Sepekan setelah pembagian gelang itu, aku menemukan Ash berjemur di taman. Ia mengangkat ekornya begitu melihatku, seolah ingin menunjukkan bahwa hadiahku masih terpasang dengan baik.
'Ash suka gelangnya!'
Aku menepuk-nepuk kepala black panther itu. Ash menggerakkan ekornya ke kanan dan kiri, membuat gelang hitam di sana berbunyi pelan. Aku tersenyum puas. Hadiahku berhasil membuatnya senang.
Tapi, kenapa semua orang menatapku seperti itu?
Hana berdiri beberapa langkah dariku dengan mata berbinar. Poppy keluar dari kantong bajuku dan hinggap di bahuku. Nove dan Grin saling berpandangan. Bahkan Ash mengangkat kepala dan memiringkannya.
'Ada apa?' tanyaku.
'Kau memberikan hadiah kepada semua orang,' kata Hana. 'Tapi kau sendiri tidak mendapat apa-apa.'
Aku berkedip. 'Qiya sudah punya banyak barang.'
'Itu bukan maksudku,' jawab Hana.
Aku tidak mengerti. Apa maksudnya aku harus membuat gelang untuk diriku sendiri? Kalau begitu, gelangnya tidak bisa jadi hadiah kejutan. Tidak seru.
Sebelum aku bisa bertanya lagi, Grin berdeham. 'Putri, sebaiknya kita kembali. Persiapan upacara Pangeran Mith akan dimulai pagi-pagi.'
Benar juga. Satu minggu telah lewat begitu cepat. Mith akan menjalani upacara debutnya pada usia dua belas tahun, sebuah acara besar yang membuat istana sibuk sejak pagi. Debut itu bukan penobatan. Ia baru akan memenuhi syarat naik takhta pada usia delapan belas tahun, dan masih harus belajar di bawah pengawasan ayah. Setiap pelayan berlari membawa kain, kotak, dan daftar panjang. Para ksatria berlatih sampai suara pedang terdengar dari halaman latihan.
Aku pernah melihat upacara semacam ini dalam ingatan kehidupan lamaku. Orang dewasa menyebutnya acara khidmat. Bagiku, itu berarti duduk lama sekali, memakai pakaian berat, dan dilarang mengantuk.
'Apa aku juga harus memakai pakaian berat?' tanyaku pada Hana.
'Sepertinya begitu.'
'Kalau Qiya jatuh tertidur di tengah upacara, apa itu dianggap tidak sopan?'
'Jangan tidur,' kata Nove.
'Jawaban yang sangat tidak membantu.'
Kami kembali ke istana dengan pengawalan. Sejak berita tentang wilayah hijau itu tersebar, jumlah pengawal di sekelilingku bertambah. Aku tidak bisa mengeluh. Aku tahu mereka khawatir. Namun, berjalan dari taman ke aula saja terasa seperti sedang memimpin pasukan perang.
Di aula, Mith berdiri di depan sebuah meja panjang. Ia sedang memeriksa susunan acara bersama para pejabat. Wajahnya serius, seperti biasa. Di dekatnya ada pakaian upacara merah gelap yang dihiasi benang emas. Pedang seremonial terletak di atas bantalan.
Mith melihatku masuk. 'Qiya, kau sudah pulang.'
Aku mengangguk sambil merapatkan tas kecil yang kini berisi kotak-kotak kosong. 'Kak Mith, gelangnya masih ada?'
Mith melirik pergelangan tangannya. Gelang merah buatanku terpasang di sana, di bawah manset bajunya. 'Tentu. Aku tidak pernah melepasnya.'
Dadaku terasa hangat. Aku hampir melompat kegirangan, tetapi para pejabat sedang memperhatikan. Jadi aku hanya mengepalkan tangan kecilku dengan penuh kemenangan.
'Besok kau harus beristirahat,' kata Mith. 'Upacara akan melelahkan.'
'Qiya tidak lelah.'
'Kau selalu bilang begitu, lalu tertidur di mana saja.'
'Itu fitnah.'
'Terakhir kali kau tidur di atas tumpukan dokumen.'
'Dokumennya empuk.'
Salah satu pejabat menunduk, menyembunyikan senyum. Mith akhirnya tertawa kecil. Suasana aula yang tegang terasa sedikit lebih ringan.
Aku memandangi pedang di atas bantalan. 'Pedang itu akan dipakai Kak Mith?'
'Ya. Hanya untuk upacara. Tidak ada pertarungan.'
'Bagus. Qiya tidak mau Kak Mith terluka.'
Mith terdiam sesaat. Kemudian ia berjongkok agar sejajar denganku. 'Aku akan berhati-hati. Dan kau juga harus berjanji tidak pergi ke mana-mana sendirian selama upacara.'
Aku menatapnya. 'Kalau Qiya ingin ke toilet?'
'Pengawal akan mengantarmu.'
'Kalau Qiya ingin makan kue?'
'Pengawal akan mengantarmu.'
'Kalau Qiya ingin menghindari pidato yang terlalu panjang?'
Mith mengangkat alis. 'Itu tidak bisa.'
Sungguh, upacara ini mulai terdengar berbahaya.
Malamnya, Hana membantuku memilih pakaian. Gaun berwarna krem dengan pita merah dipilih karena tidak terlalu berat. Aku membuka kotak terakhir yang kosong. Ketiga belas gelang buatanku sudah menemukan pemiliknya, termasuk gelang hitam di ekor Ash. Tidak ada gelang baru yang harus kusimpan untuk Mith. Gelang merahnya sudah ia terima dan sedang ia pakai.
Sebagai gantinya, aku mengambil kertas dan menulis ucapan untuk besok. Hana duduk di sampingku, menahan ujung kertas agar tidak bergeser. Aku menggambar bintang kecil di bawah nama Mith, lalu memasukkan surat itu ke kotak kosong yang tadi kubawa. Hadiahnya sudah diberikan; ucapan untuk hari istimewanya belum.
Hana menyisir rambutku dengan hati-hati. 'Besok kau akan berdiri dekat keluarga.'
'Qiya tahu.'
'Kalau merasa takut atau bosan, genggam tanganku.'
Aku mengangguk. Di luar jendela, halaman istana diterangi lentera. Bayangan para penjaga bergerak di balik kaca.
Aku berbaring, tetapi sulit tidur. Besok Mith akan melangkah menuju peran baru. Semua orang bilang itu hari yang membahagiakan. Namun, aku tahu menjadi dewasa berarti tanggung jawab semakin besar.
Sebelum lampu diredupkan, terdengar langkah berat di depan pintu. Ayah masuk bersama Lily yang membawa susu hangat. Gelang buatanku terlihat di pergelangan ayah, nyaris tenggelam di balik lengan bajunya.
'Qiya belum tidur?'
'Sedang memikirkan Kak Mith.'
Ayah duduk di tepi kasur. Wajahnya langsung berubah saat mendengar namaku menyebut kekhawatiran. Aku buru-buru menarik ujung lengan bajunya sebelum ia menyimpulkan ada orang yang membuatku sedih.
'Tidak ada yang mengganggu Qiya. Qiya hanya tidak mau Kak Mith berhenti jadi kakak setelah debut.'
'Siapa yang berani menyuruhnya berhenti?'
Aku memejamkan mata. Tentu saja begitu jawabannya.
'Bukan karena disuruh. Kalau pekerjaannya banyak, mungkin Kak Mith tidak bisa datang.'
Ayah terdiam. Ia melirik surat kecil di dalam kotak, tetapi tidak membukanya. Untuk sekali ini, ia tidak memanggil pengawal atau mengancam seorang pejabat yang tidak tahu apa-apa.
'Besok Mith menerima tugas belajar yang lebih besar,' katanya akhirnya. 'Bukan berarti semua urusan kekaisaran langsung diserahkan kepadanya.'
'Ayah masih membantunya?'
'Tentu.'
Aku mengangguk. Di kehidupan lamaku, aku sering mengira sudah memahami seseorang hanya karena membaca beberapa halaman tentangnya. Namun, kakak yang besok berdiri di aula bukan sekadar nama yang kutemukan dalam Mask. Ia masih anak dua belas tahun yang sedang belajar memikul pedang upacara.
Kelak Carl akan datang. Ingatan tentang nasib kekaisaran itu belum hilang, sekalipun hari-hariku sekarang penuh pita dan gelang. Aku belum tahu bagaimana mengubah semuanya. Tetapi membiarkan kakak-kakakku tumbuh dengan keyakinan bahwa semua hal boleh diselesaikan memakai pedang jelas bukan jawaban.
Aku merapikan tutup kotak. Besok aku ingin bicara kepada Mith sebagai adiknya, sebelum semua orang menyapanya sebagai calon penguasa.
Semoga Kak Mith tetap punya waktu untuk bermain denganku.
Itu saja yang kuminta.