Gambar kuda Juno ternyata berwarna hijau.
Aku memandangnya lama, mencoba menentukan apakah warna itu disengaja. Juno menyentuh ujung papan dan menjelaskan bahwa kapur coklat miliknya sudah habis.
'Tapi kudanya tetap bisa berlari,' katanya.
'Tentu. Qiya cuma belum pernah melihat kuda hijau.'
'Sekarang sudah.'
Aku tertawa. Hana ikut melihat gambar itu, sementara Grin menghabiskan roti terakhir di meja sarapan. Nove memintanya menyisakan ruang untuk mengingat tugas berjaga. Grin menjawab bahwa ia justru tidak bisa berjaga dengan baik kalau lapar.
Aku membayangkan Mith mendengar alasan itu. Ia pasti akan menggunakannya ketika ingin mengambil kue kedua.
Sesudah sarapan, Rema datang bersama ahli tanah. Mereka telah memeriksa bagian di bawah batu yang kutunjuk kemarin. Ada celah kecil tempat air merembes, tetapi jalurnya tertutup akar mati dan endapan.
'Bisa dibuka dari sisi bawah tanpa mendekati lereng,' jelasnya. 'Kami memasang penahan lebih dahulu. Setelah itu, pekerja akan mengangkat sumbatan sedikit demi sedikit.'
'Pohonnya tidak ikut tumbang?'
'Akar yang masih hidup tidak dipotong. Tetapi jalan menuju Pohon Rindu tetap ditutup sampai pemeriksaan lain selesai.'
Aku menerima jawaban itu. Semalam aku berharap bisa duduk di bawah pohon tersebut bersama Juno. Namun, berharap tidak membuat lereng mendadak kuat.
Kami hanya diizinkan melihat dari batas yang dipasang pengawal. Para pekerja datang dengan alat yang disediakan duke. Tidak ada seorang pun yang diminta masuk ke saluran karena seorang putri sedang menunggu hasilnya.
Rema menyebut nama tiap orang pada daftar pekerjaan, lalu mencatat bahan yang dipakai. Ketika seorang lelaki mengeluh penahannya terlalu pendek, pekerjaan dihentikan sampai batang pengganti dibawa.
Aku sempat tidak sabar. Air itu terlihat begitu dekat. Dengan sulur tanaman, barangkali aku bisa menarik sumbatan tanpa menunggu.
Poppy menyentuh leherku dengan ujung sayapnya yang tersembunyi.
Kau tidak tahu apa yang akan ikut tertarik, bisiknya di dalam pikiranku.
Aku melipat tangan di depan perut. Benar. Mampu memanggil tanaman tidak berarti aku tahu bagaimana tanah akan bergeser bila akarnya bergerak.
Menjelang siang, aliran tipis akhirnya keluar dari bawah batu. Air itu tidak bening. Endapan kelabu masih ikut terbawa, dan ahli segera membatasi tempatnya mengalir ke petak percobaan yang sudah mereka pilih.
Juno hendak maju. Guru yang berdiri di dekatnya memegang bahunya dengan lembut.
'Lihat dari sini dulu.'
'Sudah kembali,' bisik Juno.
Aku tahu ia sedang melihat lebih dari sebuah parit kecil. Mungkin ia membayangkan kebun keluarganya yang belum bisa ditanami lagi. Tetapi ahli tidak membiarkan harapan kami berubah menjadi kesimpulan yang terburu-buru.
'Ini baru aliran pertama,' katanya kepada Rema. 'Jangan dipakai untuk minum. Kita tetap menggunakan sumur untuk kebutuhan itu. Saya perlu memeriksa endapan dan keadaan saluran setelah air mengalir lebih lama.'
Rema mengulangi penjelasan tersebut kepada warga yang baru datang. Tidak semua tersenyum. Seorang ibu bertanya berapa lama ia harus menunggu sebelum bisa menanam. Ahli menjawab bahwa ia belum bisa memberi tanggal.
Aku ingin membuatnya senang. Keinginan itu begitu kuat sampai tanganku hampir terangkat. Lalu aku teringat hamparan hijau di Henzo dan ratusan tatapan yang mengikuti setelahnya.
Kebahagiaanku pernah memulihkan tanah. Kejadian itu nyata. Tetapi menjadikan setiap kesedihan orang lain sebagai perintah agar aku bahagia hanya akan membuatku berbohong kepada mereka dan diriku sendiri.
Aku menghampiri Rema setelah kerumunan berkurang.
'Apa yang paling dibutuhkan sekarang?'
Ia melihat daftar di tangannya. 'Alat untuk melanjutkan pekerjaan. Bantuan bagi keluarga yang hasil ladangnya habis. Dan orang yang memeriksa tempat ini lagi sesudah hujan, supaya kami tidak salah mengira salurannya sudah kuat.'
Tidak ada permintaan agar aku bersimpuh di tanah.
Aku meminta Grin membantu menyalin daftar itu. Besok aku akan membawanya pulang dan meminta ayah membacanya bersama laporan ahli. Aku tidak menjanjikan jumlah bantuan, karena koin dalam tas kecilku bukan seluruh jawaban bagi sebuah desa.
Sore harinya, Juno memberikan gambar kuda hijau itu kepadaku. Aku menerimanya dengan kedua tangan, lalu meminta Hana mengingatkanku membeli kapur warna sebelum kami kembali ke istana.
'Untuk menggambar,' jelasku kepada Juno. 'Bukan supaya semua kudamu harus coklat.'
Ia tersenyum lebar. Aku menyukai kuda hijaunya dan tidak ingin hadiahku membuatnya merasa telah melakukan kesalahan.
Kami pulang keesokan pagi sesuai jadwal. Sebelum kereta bergerak, Rema menyerahkan salinan catatan dan melambaikan tangan dari depan balai. Jalan ke Pohon Rindu masih ditutup. Saluran kecil sudah mengalir, tetapi ladang belum pulih. Aku membawa kabar baik yang terbatas, bukan cerita tentang sebuah desa yang sembuh seluruhnya.
Ayah menunggu di gerbang ketika kami tiba sore itu. Ia memeriksa wajah, tangan, dan sepatuku sebelum mengizinkan Linn mengambil laporan dari Nove. Aku membiarkannya menggendongku, walaupun para pelayan sedang melihat.
'Qiya pulang,' kataku di dekat telinganya.
Pelukannya mengencang sebentar. 'Ayah bisa melihat.'
Mith mendekat setelah ayah menurunkanku. Aku menyerahkan daftar Rema kepadanya dan menunjuk bagian tentang bantuan keluarga.
'Baca bersama Ayah dan Tuan Linn, ya. Qiya sudah bilang belum tahu jumlahnya.'
Mith mengangguk. 'Kakak akan membawanya ke pertemuan besok.'
Luca datang bersama Ash. Panther hitam itu menundukkan kepalanya agar aku bisa menyentuh dahinya. Tidak ada luka baru pada tubuhnya, dan gelang di ekornya masih utuh. Aku memeluknya sambil bercerita tentang kuda hijau Juno.
Malamnya, sebelum tidur, aku mengeluarkan dua benda dari tas. Gambar kuda kusimpan di meja. Salinan daftar Rema kuletakkan di samping surat yang belum kukirim kepada kakek Hannes.
Pada surat itu aku menulis pertanyaan yang sudah lama kutahan: waktu itu Kakek hendak mengatakan Gor apa?
Aku belum menutup amplopnya. Besok aku akan meminta Lily mengantarku menemui ayah, lalu menunjukkan surat itu kepadanya. Menanyakan kebenaran tentang ibu tidak harus dimulai dengan menyembunyikan pertanyaan dari keluarga yang sama-sama kehilangan dirinya.
Aku tidak ingin lagi membiarkan orang dewasa memutuskan bahwa kehilangan ibuku terlalu sulit untuk kubicarakan. Aku mungkin belum bisa menerima semua jawabannya sekaligus. Tetapi aku ingin mulai mendengarnya, sedikit demi sedikit, dari orang-orang yang benar-benar mengenal Rein.