Pagi datang sebelum aku siap menghadapinya.
Pelayan membangunkanku saat langit masih berwarna biru gelap. Mereka membantuku mandi, memakaikan gaun krem, lalu menyisir rambutku sampai setiap helainya patuh. Aku duduk diam sambil memeluk bantal. Kalau aku tidak bergerak, mungkin mereka akan mengira aku masih tidur dan membiarkanku kembali ke kasur.
Sayangnya, Hana tahu akal-akalan itu.
'Qiya, buka matamu.'
'Aku sedang membuka mata dari dalam.'
'Itu tidak masuk akal.'
'Aku juga berpikir begitu.'
Hana tertawa kecil. Ia memasang pita merah di rambutku. Aku lalu memeriksa kotak kecil di pangkuanku. Surat yang kutulis semalam masih tersimpan di dalamnya. Gelang merah Mith tetap berada pada pemiliknya; aku tidak memintanya kembali hanya untuk acara hari ini.
Kami menuju aula utama bersama Nove dan Grin. Di koridor, para pelayan menunduk dan para ksatria memberi hormat. Semua orang tampak lebih serius daripada biasanya. Bahkan Grin tidak melontarkan candaan. Itu membuatku sedikit cemas. Jika Grin diam, mungkin sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Atau mungkin dia hanya sedang lapar.
Aula dipenuhi bangsawan dan pejabat. Barisan kursi tersusun rapi. Kaisar duduk di tempat utama, sementara para pangeran berdiri di dekatnya. Mith mengenakan pakaian merah gelap yang kulihat kemarin. Rambutnya tertata rapi, dan pedang seremonial tergantung di pinggangnya.
Ia tampak berbeda. Bukan seperti kakak yang biasa mengangkatku atau mendengarkan ocehanku. Hari ini, semua mata tertuju padanya sebagai calon kaisar.
Aku berdiri di sisi Hana. Poppy bersembunyi di lipatan jubahku. Ia berjanji tidak akan membuat suara, walau aku tidak terlalu percaya. Burung kecil itu punya bakat luar biasa untuk muncul pada saat yang paling tidak tepat.
Upacara dimulai dengan doa dan pembacaan silsilah. Aku berusaha mendengarkan. Sungguh, aku berusaha. Tetapi setelah nama leluhur yang panjangnya seperti daftar belanja dibacakan, pikiranku mulai melayang. Aku membayangkan seekor naga kecil memakai mahkota dan menunggu giliran disebut.
Hana menyentuh tanganku. Aku kembali fokus.
Mith maju ke tengah aula. Kaisar berdiri di hadapannya. Sebilah pedang diserahkan kepada Mith, lalu kaisar meletakkan tangan di bahunya.
'Hari ini kau menyatakan kesediaanmu memikul tanggung jawab keluarga dan kekaisaran,' ucap kaisar. Suaranya tenang, tetapi terdengar ke seluruh ruangan. 'Kau akan menjaga rakyat dan melindungi mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.'
Mith menggenggam pedang itu. 'Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan belajar dari kesalahan, mendengarkan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabku, dan menjaga keluarga serta rakyat kekaisaran.'
Tidak ada pidato panjang yang berlebihan. Aku suka bagian itu.
Para hadirin bertepuk tangan. Para pangeran maju bergantian untuk memberi ucapan. Luca menepuk bahu Mith dengan bangga. Kiel tersenyum. Niel merapikan kerah pakaian upacara Mith, sementara Dego sibuk berusaha melihat pedang yang baru diserahkan. Kiel menarik lengan Dego agar tidak menghalangi para tamu, sampai kaisar menatap mereka. Mereka langsung berdiri tegak seolah tidak melakukan apa pun.
Ketika giliranku tiba, aku melangkah ke depan sambil membawa kotak kecil. Jantungku berdetak sangat cepat. Semua orang melihatku. Biasanya aku suka diperhatikan. Kali ini, rasanya seperti berdiri di atas meja makan yang tinggi.
'Kak Mith,' kataku. 'Selamat atas upacaranya.'
'Terima kasih, Qiya.'
Aku membuka kotak itu dan menyerahkan suratku. Mith menatap gambar bintang yang sedikit miring pada sudut kertas, lalu membacanya tanpa mengangkat suara.
'Qiya tidak membuat gelang lagi,' kataku. 'Yang merah itu sudah punya Kak Mith. Ini ucapan untuk hari ini.'
Ia melirik pergelangan tangannya. Manik mahkota yang kupilih di toko tampak di bawah manset merah gelap.
'Kakak tahu. Terima kasih.'
Dalam surat itu, aku menuliskan harapanku supaya ia menjaga keluarga dan rakyat. Tetapi baris paling bawah bukan janji seorang putri kekaisaran. Aku hanya meminta agar sesekali ia tetap datang ke taman dan makan bersamaku.
Mith melipat surat itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke saku dalam bajunya.
'Kak Mith tidak perlu menjawab di depan semua orang,' bisikku.
'Kalau begitu, nanti kita bicara di taman.'
Aku mengangguk lega. Ia tidak berjanji meninggalkan semua pekerjaannya. Ia juga tidak menganggap permintaanku tidak penting. Untuk sementara, jawaban itu cukup.
Salah satu bangsawan, Duke Henzo, maju memberi selamat setelah upacara resmi selesai. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan di wilayahnya yang kembali hijau. Aku segera merasakan banyak tatapan mengarah padaku. Bisik-bisik menjalar seperti semut di lantai.
Seorang tamu di belakang Duke Henzo melangkah maju. Pandangannya tidak berhenti pada wajahku, melainkan turun ke tangan dan dadaku, seolah bisa menemukan letak spirit stone hanya dengan menatap.
Udara di dekat kursi kaisar mendadak dingin.
'Satu langkah lagi,' ujar ayah.
Tamu itu langsung berhenti. Luca menggeser tubuhnya di depanku. Niel berdiri di sisi lain, sementara angin Kiel membuat ujung tirai bergerak. Aku mengenali tanda-tanda itu. Mereka sedang bersiap, dan aku tidak ingin aula ulang tahun Mith berubah menjadi tempat pertumpahan darah.
'Ayah,' panggilku. 'Qiya mau melihat Kak Mith menerima ucapan yang lain.'
Tatapan ayah masih tertuju pada tamu itu. Sesaat kupikir ia tidak mendengarku. Lalu Linn mendekat dan memberi isyarat kepada penjaga pintu. Tamu tersebut dibawa keluar dari barisan, tanpa diizinkan mendekat lagi.
'Nama dan undangannya diperiksa,' perintah ayah kepada Linn.
Aku belum tahu apa hasil pemeriksaannya nanti. Aku hanya tahu bahwa kali ini tidak ada pedang yang terhunus di depan tamu. Rahang ayah masih menegang ketika ia mengingatkan para hadirin bahwa hari ini adalah debut putra mahkota, bukan kesempatan menuntut pertunjukan spirit putrinya.
Duke Henzo menunduk dan mengakhiri ucapannya. Aku tidak menyangkal kejadian di tanahnya di depan semua orang, tetapi juga tidak menjelaskan tentang Poppy. Burung putih bersayap pelangi itu tetap mengecil, tersembunyi di lipatan bajuku. Di hadapan publik, spiritku masih dikenal sebagai flora.
Aku lega. Aku tidak ingin upacara Mith berubah menjadi acara meminta Qiya duduk dan membuat semua tanah menjadi taman.
Setelah para tamu mulai berpindah ke ruang perjamuan, Mith menunduk ke arahku. 'Kau bertahan sampai akhir.'
'Aku tidak tidur.'
'Benar. Itu pencapaian besar.'
'Qiya juga mendengar semuanya.'
'Termasuk bagian tentang leluhur?'
Aku berpikir sebentar. 'Qiya mendengar namanya.'
Mith mengusap kepalaku. Gelang merah di tangannya berkilau di bawah cahaya aula.
Untuk saat itu, aku merasa semuanya baik-baik saja. Upacara selesai, Mith tersenyum, dan tidak ada yang memintaku menyembuhkan benua. Aku bahkan berhasil tidak tidur.
Di taman setelah perjamuan, Mith akhirnya menepati ucapannya. Ia datang bersama keempat adik laki-lakinya, masih mengenakan pakaian upacara. Dego membawa sepiring kue yang terlalu penuh. Niel memintanya meletakkan piring sebelum semuanya jatuh.
'Ini bukan rapat putra mahkota,' kata Luca ketika melihatku duduk tegak.
'Qiya tahu.'
Kiel tersenyum. 'Kalau tahu, kenapa memegang sendok seperti pedang?'
Aku melihat tanganku sendiri, lalu buru-buru meletakkan sendok. Mith tertawa. Suaranya sama seperti kemarin, sebelum semua gelar dibacakan di aula.
Gelang merah itu tetap di pergelangan tangannya. Suratku ada di sakunya. Ketika Dego akhirnya menumpahkan remah kue di atas celananya, Mith mengeluh sambil tertawa. Aku ikut tertawa, lega karena masih mengenali kakakku di balik pakaian merah dan benang emasnya.
Hari yang sangat sukses.