Pagi setelah debut Mith, aku menemukan ayah dan Linn di ruang makan kecil. Biasanya ayah sudah mengulurkan kedua tangan sebelum aku melewati pintu. Kali ini ia memegang selembar kertas, dan udara di sekeliling kursinya cukup dingin untuk membuatku merapatkan mantel.
Aku berhenti. Nove ikut berhenti di belakangku.
'Qiya datang,' kata Linn pelan.
Es di tepi cangkir ayah perlahan mencair. Ia meletakkan kertas itu, lalu mengangkatku ke kursi di sampingnya.
'Ada orang nakal lagi?'
'Orang yang mendekat kemarin,' jawabnya.
Aku teringat tatapan tamu di aula. 'Dia mau mengambil spirit stone Qiya?'
Linn tidak langsung menjawab. Ia berlutut agar tidak perlu menunduk terlalu jauh ketika bicara kepadaku.
'Dia mengaku ingin meminta Anda memulihkan perkebunan keluarganya. Tidak ditemukan senjata. Tetapi ia melewati batas penjagaan dan mengikuti rombongan Duke Henzo tanpa izin duke tersebut. Karena itu, undangan dan keterangannya sedang diperiksa.'
'Jadi belum tahu semuanya?'
'Belum, Tuan Putri.'
Ayah mendengus. Ia tampaknya menginginkan jawaban yang lebih singkat, dan mungkin lebih dingin daripada udara di ruang ini. Aku menyentuh gelang pada pergelangan tangannya.
'Kalau belum tahu, jangan bilang dia pasti ingin membunuh Qiya.'
Pandangan ayah beralih kepadaku. Aku menahan keinginan untuk bersembunyi di bawah meja. Meminta kaisar yang terbiasa memberi perintah agar menunggu ternyata lebih menakutkan daripada menghadiri upacara panjang.
'Menunggu pemeriksaan bukan berarti membiarkannya mendekat lagi,' ujar Linn.
Ayah mengetukkan jarinya sekali. 'Tahanan tetap dijaga. Semua keterangannya diberikan kepadaku sebelum tengah hari.'
Linn menunduk. Aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Belum tentu keputusan akhirnya akan seperti yang kuinginkan. Setidaknya, seseorang masih punya kesempatan menjelaskan apa yang sebenarnya ia lakukan.
Mith datang ketika sarapan hampir selesai. Ia masih memakai gelang merah itu, tetapi pakaian upacaranya sudah berganti dengan kemeja sederhana. Di tangannya ada surat lain, bersegel Duke Tsani.
Aku langsung mengingat hamparan tanah tandus tempatku pernah duduk bersimpuh. Tidak ada rumput yang tumbuh waktu itu karena aku sengaja memikirkan hal-hal menyedihkan. Orang-orang pulang dengan kecewa, sedangkan keluargaku harus menghadapi kecurigaan mereka.
'Mereka ingin Qiya berdoa lagi?'
Ayah meraih surat dari tangan Mith. Ekspresinya saja sudah menjawab bagaimana perasaannya terhadap kemungkinan tersebut.
'Bukan,' kata Mith sebelum ayah selesai membuka lipatannya. 'Ada desa yang saluran airnya tertutup setelah tanah di lereng longsor. Duke meminta bantuan orang yang bisa memeriksa tanah dan sumur. Ia juga menyampaikan undangan dari perwakilan warga, tetapi tidak mensyaratkan Qiya datang.'
Aku menoleh. 'Kenapa mengundang Qiya?'
'Mereka mendengar tentang perjalanan kita sebelumnya. Seorang warga ingin menjelaskan bahwa tempat tinggalnya bukan tanah upacara yang pernah kita datangi.'
Ayah membaca sampai akhir. 'Mereka bisa datang ke ibu kota.'
'Tidak semua bisa meninggalkan keluarganya,' jawab Mith.
Aku melihat kedua orang itu bergantian. Mith tidak membantah keras. Ia juga tidak segera menarik kembali ucapannya. Barangkali ini salah satu tugas belajar yang dimaksud ayah semalam: mengucapkan sesuatu yang belum tentu disukai orang yang duduk di hadapannya.
'Qiya boleh mendengar penjelasannya dulu?'
Ayah memandangku lama. Lalu ia memberikan surat itu kepada Mith dan menyuruhnya membaca bagian yang ditulis warga.
Nama pengirimnya Rema. Ia menjelaskan bahwa beberapa keluarga masih memiliki air dari sumur, tetapi ladang mereka mengering karena aliran ke petak-petak kecil terputus. Air yang keluar dari saluran lama membawa endapan abu. Mereka tidak meminta putri kekaisaran mengubah seluruh tanah. Mereka meminta orang yang tahu apakah saluran itu masih bisa dipakai.
Rema menambahkan satu kalimat pada akhir surat: jika kunjungan membuat keadaan lebih sulit, bantuan ahli saja sudah cukup.
Aku memikirkan kalimat itu bahkan setelah Mith berhenti membaca.
Selama ini, orang-orang ingin melihat apa yang bisa dikeluarkan dari tubuhku. Mereka mencari letak spirit stone, menyuruhku berdoa, atau menganggap kebahagiaanku bisa dipinjam untuk menumbuhkan seluruh kekaisaran. Rema justru memberiku kesempatan untuk tidak datang.
'Kirim ahlinya dulu,' kataku.
Mith mengangguk. Ayah terlihat lebih puas, sampai aku melanjutkan ucapanku.
'Kalau tempatnya bisa dikunjungi, Qiya ingin melihat. Bukan untuk pertunjukan.'
'Tidak.'
Jawaban ayah datang begitu cepat sampai Grin yang baru masuk langsung berhenti di ambang pintu.
Aku tidak merajuk. Aku masih ingat anak panah di hutan dan tubuh Ash yang menahannya. Memaksa semua orang berpura-pura tidak takut juga tidak akan membantu.
'Kalau ahli bilang belum aman, Qiya tidak pergi. Kalau aman, Nove dan Grin ikut. Hana boleh ikut kalau dia mau. Poppy tetap tersembunyi.'
Kalimat terakhir kusampaikan lebih pelan. Poppy sedang menjadi bros kecil di dekat kerah bajuku. Ia menyentuh kulitku dengan ujung sayap yang tak terlihat orang lain, mengingatkanku agar tidak melupakan siapa yang boleh mengetahui wujud aslinya.
Ayah belum mengiyakan. Ia menyuruh Mith menyerahkan rute, nama pengawal, dan laporan tempat menginap sebelum bicara lagi. Aku menerima syarat itu. Hari ini aku tidak akan berangkat diam-diam dengan alasan menyelamatkan cerita.
Siang harinya, tiga ahli berangkat lebih dahulu. Seorang memahami tanah dan aliran air, seorang memeriksa sumur, dan seorang lagi membawa perlengkapan untuk menilai kerusakan saluran. Nama mereka dicatat Linn bersama para pengawal yang mengantar.
Aku menyaksikan keberangkatan dari beranda. Hana berdiri di sampingku, memegang gelang yang kuberikan kepadanya.
'Kau ingin ikut?' tanyaku.
'Kalau tempatnya aman, aku ingin melihat. Tapi aku tidak tahu cara memperbaiki saluran.'
'Aku juga tidak.'
Hana menatapku, lalu kami tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak kabar tanah Henzo tersebar, mengakui ketidaktahuan terasa tidak memalukan.
Aku memastikan Hana tahu ia boleh berubah pikiran sebelum berangkat. Ia datang ke istana sebagai temanku, bukan pelayan yang wajib mengikuti setiap keinginanku. Hana menjawab dengan mantap bahwa ia memang ingin ikut, lalu meminta melihat laporan perjalanan bersamaku.
Di bawah pohon, Ash mengangkat kepala. Gelang hitam di ekornya berbunyi pelan. Aku menghampirinya dan memeluk leher besarnya, berjanji tidak akan pergi tanpa pamit.
Aku ingin membantu Rema. Namun, sebelum itu, aku harus memastikan bahwa keinginanku tidak membuat orang lain kembali terluka.