Tiga hari setelah kedatangannya, Carl akhirnya kembali ke taman.
Tabib masih memeriksa bekal perjalanan dan meminta ia tetap beristirahat bila merasa tidak nyaman. Namun, duduk di dekat kolam diperbolehkan. Dego menerima kabar itu seperti seseorang yang baru mendapat izin mengadakan pesta besar.
Ia menyiapkan dua kotak roti, sebuah buku bergambar ikan, dan bola yang menurutnya tidak akan jatuh ke air.
Aku tidak yakin sebuah bola bisa diberi janji seperti itu.
Hana membawa alas duduk. Nove memeriksa bangku, sementara Grin memastikan jalur di belakang semak tidak mengarah ke bagian taman yang sedang diperbaiki. Aku mengikuti mereka dengan sebuah buku kecil yang belum selesai kubaca.
Carl datang bersama pendampingnya. Ia berhenti ketika melihat Ash berbaring di bawah pohon.
Luca sedang duduk di dekat panther itu.
'Dia tidak akan mendekat tanpa dipanggil,' kataku kepada Carl. 'Tapi kita boleh duduk di sisi kolam yang lain.'
Carl mengangguk. Aku tidak menarik tangannya untuk membuktikan Ash ramah. Tubuh panther hitam sebesar itu bisa menakutkan bagi siapa pun yang baru pertama kali melihatnya.
Dego memulai cerita tentang ikan lagi. Kali ini Carl berhasil menjawab dua pertanyaan sebelum kakakku berbicara kembali. Hana membuka buku dan menunjukkan gambar yang sesuai dengan ikan di kolam.
Aku baru hendak duduk ketika Mith datang dari jalan setapak. Ia melihat alas duduk, roti, lalu Carl yang berdiri di dekatku.
'Qiya duduk di sini.'
Ia menunjuk tempat di sebelahnya, jauh dari Carl. Aku menoleh kepada Hana. Wajah temanku menegang, seolah mengenali nada yang dulu dipakai Dego ketika melarangnya memanggilku dengan nama.
'Qiya mau melihat buku dengan Hana dan Carl.'
Mith mendekat. 'Kakak juga bisa menunjukkan bukunya.'
Luca bangkit dari dekat pohon. Ash mengangkat kepala, tetapi tetap di tempatnya. Aku merasa udara menjadi sempit bahkan sebelum ada yang menggunakan spirit.
'Jangan terlalu dekat dengan adik kami,' kata Luca kepada Carl.
Carl mundur. Tumitnya menyentuh tepi alas duduk. Dego mengangkat tangan, mencoba mengatakan bahwa ia yang mengundang tamu itu ke taman.
Mith tidak memandang Dego. Setitik api muncul di dekat jari tangannya, kecil tetapi cukup terang untuk membuat Carl berhenti bergerak.
Aku berdiri.
'Padamkan.'
Suaraku terdengar lebih keras daripada yang kuinginkan. Mith menatapku, terkejut. Carl memegang lengan bajunya sendiri begitu kuat sampai buku jarinya memucat.
Sesuatu bergerak di bawah sepatunya.
Bukan akar atau serangga. Garis tipis muncul pada batu jalan setapak, memanjang dengan suara yang membuat tengkukku dingin. Air di dekat tepi kolam bergetar, lalu tumpah sedikit ke rumput.
Pendamping Carl langsung meraih bahunya. Nove bergerak ke depanku, sementara Grin meminta Hana mundur. Semuanya terjadi begitu cepat sampai aku tidak sempat mengatakan apa yang kuketahui.
Carl tidak sedang menyerang kami.
Ia ketakutan.
'Mith, padamkan sekarang!'
Api itu menghilang. Pada saat yang sama, Linn yang datang dari arah aula berhenti di antara kami. Ia tidak mencabut pedang. Ia menyuruh semua orang memberi ruang, kemudian memanggil Carl dengan suara rendah.
'Tidak ada yang akan mendekatimu. Lihat pendampingmu dulu.'
Carl menatap lelaki di sebelahnya. Napasnya tersengal. Aku ingin menghampiri, tetapi Nove menahan langkahku, bukan tubuhku. Ia hanya mengangkat tangan, meminta aku menunggu.
Getaran di air perlahan berhenti. Garis pada batu tidak bertambah panjang. Carl menunduk dan berbisik bahwa ia ingin kembali ke kamarnya.
Pendampingnya mengantar tanpa meminta ia memberi hormat terlebih dahulu.
Aku baru bergerak setelah rombongan itu menjauh. Mith masih berdiri di tempat yang sama. Luca memandang batu yang retak, lalu membuka mulut.
'Dia menyembunyikan—'
'Kak Luca menakutinya,' potongku.
Luca terdiam. Aku menatap Mith. Air mataku mulai naik, tetapi kali ini aku tidak ingin mereka mengira masalahnya selesai jika memelukku.
'Qiya bilang tidak boleh membuat tamu kecil takut. Kak Mith malah menyalakan api.'
'Kakak tidak mengarahkannya kepadanya.'
'Dia tidak tahu itu.'
Mith melihat jari tangannya sendiri. Aku belum pernah merasa begitu marah kepadanya. Dalam Mask, aku hanya membaca akibat bertahun-tahun kemudian. Sekarang aku melihat betapa mudahnya mereka menyebut tindakan sendiri tidak berbahaya karena merasa mampu mengendalikannya.
Linn meminta kami menunggu di ruang duduk. Ayah dipanggil. Tidak ada yang melanjutkan piknik, dan tidak ada kue yang bisa membuat Dego kembali bicara dengan riang.
Ketika ayah datang, Mith mencoba menjelaskan lebih dahulu. Ayah melihatku, lalu meminta Linn menyampaikan urutan yang ia lihat dan mendengar keterangan Nove serta Grin tentang kejadian sebelum ia tiba.
Aku ikut menyampaikan apa yang kudengar. Aku tidak mengatakan bahwa batu retak membuktikan Carl jahat. Itu hanya hal yang terjadi setelah ia ditakuti.
Ayah diam lama.
Lalu ia menyuruh Mith menyerahkan pedang latihannya dan menghentikan latihan spirit di taman selama sepekan. Luca diperintahkan memperbaiki kerusakan jalan bersama pekerja di bawah pengawasan, bukan menutupinya begitu saja dengan tanah. Keduanya tidak diizinkan menemui Carl tanpa pendamping.
'Tapi kami hanya ingin melindungi Qiya,' kata Mith.
'Dari apa?' tanyaku.
Tidak ada yang menjawab.
Ayah menatap kedua putranya. 'Kalian tidak diberi izin menakuti tamu karena ia duduk bersama adik kalian.'
Aku tahu ayah sendiri pernah membuat orang gemetar hanya dengan tatapan. Kalimatnya tidak menghapus semua perbuatannya. Namun, hari ini ia tidak menyuruhku menganggap api Mith sebagai bukti kasih sayang yang harus kuterima.
Di koridor, Dego berhenti di sampingku. Ia masih memegang buku ikan yang belum sempat dibuka Carl.
'Apa bukunya dibawa ke kamar Carl?'
'Tanya dulu apakah dia ingin membacanya,' jawabku.
Dego mengangguk. Wajahnya tampak sedih, bukan marah karena tamunya membuat acara berantakan.
Di taman, para pekerja mulai memasang pagar kecil di sekitar batu yang retak. Luca berdiri menunggu arahan mereka, masih dengan wajah muram. Untuk sekali ini, ia tidak diberi kesempatan menghapus jejak kejadian sebelum orang lain selesai menjelaskannya.
Aku menatap jalan menuju kamar Carl. Tiga hari bersikap sopan belum mengubah semua hal yang ditakutkan anak itu. Kini kami harus menghadapi apa yang benar-benar dilakukan, bukan sekadar berkata bahwa Peranto menyambutnya dengan baik.