Aku kembali melihat rambut perak itu di tempat yang berbeda.
Bukan di depan etalase mainan, melainkan di halaman pengobatan gratis yang diurus keluarga Hannes. Gadis itu duduk di ujung bangku sambil memeluk sebuah kantong kain. Ujung telinga boneka beruang menyembul dari dalamnya.
Aku berhenti berjalan.
Hana mengikuti arah pandanganku. 'Kau mengenalnya?'
'Pernah melihatnya waktu kita pergi ke kuil.'
Aku tidak mengatakan bahwa aku mengenalnya dari sebuah novel. Di belakang kami, Nove memberi isyarat kepada penjaga halaman bahwa aku ingin mendekati bangku. Tidak ada barisan yang dibubarkan atau orang sakit yang disuruh mundur untuk memberiku tempat.
Gadis itu baru menyadari kami ketika Hana memberi salam. Ia segera berdiri. Kantongnya terbuka sedikit, memperlihatkan boneka beruang besar yang sudah dijahit pada salah satu lengannya.
'Boleh kami duduk di sini?' tanyaku.
Ia mengangguk. Aku duduk dengan susah payah karena bangkunya lebih tinggi daripada kursiku di istana. Hana membantu tanpa membuat banyak suara.
Beberapa saat kami hanya melihat orang-orang bergerak menuju ruang pemeriksaan. Lalu aku memberanikan diri menunjuk bonekanya.
'Aku pernah membagikan mainan seperti itu.'
Gadis itu melihat wajahku lebih teliti. Matanya yang ungu membesar.
'Dari kereta,' katanya.
Aku mengangguk. 'Yang berhenti di dekat toko mainan.'
Ia membuka kantongnya dan menunjukkan beruang itu. 'Aku masih menyimpannya.'
Dadaku menghangat. Dulu aku sempat takut semua tindakanku hanya menjadi cara licik untuk mengubah orang-orang yang akan menghancurkan Peranto. Namun, jahitan pada lengan boneka itu tidak tahu apa-apa tentang rencanaku. Seseorang telah memainkannya, merawatnya, dan memperbaikinya setelah rusak.
'Namaku Qiya,' kataku.
'Nymph.'
Nama itu terdengar berbeda ketika diucapkan pemiliknya sendiri. Di dalam Mask, ia selalu muncul di dekat kata-kata tentang kecantikan, cahaya, cinta, dan pembalasan. Di bangku ini, ia hanya seorang anak dengan sepatu yang bagian depannya sudah menipis.
'Kau menunggu diperiksa?'
Nymph mengangguk. 'Ayah sedang mengambil nomor.'
'Ayahmu ikut?'
Ia menunjuk seorang lelaki yang sedang berbicara kepada petugas. Pakaiannya bersih, tetapi bagian siku telah ditambal dengan kain yang warnanya sedikit berbeda. Aku tidak perlu menebak identitasnya terlalu lama. Seorang petugas memanggilnya Baron Eradlo ketika menyerahkan lembar antrean.
Aku teringat cerita tentang perdagangan yang jatuh karena orang-orang tidak mau membeli barang darinya. Bukan berarti ia membenci anak yang diasuhnya. Yang pernah kubaca justru menunjukkan betapa mudahnya orang menghukum keduanya dengan sebutan yang tidak pernah mereka buktikan.
Nymph memasukkan kembali bonekanya ketika dua perempuan melewati bangku. Salah seorang berbisik, tidak cukup pelan untuk disembunyikan dari kami.
'Itu anaknya.'
Perempuan lain melihat rambut perak Nymph dan menoleh kepada baron. Aku mendengar potongan kata berikutnya, kata yang biasa dipakai untuk menyebut anak yang dianggap membawa aib.
Hana menegang. Nymph merapatkan kantongnya ke dada.
Aku turun dari bangku.
'Namanya Nymph,' kataku.
Kedua perempuan itu berhenti. Mereka baru menyadari pengawal di belakangku. Wajah salah satunya berubah pucat.
'Kami tidak bermaksud—'
'Dia sedang menunggu giliran diperiksa. Sama seperti orang lain.'
Aku tidak meminta Nove memenjarakan mereka. Aku juga tidak bisa memaksa Nymph berdiri di depan kerumunan untuk mendengar penjelasan mengapa orang seharusnya tidak menghinanya. Aku hanya meminta petugas membantu menjaga barisan agar orang yang menunggu tidak diganggu.
Nove berbicara kepada petugas di dekat pintu. Kedua perempuan itu menjauh tanpa diikuti pengawal bersenjata.
Baron Eradlo kembali dengan langkah cepat. Ia melihatku, Nymph, lalu kantong boneka yang digenggam putrinya.
'Apakah ada masalah?'
Nymph menggeleng terlalu cepat. Aku memperkenalkan diri sebelum ia merasa harus meminta maaf atas kejadian yang tidak ia sebabkan.
Baron menunduk ketika mengetahui siapa aku. Aku meminta ia tidak berlutut di tengah halaman yang dipenuhi orang sakit. Setelah itu, aku bertanya apakah ia mengizinkan aku duduk bersama Nymph sampai gilirannya tiba.
'Tentu, Tuan Putri.'
Ia duduk di ujung bangku, tidak meninggalkan putrinya untuk mengejar percakapan dengan pejabat lain. Nymph memberikan kantong boneka kepadanya sebelum masuk ke ruang pemeriksaan. Baron menerima dan merapikan telinga beruang yang terlipat di bawah tali.
Gerakan kecil itu membuatku berhenti menyusun jawaban berdasarkan nama keluarga semata. Aku tahu Nymph perlu dilindungi dari penghinaan. Aku belum memiliki alasan untuk menyebut ayah angkatnya sebagai salah seorang yang menyakitinya.
Sambil menunggu, baron menjawab pertanyaanku tentang perjalanan mereka. Mereka datang karena surat undangan pengobatan sampai ke tempat tinggalnya. Ia tidak meminta jalur khusus atau mengaku mengenalku demi melewati barisan.
'Dulu Qiya pernah berhenti di dekat toko mainan,' kataku. 'Nymph mendapat beruangnya waktu itu.'
Baron tersenyum tipis. 'Saya tahu. Ia masih ingat kereta itu.'
Aku menatap kantong di pangkuannya. Mainan yang bagiku hanya salah satu dari banyak benda di istana ternyata bisa tinggal begitu lama dalam ingatan orang lain.
Ketika Nymph keluar, aku tidak menanyakan hasil pemeriksaannya di depan orang-orang. Aku mengembalikan tempat di bangku dan menunggu ia mengambil bonekanya dari ayahnya.
'Kalau suatu hari ingin menggambar bersama, aku boleh mengirim undangan?' tanyaku.
Nymph melihat baron terlebih dahulu. Kali ini aku tidak menganggap gerakan itu pasti berarti takut. Ia mungkin hanya ingin memastikan jadwal dan perjalanan mereka memungkinkan.
Baron mengangguk kepada putrinya. 'Kalau kau ingin.'
'Aku ingin,' jawab Nymph pelan.
Hana tersenyum. Aku meminta alamat kepada baron melalui petugas, lalu berjanji mengirim surat yang menjelaskan waktunya. Bukan perintah datang ke istana keesokan pagi, dan bukan tawaran memindahkan Nymph dari keluarganya.
Ketika kami berjalan pulang, aku menoleh sekali lagi. Nymph melambaikan tangan dengan boneka beruang terangkat di sebelahnya.
Aku membalas. Kali ini, sebelum memikirkan bagaimana ia mungkin mengubah masa depan Carl, aku ingin memastikan ia punya tempat untuk menjalani harinya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Hana mengingatkan bahwa ia juga pernah takut datang kepada orang yang bisa menyembuhkannya. Ia tidak sedang membicarakan Nymph, tetapi aku mendengarnya dengan sungguh-sungguh. Undangan saja belum tentu cukup membuat seseorang percaya bahwa dirinya benar-benar boleh menerima bantuan tanpa membawa sesuatu sebagai balasan.