Carl tidak menerima tamu pada sore setelah kejadian di taman.
Aku mengetahuinya dari Dego, yang kembali membawa buku ikan di tangannya. Ia tidak meletakkannya diam-diam di kamar Carl atau memaksa pelayan meneruskan pesan. Ia hanya berkata akan menyimpannya sampai pemilik kamar ingin membaca.
Aku duduk di sebelahnya. Kami tidak membicarakan batu yang retak.
Linn meminta para pengawal menjaga bagian taman tersebut agar tidak dimasuki orang lain. Tidak ada pengumuman tentang jenis spirit tamu Terium. Para pelayan yang menyaksikan keributan diberi tahu bahwa kejadian itu sedang ditangani bersama pendamping rombongan.
Namun, orang-orang tetap bertanya. Di istana yang biasanya penuh bisikan tentangku, sebuah jalan retak dan acara bermain yang dihentikan tentu tidak akan lewat begitu saja.
Mith menemukanku di perpustakaan keesokan pagi.
Ia tidak membawa pedang latihan. Tempat di pinggangnya yang biasa ditempati senjata itu tampak kosong. Aku menutup buku, menunggu ia mengatakan sesuatu.
'Kakak ingin meminta maaf.'
'Kepada Qiya?'
Ia mengangguk, lalu berhenti ketika melihat wajahku.
'Kepada Carl juga,' tambahnya.
Aku menggeser kursi untuknya. Mith duduk tanpa menyentuh kepala atau tanganku. Beberapa saat kami hanya mendengar suara orang membalik halaman di sisi lain ruangan.
'Kakak tidak suka ketika kau membelanya,' katanya akhirnya.
Aku menatapnya. Setidaknya kali ini ia tidak menyebut nama kekaisaran atau tugas melindungi sebagai alasan yang terdengar lebih baik.
'Karena Qiya tidak memilih Kak Mith?'
Ia menunduk sedikit. 'Mungkin.'
'Kalau Kak Mith salah, Qiya tidak mau ikut bilang benar.'
Mith mengangguk perlahan. Aku tidak tahu apakah kata-kataku membuatnya sedih. Tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa menyayanginya berarti harus membiarkan ia menakuti orang lain.
'Carl belum mau bertemu,' kataku.
'Kakak sudah bertanya kepada pendampingnya.'
'Kalau begitu tunggu.'
Ia tidak langsung berdiri. Ia memperhatikan gelang merah di pergelangan tangannya, menyentuh manik bintang dengan ibu jari. Aku teringat surat yang kuberikan pada hari debut. Menjaga rakyat dan keluarga ternyata lebih sulit ketika harus dimulai dengan menahan kemauan sendiri.
'Kakak bisa menulis dulu,' katanya.
'Jangan minta dia segera memaafkan.'
Mith mengangkat kepala, lalu mengangguk. Ia pergi ke meja tulis di ujung perpustakaan. Aku tidak mengikuti untuk memilihkan setiap kalimatnya.
Luca melakukan sesuatu yang berbeda. Ia turun ke taman bersama pekerja dan pengawas yang ditunjuk ayah. Ketika aku lewat bersama Hana, ia sedang mengangkat potongan batu yang rusak, tanpa membiarkan Ash membawa sisanya sebagai pengganti.
Ia melambai kepadaku, tetapi tidak meminta aku menyampaikan bahwa ia sudah dihukum. Aku menghargai hal itu. Carl tidak harus menerima beban untuk membuat semua orang merasa lebih baik setelah kejadian kemarin.
Menjelang siang, Linn memanggilku ke ruang duduk tempat Carl pernah diperiksa. Pendamping Carl ada di sana. Niel menunggu bersama tabib di ruangan sebelah.
Aku berhenti di pintu. 'Carl ingin bertemu Qiya?'
Linn mengangguk. 'Ia menanyakan apakah kau juga takut kepadanya.'
Dadaku terasa sakit.
Carl duduk dekat jendela. Kedua tangannya terlipat di pangkuan. Ketika aku masuk, ia melihat ke belakangku seolah menunggu orang lain menyusul.
'Kak Mith tidak ikut,' kataku. 'Qiya datang sendiri. Hana menunggu di koridor.'
Linn dan pendamping Carl tetap di sisi ruangan. Aku mengambil kursi di seberangnya, bukan duduk begitu dekat sampai ia tidak bisa bergeser.
'Aku tidak sengaja,' kata Carl.
Aku mengangguk. 'Qiya melihat.'
'Batunya rusak.'
'Kak Luca sedang membantu memperbaiki. Kak Mith tidak boleh memakai spirit di taman untuk sementara.'
Carl menatapku, tampak tidak memahami bagian terakhir itu. Mungkin ia menunggu namanya ikut disebut sebagai orang yang akan dihukum.
'Kau takut?' tanyanya pelan.
Aku mengingat masa depan yang pernah kubaca. Tidak adil mengatakan aku tidak pernah takut kepada nama Carl. Tetapi anak di depanku tidak memegang tanggung jawab atas semua hal yang mungkin ia lakukan dua belas tahun lagi.
'Qiya takut waktu semua orang mulai membuatmu mundur,' jawabku. 'Qiya tidak mau kejadian itu terulang.'
Carl menunduk. 'Di rumah, aku tidak boleh membuat orang tahu.'
Ia tidak mengatakan apa yang harus disembunyikan. Linn tidak menyela untuk menyebut jenis spirit tertentu. Aku menunggu sampai Carl kembali memandangku.
'Nero tahu?'
Ia mengangguk cepat, kemudian menggenggam lengan bajunya.
'Dia tidak jahat,' katanya. 'Warna ungu itu bukan karena dipukul. Nero yang membawa buahnya.'
'Qiya tahu ada buah blum di bekalmu. Kak Niel bilang warnanya bisa dibersihkan.'
Carl mengusap pergelangan tangannya yang kini tidak lagi berwarna ungu. Ia bercerita dengan kalimat pendek tentang buah dari hutan, tentang adiknya yang masuk ke sebuah kamar sambil berpura-pura marah, dan tentang bagaimana mereka bisa makan bersama sebentar sebelum orang dewasa datang.
Ia berhenti ketika sampai pada pintu kamar yang dikunci dari luar.
Aku tidak memintanya melanjutkan. Linn memindahkan cangkir air lebih dekat dan bertanya apakah Carl ingin beristirahat. Anak itu mengangguk, tetapi sebelum aku pergi ia meminta Dego datang lain kali.
'Bukunya masih ada,' jawabku.
Untuk pertama kalinya hari itu, Carl tersenyum.
Aku meminta pelayannya menyampaikan undangan itu kepada Dego. Jam kunjungannya tetap akan dipilih setelah Carl beristirahat, bukan sebelum ia sempat makan.
Di luar, Linn berbicara kepada pendampingnya tentang pemeriksaan bekal. Aku hanya mendengar bagian yang disampaikan ketika mereka mengajakku duduk kembali: ditemukan bahan berbahaya pada sebagian makanan yang dibawa dari Terium. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan, dan mereka belum menetapkan siapa yang memasukkannya.
Aku memegang tepi kursi. Jadi ketakutan itu bukan hanya sesuatu yang tersisa dari ingatanku.
Pendamping Carl meminta hasilnya dicatat dan dikirim kepada pihak yang dapat melindungi anak itu di Terium. Linn menjawab bahwa ia akan membicarakannya dengan kaisar sebelum pesan diberangkatkan. Mereka juga harus memikirkan Nero, yang masih berada di tempat yang sama.
Aku memandang pintu kamar Carl yang tertutup. Surat permintaan maaf Mith belum cukup untuk memperbaiki apa yang terjadi kemarin. Tetapi kini ada orang dewasa yang mendengar cerita anak itu dan memeriksa makanannya, bukan hanya menunggu ia menunjukkan kekuatan yang bisa mereka takuti.