia duduk kembali.
Aku teringat pelayan yang dulu hampir dihukum karena goresan kecil di telapak tanganku. Waktu itu aku hanya bisa menangis sampai keluargaku mengerti. Kini aku bisa bicara, tetapi aku juga perlu memastikan orang-orang di ruangan ini melihat bahwa kesalahan kecil tidak selalu diikuti ancaman besar.
Carl mengambil kapurnya kembali setelah Grin selesai mengeringkan meja.
'Di sini banyak kertas,' gumamnya.
'Terlalu banyak,' jawabku. 'Qiya perlu bantuan menghabiskannya.'
Nymph tersenyum tipis. Ia menggambar telinga beruang yang besar dan tidak rata. Ketika Carl bertanya mengapa salah satunya lebih kecil, ia menjelaskan bahwa ayahnya pernah menjahit bagian itu setelah jahitannya lepas.
'Masih bisa dipeluk,' katanya.
Carl mengangguk. Ia lalu menggambar dua buah bulat di bawah pohon. Aku tidak menanyakan apakah salah satu gambar itu mewakili Nero. Jika ia ingin menceritakannya, ia boleh memilih sendiri kapan.
Setengah jam kemudian, pelayan datang membawa pesan bahwa Baron Eradlo menanyakan kapan putrinya ingin pulang. Bukan karena ia hendak mengakhiri acara, melainkan karena mereka harus menyiapkan perjalanan sebelum gelap.
Nymph melihat gambar yang belum selesai. Aku menawarkan kertas tambahan agar ia bisa meneruskannya di rumah. Ia boleh membawanya tanpa berjanji mengirimkan hasil yang sempurna kepadaku.
Carl juga mulai terlihat lelah. Pendampingnya mendekat dan menanyakan apakah ia ingin kembali ke kamar. Ia mengangguk, lalu meminta izin membawa kapur hijau yang sedang dipakainya.
'Boleh,' jawabku. 'Kapur bukan pinjaman resmi kekaisaran.'
Carl tampak ragu apakah ia diizinkan tertawa. Aku tertawa lebih dahulu, dan Hana menyusul. Akhirnya ia ikut tersenyum.
Sebelum berdiri, ia meminta dua lembar kertas tambahan untuk menggambar bersama adiknya kelak. Aku menyerahkannya tanpa bertanya kapan mereka akan bertemu. Pendamping Carl membantu menyimpan kertas itu dalam map agar tidak terlipat. Benda kecil itu tidak akan menyelesaikan masalah di Terium, tetapi Carl tampak lebih tenang ketika memastikan sudutnya tidak terkena air.
Ketika acara selesai, aku mengantar Nymph sampai ruang sebelah. Baron Eradlo berdiri menyambutnya. Ia memeriksa kantong boneka, mendengarkan penjelasan tentang gambar, lalu mengucapkan terima kasih kepadaku tanpa menyodorkan permintaan lain.
Aku justru bertanya apakah ia masih berdagang.
Baron terdiam sebentar. Kemudian ia menjawab bahwa ada urusan yang sedang berusaha ia perbaiki. Aku tidak menawarkan membeli semua barangnya hari itu. Aku meminta izin agar Linn menghubunginya jika ia ingin menjelaskan masalah itu kepada petugas yang tepat.
'Bukan syarat Nymph datang lagi,' tambahku.
Wajah baron melunak. Ia mengangguk dan mengatakan akan mempertimbangkannya. Nymph melambaikan gambar yang ia bawa sebelum berjalan bersama ayahnya.
Aku kembali ke meja. Air sudah dibersihkan, kursi dikembalikan, dan kapur hijau Carl tidak lagi berada di wadahnya. Di atas kertas gambarku, Ash tampak seperti kucing yang terlalu gemuk.
Hana memiringkan kepala.
'Mungkin Ash tidak perlu melihat ini.'
Aku tertawa. Hari itu tidak menghasilkan perjanjian antara dua kekaisaran. Tetapi empat anak sempat duduk bersama tanpa seorang pun diminta membuktikan kekuatan, asal-usul, atau alasan mengapa ia pantas berada di sana.