Ayah tidak langsung membaca suratku.
Ia melihat nama kakek Hannes pada amplop yang masih terbuka, lalu menatapku. Lily berdiri di dekat pintu. Setelah aku duduk, ia meminta izin menunggu di luar, meninggalkan kami berdua di ruang kerja yang mendadak terasa terlalu besar.
'Qiya ingin mengirim ini?'
Aku mengangguk. 'Tapi Qiya ingin Ayah melihat dulu.'
Ayah mengeluarkan kertasnya. Aku mengamati wajahnya ketika matanya sampai pada pertanyaan tentang ibu. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat kemarahan muncul lebih dahulu. Tangannya justru berhenti bergerak.
Aku menunggu sampai ia selesai membaca.
'Kakek belum melupakan pertanyaan Qiya,' katanya pelan. 'Ayah yang memintanya menunggu.'
'Sampai kapan?'
Ia tidak menjawab. Aku meremas ujung gaunku dan berusaha menjelaskan tanpa menangis.
'Qiya tahu Ibu sudah meninggal. Qiya juga ingat Ayah bilang Ibu menyelamatkan Qiya. Tapi semua orang berhenti sebelum mengatakan apa yang terjadi. Kalau ada orang yang membuat Ibu meninggal, Qiya ingin tahu. Kalau belum bisa tahu semuanya, bilang bagian mana yang belum boleh.'
Ayah melipat surat itu kembali, tetapi tidak memasukkannya ke dalam amplop. Ia menarik kursiku lebih dekat, lalu duduk sehingga kami tidak harus saling menengadah dan menunduk.
'Gorath,' katanya.
Nama itu terdengar asing. Bukan nama salah seorang duke yang kupelajari, bukan pula keluarga bangsawan yang pernah kulihat di pesta.
'Dia seorang bangsawan?'
'Pemimpin pasukan iblis yang menyerang rombongan ibumu sebelum kau lahir.'
Aku menahan napas. Dalam Mask, perang melawan iblis baru menjadi bagian besar ketika Carl berusia tujuh belas tahun. Namun, cerita itu tidak pernah mengatakan bahwa seluruh tahun sebelumnya bebas dari serangan. Aku hanya tidak membaca kehidupan Rein dari sudut pandangnya sendiri.
Ayah menatap surat di antara kami. 'Ibumu sedang kembali dari Hannes. Pengawalnya diserang di perbatasan wilayah. Ada yang memberi penyerang informasi tentang rombongan dan waktu keberangkatannya.'
'Siapa?'
'Itu yang belum berhasil kami pastikan.'
Kali ini ia tidak menutup pertanyaanku dengan larangan. Ia menjelaskan bahwa beberapa penyerang tertangkap, tetapi tidak mengetahui siapa yang memberikan jadwal. Kesaksian mereka mengarah kepada Gorath. Sebagian dokumen dirampas ketika pasukan kekaisaran mengejar sisa penyerang; sebagian lain hancur bersama tempat persembunyiannya.
'Gorath sudah mati?'
'Pasukannya dipukul mundur. Tempatnya menyeberang disegel. Tidak ditemukan jasadnya.'
Aku mengangguk perlahan, mencoba menyimpan perbedaan itu. Tidak ditemukan bukan berarti hidup. Tidak ditemukan juga bukan bukti bahwa ia telah mati.
'Ibu terluka?'
Ayah memejamkan mata sebentar. Ketika ia kembali bicara, suaranya lebih rendah.
'Ya. Ia berhasil dibawa pulang, tetapi lukanya tidak pulih seperti yang kami harapkan. Kakek dan nenekmu tinggal di istana. Semua orang berusaha menyelamatkan kalian.'
Aku menatap kedua tanganku. Tiba-tiba gelang, pesta, dan ribuan pakaian yang diberikan kepadaku terasa seperti benda-benda dari ruangan lain. Di ruangan ini hanya ada seorang lelaki yang kehilangan istrinya dan seorang anak yang tidak pernah sempat mengenalnya.
'Lalu Qiya lahir.'
Ayah mengangguk.
'Dan Ibu meninggal karena Qiya?'
'Tidak.'
Ia menjawab tanpa jeda, dengan ketegasan yang membuatku mengangkat kepala.
'Ibumu diserang. Orang yang menyerang dan membantu mereka bertanggung jawab atas itu. Bukan bayi yang ia kandung.'
Mataku mulai panas. Aku mengingat caranya selalu berkata bahwa ibu menyelamatkanku. Dulu aku mengira itu hanya bagian menyedihkan dari sebuah kisah kelahiran. Sekarang ada jalan, rombongan, orang-orang yang terluka, dan seseorang yang membocorkan jadwal.
Terlalu banyak tempat kosong yang selama ini kuisi dengan dugaan sendiri.
'Ayah tidak ingin Qiya merasa harus menggantikan Rein,' lanjutnya. 'Tidak dengan kekuatanmu. Tidak dengan menjadi anak yang selalu bahagia.'
Aku menggeleng, lalu menangis juga. Ayah menarikku ke dalam pelukannya. Tidak ada janji bahwa ibu akan kembali, tidak ada penyihir yang diam-diam bisa membatalkan kematian. Ia hanya mengusap punggungku sampai aku sanggup bicara lagi.
'Qiya mau dengar tentang Ibu waktu dia senang juga.'
Pelukan itu mengendur sedikit. Ayah memandang wajahku, lalu sudut bibirnya bergerak dengan susah payah.
'Ia tidak suka ketika Ayah menyuruh semua orang meninggalkan taman hanya karena ia ingin berjalan.'
'Qiya juga tidak suka.'
'Ayah tahu.'
Aku tertawa pendek di antara sisa tangis. Untuk sesaat, ibu bukan hanya nama di bawah sebuah lukisan. Ia menjadi seseorang yang mungkin akan mengeluh ketika suaminya mengusir seluruh penghuni taman demi memberinya ruang.
Kami memutuskan mengirim surat itu tanpa menghapus pertanyaanku. Ayah menambahkan pesannya sendiri untuk Duke dan Duchess Hannes, meminta mereka datang ketika siap. Bukan untuk mengulang pemeriksaan serangan di depanku, melainkan membawa cerita tentang putri mereka.
Sebelum aku meninggalkan ruang kerja, ayah memanggil Linn. Aku tetap duduk ketika ia menyerahkan salinan lama laporan pengawalan untuk diperiksa kembali. Aku tidak diperlihatkan rincian luka atau nama-nama orang yang mati di jalan. Namun, aku mendengar perintahnya dengan jelas: cari bagian yang belum terjawab, tanpa menuduh seseorang hanya karena berasal dari wilayah tertentu.
Linn melihatku, lalu menunduk kepada ayah.
Ia menjelaskan bahwa arsip Hannes mungkin menyimpan salinan pengiriman yang tidak tercantum dalam berkas istana. Ayah meminta kakek membawanya ketika berkunjung, untuk diserahkan langsung kepada Linn. Aku tidak ikut memeriksa nama-nama di dalamnya. Menanyakan apa yang terjadi pada ibu tidak membuatku sanggup menentukan siapa yang bersalah hanya dari satu lembar kertas.
Di luar, Lily mengulurkan saputangan bersih. Ia tidak bertanya mengapa mataku sembap. Ia hanya mengajakku makan sesuatu sebelum susu hangatku kembali dingin.
Aku menggenggam tangannya. Di ujung koridor, kelima kakakku menunggu dengan berbagai alasan yang sama sekali tidak meyakinkan. Dego mengaku ingin melihat lukisan. Luca tidak membawa apa pun, padahal katanya sedang mengantar dokumen.
Mith tidak memberi alasan. Ia hanya bergeser agar aku bisa duduk di bangku dekat jendela.
Aku duduk di antara mereka dan menyebut nama ibu. Tidak ada yang menyuruhku diam.
Hari itu, Gorath berhenti menjadi potongan kata yang membuatku bertanya-tanya. Namun, yang paling ingin kuingat justru bukan namanya. Aku ingin mengingat bahwa Rein pernah hidup, memilih, tertawa, dan dicintai sebelum seseorang menjadikan kematiannya sebuah rahasia.