Aku mengenali nama Carl jauh sebelum mengenali wajahnya.
Ketika kereta Terium berhenti di halaman istana, aku menatap pintunya sambil menggenggam tangan Hana. Dalam ingatanku, nama itu selalu datang bersama bayangan tembok runtuh dan Linn yang tidak pulang. Namun, anak yang turun dari kereta tidak membawa pedang besar atau tatapan seorang pemenang perang.
Ia memegang tepi jasnya dengan kedua tangan agar tidak tersandung saat menuruni tangga.
Seorang pendamping membisikkan sesuatu. Carl mengangguk, lalu berjalan mendekati ayah dan memberi salam dengan gerakan yang terlalu hati-hati. Ia berhenti beberapa langkah lebih jauh daripada tanda yang disiapkan pelayan.
Ayah menyambut utusan Terium dengan suara resmi. Mith berdiri tegak di sebelahnya. Luca menatap rombongan pengawal asing, sedangkan Niel dan Kiel memperhatikan anak yang tidak pernah mengangkat wajah sepenuhnya itu.
Dego justru sibuk melihat kantong kecil di tangan salah seorang pelayan Terium.
'Itu buah?' bisiknya kepadaku.
'Kak Dego belum makan?'
'Sudah. Aku cuma bertanya.'
Aku hampir tertawa, tetapi Carl menoleh pada saat yang sama. Ia mungkin mengira kami sedang membicarakannya. Senyumnya muncul sebentar, lalu hilang ketika Luca maju setengah langkah.
'Putra mahkota Terium dikirim tanpa menunjukkan spirit?' tanya Luca kepada pendampingnya.
Pendamping itu menegang. Carl merapatkan kedua tangan ke tubuhnya.
'Perjalanan ini kunjungan persahabatan, Yang Mulia,' jawab lelaki tersebut. 'Bukan pertandingan kemampuan.'
Mith mengangkat dagu. 'Tetap saja, seorang utusan harus bisa menjelaskan siapa yang diwakilinya.'
Aku menatap kedua kakakku. Belum ada hinaan yang diteriakkan. Belum ada api yang diarahkan kepada tamu. Namun, aku sudah mengenali arah pembicaraan itu.
'Kak Mith,' panggilku.
Ia langsung menoleh. Carl ikut menatapku, tampak lega karena pertanyaan tadi berhenti sejenak.
'Waktu surat Terium datang, Qiya bertanya apakah tamu boleh bilang kalau ada yang membuatnya takut.'
Rahang Mith mengeras. 'Kakak tidak menakutinya.'
'Kalau Kak Mith berdiri di depan Qiya sambil bertanya kenapa Qiya belum menunjukkan spirit, Qiya juga takut.'
Luca hendak menjawab, tetapi ayah mengangkat tangannya. Tidak ada es yang merambat di lantai. Ia hanya memandang rombongan Terium, lalu menyuruh kepala pelayan mengantar mereka beristirahat sebelum perjamuan.
'Pembicaraan tentang urusan kunjungan dilakukan bersama para utusan dewasa,' katanya. 'Anak-anak tidak mengadakan pemeriksaan di halaman.'
Mith menunduk. Luca menarik langkahnya kembali, meski wajahnya masih menunjukkan bahwa ia tidak menyukai cara pendamping Carl menjawab.
Aku tidak langsung menghampiri tamu itu. Ia baru turun dari perjalanan jauh. Memaksanya tersenyum kepadaku hanya karena aku ingin mengubah masa depan juga tidak adil.
Sesudah Carl masuk, aku berjalan bersama Mith ke koridor.
'Dia tidak melakukan apa-apa,' kataku.
'Kakak tahu.'
'Lalu kenapa harus bertanya seperti itu?'
Mith berhenti. Luca menyusul kami dan menyilangkan tangan. Aku menunggu, berusaha tidak mengubah pertanyaan menjadi ceramah panjang. Mereka jauh lebih tua daripada Carl, tetapi juga masih anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kekuatan adalah jawaban pertama untuk segalanya.
'Utusan asing tidak selalu datang untuk berteman,' jawab Mith akhirnya.
'Kalau curiga pada orang dewasa yang mengantar, periksa orang dewasanya. Carl belum bilang apa-apa.'
Luca menatap ujung koridor. 'Kau sudah memihaknya.'
Kalimat itu membuatku terdiam. Inilah bagian yang tidak pernah kupikirkan cukup jauh ketika menyusun rencana di dalam kamar. Aku ingin bersikap baik kepada Carl, tetapi kakak-kakakku bisa menganggap kebaikan itu sebagai alasan baru untuk membencinya.
Aku mendekat kepada Luca dan memegang ujung lengan bajunya.
'Qiya tetap sayang Kak Luca. Itu tidak berarti Carl harus dibuat takut.'
Luca tidak membalas pelukanku secepat biasanya. Ia menatapku lama, lalu menurunkan lengannya. Aku tidak tahu apakah ia setuju. Aku hanya senang ia tidak langsung menuduh tamu kecil itu telah mengambil sesuatu darinya.
Siang harinya, perjamuan berlangsung lebih tenang. Para utusan membicarakan jadwal kunjungan dengan Linn. Carl duduk di kursi yang terlalu tinggi untuk kakinya. Sebelum menyentuh sendok, ia menekan perutnya sebentar, lalu menunggu pendampingnya mengangguk. Ketika orang itu menoleh, tangan Carl sudah kembali di atas meja.
Dego duduk di seberangnya. Ia mulai menanyakan buah yang dibawa rombongan Terium.
'Blum,' jawab Carl pelan.
'Yang ungu itu?'
Carl mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak datang, wajahnya berubah lebih hidup. Ia berkata adiknya menyukai buah itu. Bukan cerita panjang, hanya beberapa kata yang hampir tenggelam oleh percakapan orang dewasa.
Namun, aku mendengarnya.
Nero.
Aku memandang tangan Carl yang muncul dari balik lengan bajunya ketika ia mengambil cangkir. Ada noda keunguan di dekat pergelangan, sebagian tersembunyi oleh kain. Aku tidak mendekat untuk menyentuh atau menyuruhnya menggulung lengan di depan semua orang.
Ingatan tentang buah blum dan luka palsu datang bersamaan dengan bagian lain yang jauh lebih buruk. Dalam Mask, selir tidak hanya mengunci Carl. Ia menaruh racun dalam makanan sedikit demi sedikit, sampai tubuh anak itu mulai merasakan akibatnya bertahun-tahun kemudian.
Aku menelan ludah. Noda ungu mungkin bisa dibersihkan. Apa yang sudah masuk ke tubuhnya belum tentu terlihat oleh siapa pun di meja ini.
Ketika perjamuan selesai, Dego menawarkan berjalan-jalan di taman. Pendamping Carl tampak ragu, lalu melihat pengawal yang berdiri di sepanjang koridor. Carl menerima tawaran itu tanpa membawa cangkir atau piringnya.
Aku meminta izin ikut bersama Hana. Sebelum keluar, aku mendekati Niel dan menyentuh tangannya.
'Kak Niel, tamu yang habis perjalanan jauh biasanya diperiksa kesehatannya?'
'Kalau mereka mengeluh sakit.'
'Kalau belum tahu bahwa dia sakit?'
Niel menatapku lebih teliti. Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah membaca masa depan anak itu. Aku hanya menceritakan bagaimana Carl memegang perutnya sesaat sebelum makan, dan meminta agar pemeriksaan ditawarkan tanpa mempermalukannya.
Niel melihat ke arah taman. Dego sudah mulai bercerita tentang kolam, sementara Carl berjalan setengah langkah di belakangnya.
'Kakak akan bicara dengan tabib dan pendampingnya,' katanya.
Aku mengangguk. Carl baru tiba hari ini. Aku belum menyelamatkan siapa pun. Tetapi kali ini, seorang anak yang datang ke Peranto tidak harus menanggung seluruh ketakutan itu sendirian.