Laporan pertama tiba tiga hari setelah para ahli meninggalkan istana. Mereka sudah bertemu Rema dan memeriksa jalan masuk desa. Jembatan kecil menuju balai masih dapat dilalui, tetapi jalur di dekat lereng harus ditutup. Tidak ada alasan untuk membawa rombongan melewati tempat longsor.
Ayah membaca laporan itu dua kali. Kemudian ia menyuruh Linn membaca ulang bagian tentang pengawalan.
Aku menunggu di kursi tanpa menyela. Hana duduk di sampingku. Kami sudah berjanji tidak akan menyiapkan tas sebelum keputusan diberikan, walaupun aku diam-diam telah memilih sepatu yang ingin kupakai.
'Dua malam,' kata ayah akhirnya. 'Tidak ada perubahan rute tanpa laporan. Tidak mendekati lereng. Dan kalau ada orang meminta Qiya menunjukkan spirit stone, rombongan langsung kembali.'
Aku mengangguk begitu cepat sampai pita rambutku bergoyang.
Ayah tampak hendak menambahkan sepuluh syarat lagi. Mith menyerahkan daftar yang sudah ia susun bersama Linn. Di sana ada nama Nove, Grin, pengawal pendamping, dan tempat yang diperiksa untuk kami menginap.
Mith sendiri tidak ikut. Ia harus menghadiri pelajaran dan rapat pertamanya setelah debut. Luca juga tinggal di ibu kota bersama Ash. Tidak semua anggota keluarga harus meninggalkan tugasnya hanya karena aku pergi selama dua malam.
Meski begitu, wajah kelima kakakku ketika melepas rombongan membuatku nyaris merasa sedang melakukan pengkhianatan.
'Qiya pulang lusa,' kataku untuk ketiga kalinya.
Dego mengulurkan kantong berisi roti. Niel memeriksa liontin biru di leherku, memastikan pemberiannya masih terpasang. Kiel meminta Grin menutup jendela kereta bila angin terlalu dingin. Luca hanya menepuk kepala Ash sambil menatap Nove.
'Jaga adikku.'
'Dengan nyawa saya, Yang Mulia.'
'Dengan tubuh tetap utuh,' aku menyela. 'Qiya tidak mau ada yang pulang terluka.'
Nove terdiam sebentar, lalu menunduk sekali lagi.
Kereta akhirnya bergerak. Aku melambaikan tangan sampai gerbang menutupi pandangan. Poppy tetap menjadi bros di kerahku. Tidak ada burung bersayap pelangi yang terbang di atas rombongan, dan tidak ada orang di jalan yang diberi tahu jenis spiritku yang sebenarnya.
Perjalanan membuat pinggangku pegal. Ingatan seorang gadis delapan belas tahun tidak menjadikan tubuh anak empat tahun tahan duduk seharian. Aku tertidur sebelum makan siang dan terbangun dengan pipi menempel pada lipatan mantel Hana.
'Sudah sampai?'
'Belum,' jawabnya. 'Baru berhenti untuk makan.'
Aku memutuskan tidak akan menceritakan bagian ini kepada Mith. Ia sudah memiliki terlalu banyak bukti bahwa aku bisa tertidur di mana saja.
Menjelang sore, tanah di luar jendela berubah kelabu. Tidak semua tempat tandus. Ada kebun yang masih hijau di sekitar sumur dan rumpun pohon yang bertahan di bawah bukit. Namun, di beberapa petak, batang tanaman mengering sementara saluran kecil di sebelahnya dipenuhi lumpur pucat.
Rema menunggu di dekat balai. Ia seorang perempuan dewasa dengan ujung lengan baju digulung. Sebelum memberi salam, ia menyerahkan catatan pekerjaan kepada seorang lelaki yang berdiri di sampingnya.
Aku menyukai bahwa ia menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Kedatanganku seharusnya tidak membuat semua pekerjaan desa berhenti.
'Terima kasih sudah datang, Tuan Putri.'
'Qiya ingin melihat tempat yang sudah diperiksa,' kataku. 'Kalau ada bagian yang belum boleh didatangi, bilang saja.'
Rema tersenyum, tampak lebih lega daripada ketika pertama kali melihat kereta kami. Ia mengantar kami ke balai, tempat ketiga ahli sudah menunggu dengan gambar saluran di atas meja.
Mereka menjelaskan perbedaannya satu per satu. Sumur di dekat rumah warga masih menjadi tempat mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Saluran yang tertutup biasanya membawa air ke ladang. Kini alirannya kecil dan penuh endapan, sehingga tidak boleh dianggap sama dengan air sumur.
Aku menunjuk garis di peta. 'Kalau lumpurnya diangkat, airnya langsung kembali?'
'Mungkin sebagian,' jawab ahli tanah. 'Tetapi kami harus memastikan dinding saluran tidak ikut runtuh. Bagian di bawah lereng belum boleh dibuka.'
Aku menurunkan tangan. Peta itu terlihat sederhana, tetapi tanah di luar tidak akan patuh hanya karena aku menarik satu garis.
Rema lalu mengajak kami melihat bagian saluran yang aman. Nove berjalan lebih dahulu, sementara Grin tetap di dekatku. Hana memegang tanganku ketika kami melewati batu yang licin.
Di sana seorang anak berdiri sambil membawa papan gambar. Ia mundur ketika melihat pengawal, lalu hampir menjatuhkan papan tersebut.
'Itu Juno,' kata Rema. 'Ia membantu gurunya mencatat petak yang masih ditanami. Bukan bekerja di saluran.'
Aku memperkenalkan diri. Juno menatap pita di rambutku, lalu melihat sepatuku yang sudah terkena lumpur.
'Sepatu putri juga bisa kotor?'
Grin mengeluarkan bunyi aneh di belakangku. Aku memutuskan mengabaikannya.
'Ternyata bisa,' jawabku. 'Qiya juga baru memastikannya hari ini.'
Juno tertawa. Ia menunjukkan gambarnya: rumah, sumur, ladang, dan sebuah pohon besar di ujung jalan yang diberi tanda silang.
'Pohon Rindu,' katanya. 'Kami dulu berteduh di sana. Sekarang jalannya ditutup.'
Aku menatap ke arah yang ditunjuknya. Sebagian lereng di bawah pohon itu tergerus. Daunnya jarang, tetapi cabang tertingginya masih bergerak tertiup angin.
Suara lemah menyentuh pendengaranku.
Airnya lewat di bawah batu. Terlalu sempit.
Aku hampir menoleh kepada Poppy. Bros itu menghangat di kerahku, mengingatkan agar aku tidak memberi jawaban seolah telah melihat semuanya sendiri. Pepohonan bisa memberitahuku apa yang mereka rasakan, tetapi suara itu bukan ukuran kedalaman tanah atau kekuatan sebuah penahan.
'Bagian bawah batu itu sudah diperiksa?' tanyaku kepada ahli, menunjuk tempat yang tidak perlu kami dekati.
Ia melihat peta, lalu menggeleng. 'Besok akan kami periksa dari sisi yang aman.'
Aku mengangguk. Aku tidak menyentuh tanah, tidak memanggil akar untuk mengangkat lereng, dan tidak menyuruh orang menggali malam itu juga. Untuk membantu pohon yang masih hidup, aku tidak perlu membahayakan orang-orang di bawahnya.
Saat kami kembali ke balai, Juno berjalan beberapa langkah di sampingku. Ia tidak meminta tanah menjadi hijau. Ia hanya bertanya apakah besok aku mau melihat gambar kudanya.
'Kalau setelah sarapan, boleh,' kataku.
Juno tersenyum. Di desa yang sejak tadi penuh kekhawatiran, akhirnya aku mendapat undangan yang bisa kujawab tanpa takut menjanjikan sesuatu yang belum kupahami.