Carl tidak berlari ketika Dego mengajaknya mendekati kolam.
Ia berjalan pelan, menoleh lebih dahulu kepada pendampingnya setiap kali hendak menjawab. Dego tampaknya tidak menyadari itu. Ia terus bercerita tentang ikan, tentang Ash yang tidak boleh mengganggu burung di taman, dan tentang betapa sulitnya menemukan kue yang belum diambil Grin.
Aku duduk bersama Hana di bangku. Jika Dego terus bicara seperti itu, Carl mungkin tidak perlu menjawab apa pun sampai besok pagi.
'Adikmu suka kue?' tanya Dego akhirnya.
Carl mengangguk. 'Tapi dia lebih sering membawa buah.'
'Blum?'
'Ya.'
Carl tersenyum ketika menyebutnya. Bukan senyum sopan yang dipakainya di halaman, melainkan senyum seorang anak yang sedang mengingat seseorang yang ia sukai. Aku tidak ingin memotongnya dengan pertanyaan tentang noda di tangannya.
Ketika Niel datang bersama tabib istana, pendamping Carl segera berdiri. Mereka berbicara beberapa langkah dari bangku. Tabib menjelaskan bahwa ada tawaran pemeriksaan setelah perjalanan, bukan kewajiban memperlihatkan spirit kepada tuan rumah.
Carl menunduk saat mendengar kata pemeriksaan.
'Apa aku melakukan kesalahan?'
Niel berhenti di dekatnya. 'Tidak. Adik kakak melihat kau memegang perut sebelum makan. Kalau sakit, tabib bisa membantu.'
Aku mengangkat tangan sedikit ketika Carl melihat ke arahku. 'Qiya pernah sakit juga.'
'Sekarang sakit?'
'Sekarang tidak.'
Ia tampak memikirkan jawaban itu. Kemudian, setelah pendampingnya mengangguk, ia setuju masuk ke ruang duduk kecil di dekat taman. Dego hendak ikut, tetapi Niel meminta kami menunggu di luar.
Aku hampir memprotes. Aku yang tahu bagian buruk di dalam Mask. Bagaimana jika mereka melewatkan sesuatu yang penting?
Namun, mengetahui sebuah cerita tidak memberiku hak melihat seluruh tubuh dan ketakutan anak lain. Aku duduk kembali bersama Hana. Pintu tidak tertutup rapat, tetapi kami tidak mendekat untuk mengintip.
Dego menghitung ikan di kolam, lalu menyerah karena ikan-ikan itu terus bergerak. Aku memperhatikan pintu sambil menahan kakiku agar tidak terus mengetuk lantai.
Beberapa saat kemudian, pendamping Carl keluar dan memanggil seorang pelayan Terium. Ia meminta barang bawaan yang berisi bekal perjalanan dibawa ke ruang sebelah. Wajahnya membuatku semakin cemas, tetapi ia tidak memberikan penjelasan kepada kami.
Niel menyusul setelahnya.
'Carl ingin kembali ke kamarnya untuk beristirahat,' katanya kepada Dego. 'Kalian bisa bermain lagi besok.'
'Dia sakit?'
'Ada yang perlu diperiksa. Bukan karena berjalan ke kolam denganmu.'
Dego mengangguk, terlihat lega karena tidak menyebabkan temannya jatuh sakit. Aku mendekati Niel setelah ia kembali melihat ikan.
'Tangannya?'
Niel menatapku. 'Noda buah. Carl sendiri yang membersihkannya. Sebagian warna menempel terlalu lama, tetapi itu bukan luka yang baru terjadi di Peranto.'
Aku mengembuskan napas. Setidaknya Nero tidak akan dituduh memukul kakaknya hanya karena warna ungu itu.
'Perutnya bagaimana?'
'Tabib belum selesai memeriksa. Kakak membantu menenangkan rasa tidak nyamannya, tetapi tidak bisa mengatakan penyebabnya hanya dengan menyentuh tangannya.'
Aku mengangguk. Niel memang memiliki spirit penyembuh yang kuat. Ia bukan buku berisi semua jawaban yang bisa kubuka dengan sekali meminta.
Sepanjang sore, aku menunggu kabar di kamarku. Ketika Lily membawakan kudapan, aku menatap piring terlalu lama sampai ia bertanya apakah aku tidak menyukainya.
'Bukan begitu.'
Bagaimana jika semua makanan seseorang di rumahnya sendiri tidak aman? Pikiran itu membuat perutku terasa kosong sekaligus mual. Nero membawa buah dari hutan untuk menolong Carl, tetapi ia tidak tahu seluruh makanan dapur sudah dicemari dalam cerita yang kuingat.
Aku meminta Lily memanggil Linn. Kali ini aku tidak menunggu sampai rasa takut berubah menjadi dugaan yang kuucapkan di depan semua orang.
Linn datang menjelang senja. Ia duduk di kursi seberang, mendengar pertanyaanku tentang bekal Carl. Aku tidak menyebut nama selir sebagai pelaku. Belum ada orang di sini yang bisa membuktikannya.
'Kalau ia membawa makanan dari rumah, apakah makanan itu juga diperiksa?'
'Tabib sudah meminta sisa bekalnya disimpan. Dapur tamu menggunakan bahan istana selama ia di sini.'
'Kalau pendampingnya disuruh membawa sesuatu yang tidak dia ketahui?'
Linn tidak tersenyum mengejek pertanyaanku. Ia mencatat nama pelayan yang bertugas membawa bekal dan menjelaskan bahwa mereka akan menelusuri asalnya. Bukan berarti semua pelayan Terium langsung dijadikan tahanan.
Aku merasa sedikit lebih lega.
'Qiya,' katanya kemudian, dengan suara yang lebih pelan, 'apa ada yang menyampaikan sesuatu kepadamu?'
Aku memandang bros di kerahku. Poppy tidak bicara. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan tentang kehidupan lain yang hanya kuingat sendiri.
'Tidak ada surat rahasia,' jawabku. 'Qiya cuma takut kalau orang dewasa tidak melihat apa yang terjadi pada anak yang selalu bilang tidak apa-apa.'
Itu bukan seluruh kebenarannya. Aku tahu, dan Linn mungkin tahu ada hal yang belum kusampaikan. Tetapi ia tidak memaksaku mengarang saksi yang tidak pernah ada. Ia berjanji memeriksa keadaan Carl berdasarkan hal-hal yang dapat ditemukan di sini.
Malamnya, Carl mengirim pesan melalui pelayannya. Ia ingin mengucapkan terima kasih karena Dego tidak marah ketika acara bermain dihentikan. Pesan itu juga menyebut aku dan Hana.
Aku menatap kertas kecil di tangan Lily. Carl tidak perlu berterima kasih karena diizinkan beristirahat. Namun, mungkin di rumahnya, menghentikan sebuah kegiatan selalu membutuhkan alasan yang lebih besar daripada merasa sakit.
Aku meminta selembar kertas untuk membalas.
Kami masih punya banyak hari untuk melihat kolam, tulisku. Tidak perlu besok kalau kau belum ingin.
Di bawahnya, Dego yang menyusul ke kamarku menggambar ikan yang terlalu bulat. Aku membiarkannya tetap di sana. Surat itu tidak perlu sempurna agar seorang anak tahu bahwa tempatnya di taman belum diberikan kepada orang lain.
Dego meminta kertas tambahan, lalu mencoba menggambar seekor ikan kedua. Kali ini ekornya terlalu panjang. Ia mengernyit, hampir meremas kertas itu, sebelum memutuskan mengirim kedua gambar bersama-sama. Aku memperhatikannya merapikan amplop. Dalam ingatanku tentang Mask, Dego memang menyukai Carl. Namun, baru sekarang aku melihat bentuk kecil dari kebaikan itu: kakakku bersedia menghabiskan waktu menggambar sesuatu yang ia sendiri belum pandai buat, hanya agar tamunya tidak terlalu bosan di kamar.