Surat Mith selesai pada hari kelima kunjungan Carl.
Ia tidak memberikannya kepadaku untuk diantar. Ia menyerahkan surat itu kepada pendamping Carl, lalu menunggu jawaban tanpa berdiri di depan pintu kamar sampai tamunya merasa harus keluar.
Aku mengetahui isi surat itu karena Mith sendiri membacakan salinannya ketika kami bertemu di perpustakaan. Ia mengakui telah menyalakan api untuk membuat Carl menjauh dariku. Tidak ada kalimat yang mengatakan bahwa semua itu terjadi karena ia terlalu menyayangi adiknya.
'Kakak masih ingin menulis alasan itu,' katanya.
'Tapi tidak ditulis?'
Ia menggeleng. 'Itu tidak membuatnya lebih benar.'
Aku menyentuh punggung tangannya. Aku tetap marah ketika mengingat wajah Carl di taman. Namun, aku juga senang Mith mau mengatakan sesuatu yang sulit tanpa menunggu aku memintanya lagi.
Carl belum langsung menjawab. Dua hari kemudian, ia mengizinkan Mith datang ke ruang duduk dengan pendamping. Aku tidak berada di sana. Menurut Dego, yang menemani Carl sebelum pertemuan dimulai, ia meminta meja diletakkan di antara kedua kursi.
Mith menerima pengaturan itu.
Ketika kembali, kakakku tidak membawa cerita tentang pelukan atau janji persahabatan. Ia hanya berkata Carl sudah mendengar permintaan maafnya dan belum ingin bermain bersamanya.
'Kak Mith sedih?'
'Ya.'
Aku menunggu ia melanjutkan. Mith menatap jendela, lalu mengusap gelang merahnya.
'Tapi itu bukan alasan menyuruhnya bilang sudah tidak apa-apa.'
Aku mengangguk. Di luar, Luca masih membantu menyelesaikan jalan setapak. Pekerja meminta beberapa batu diganti, bukan ditumpuk kembali di atas retakan. Luca mengeluh tentang lamanya pekerjaan, tetapi tetap datang pada pagi berikutnya.
Carl mulai keluar kamar lagi. Kali ini tidak ada yang mengubah tempat duduknya karena ia terlalu dekat denganku. Dego menunjukkan buku ikan, Hana membawa kertas gambar, dan aku berusaha membuat gambar kudaku sendiri yang tidak tampak seperti kambing.
Niel datang beberapa kali bersama tabib. Pemeriksaan bekal sudah diulang, dan hasilnya tetap menunjukkan ada bahan berbahaya pada sebagian makanan. Bekal itu tidak diberikan kembali kepada Carl. Namun, tabib juga belum mengatakan bahwa semua gangguan tubuhnya akan hilang hanya karena beberapa hari tinggal di Peranto.
Ia masih perlu dirawat dan dipantau.
Suatu sore, aku melihat Carl menatap piring roti yang dibawakan pelayan. Ia tidak mengambilnya sampai Dego memotong satu bagian untuk dirinya sendiri. Aku ingin mengatakan bahwa roti itu aman, tetapi aku tahu kata-kata mudah diucapkan oleh orang yang tidak pernah harus takut pada makanan di rumahnya.
Aku hanya duduk bersamanya sampai ia siap mengambil potongannya sendiri.
Pada hari yang sama, Linn menyiapkan surat kedua. Surat itu tidak meminta maaf. Isinya laporan resmi tentang kesehatan putra mahkota Terium, hasil pemeriksaan bekal, dan permintaan agar perlindungan terhadap anak-anak keluarga kekaisaran dibicarakan langsung dengan ayah Carl.
Aku mendengar penjelasannya ketika ayah mengundangku duduk di ruang kerja. Pendamping Carl hadir dan memeriksa bagian yang berkaitan dengan barang bawaan rombongannya. Ia tampak lebih pucat daripada saat pertama kali datang, tetapi tidak menolak namanya dicatat sebagai orang yang menerima hasil pemeriksaan.
'Bagaimana dengan Nero?' tanyaku.
Pendamping itu melihat Linn. Ia sudah mendengar cerita tentang buah dan kamar yang dikunci dari luar.
'Kami juga meminta kabar tentang keadaannya,' jawab Linn. 'Utusan tidak menyerahkan surat ini kepada sembarang pejabat di pintu istana. Penerimanya harus dapat dipastikan.'
Ayah memberi segelnya setelah membaca seluruh laporan. Aku memperhatikan cincinnya menekan lilin, meninggalkan tanda yang pernah kulihat di banyak surat. Kali ini tanda itu membawa pertanyaan tentang seorang anak yang tidak berada dalam jangkauan pengawal kami.
'Selir bisa marah,' kataku pelan.
Ruangan menjadi sunyi. Aku menyadari bahwa aku baru menyebut orang yang selama ini kuhindari dalam percakapan dengan Linn.
Ayah meletakkan cincin kembali pada jarinya. 'Mengapa Qiya memikirkan selir Terium?'
Aku meremas ujung bajuku. 'Carl bilang adiknya berpura-pura marah ketika membawa buah. Kalau dia harus berpura-pura, mungkin ada orang yang tidak ingin Nero menolongnya.'
Itu memang bagian cerita yang baru kudengar dari Carl. Aku tidak menambahkan pengakuan palsu atau nama saksi yang kubuat sendiri. Linn mengangguk dan memastikan utusan mengetahui bahwa pembicaraan dengan anggota keluarga harus dilakukan tanpa menempatkan anak-anak sebagai pembawa pesan berbahaya.
Aku tidak ikut memilih pengawal atau jalan yang akan mereka tempuh. Setelah surat selesai, ayah menyuruhku kembali kepada Hana. Untuk urusan ini, aku tidak perlu menyamar dan berangkat sendiri demi memastikan sebuah amplop tiba.
Di kamar, undangan untuk Nymph masih terbuka di meja. Aku menuliskan hari dan waktu menggambar, menyebut bahwa ayahnya boleh mengantar dan menunggu. Hana membantu memastikan tidak ada kalimat yang terdengar seperti perintah menghadiri sidang.
'Kau ingin mengundang Carl juga?' tanyanya.
Aku memikirkan gadis berambut perak dengan boneka beruangnya. Dalam Mask, aku tahu mereka akan bertemu pada sebuah perayaan kemenangan. Tetapi mempercepat pertemuan itu hanya karena aku ingin memastikan sebuah pasangan terbentuk bukan alasan yang baik.
'Kalau mereka sama-sama ingin menggambar, boleh,' jawabku. 'Tapi Nymph belum mengenal siapa pun di sini.'
Kami menulis undangan untuk kegiatan kecil di ruang yang dekat dengan taman, bukan aula yang penuh gelar. Aku meminta pelayan menyampaikannya kepada Baron Eradlo dengan waktu yang cukup agar ia bisa menjawab.
Hana menyarankan agar daftar perlengkapan juga dituliskan. Aku baru menyadari bahwa Nymph mungkin mengira ia harus membeli kertas atau membawa hadiah untukku. Kami menambahkan penjelasan bahwa semua alat tersedia dan ia tidak perlu membawa apa-apa selain dirinya. Setelah membacanya sekali lagi, aku membiarkan gambar bunga kecil pada ujung kertas tetap miring. Undangan itu masih bisa dipahami tanpa dihias seperti pengumuman penobatan.
Malamnya, aku melihat dua surat meninggalkan istana lewat tangan yang berbeda. Yang satu membawa laporan yang mungkin membuat orang dewasa di Terium marah. Yang lain hanya bertanya apakah seorang anak ingin datang menggambar.
Keduanya penting. Aku tidak ingin begitu sibuk menyelamatkan masa depan sampai lupa memberi mereka kesempatan menjalani hari yang tidak menakutkan sekarang.