Pagi itu, jalanan Yogyakarta mulai dipenuhi kendaraan ketika Kalyana membelokkan mobilnya menuju kawasan perkantoran di sisi selatan kota.
Ia sudah hafal pola lalu lintas di jam seperti ini.
Beberapa ruas mulai padat, terutama di persimpangan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan pusat bisnis. Namun Kalyana tidak pernah terlalu suka terburu-buru. Baginya, berangkat sedikit lebih awal jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu menggerutu di balik kemudi.
Radio mobil memutar lagu lama dengan volume rendah.
Di kursi sebelahnya tergeletak map hitam berisi laporan yang semalam belum sempat ia selesaikan.
Hari itu ia akan melakukan review awal terhadap sebuah gedung perkantoran milik salah satu klien perusahaan.
Bukan gedung baru. Justru sebaliknya.
Bangunan itu sudah digunakan lebih dari sepuluh tahun dan mulai menunjukkan beberapa masalah yang menurut pemiliknya membutuhkan perhatian.
Keluhan awalnya terdengar sederhana.
Tagihan listrik meningkat.
Beberapa ruangan terasa lebih panas.
Biaya perawatan AC bertambah.
Dan dalam enam bulan terakhir, pekerjaan perbaikan kecil mulai muncul satu per satu.
Bagi orang lain, semuanya mungkin terlihat seperti masalah terpisah.
Bagi Kalyana, justru di situlah pekerjaannya dimulai.
Ia tidak pernah menyukai kesimpulan yang terlalu cepat.
Rusak bukan berarti harus diganti.
Lama bukan berarti harus dipertahankan.
Dan mahal belum tentu berarti buruk.
Semua harus dilihat penyebabnya.
Mungkin itu juga yang membuat lima tahun terakhir terasa berlalu begitu cepat.
Pekerjaan mengajarinya untuk terus melihat detail.
Satu laporan selesai, laporan lain datang.
Satu gedung diperiksa, gedung berikutnya menunggu.
Tanpa sadar, rutinitas itu telah membentuk kehidupannya menjadi cukup teratur.
Kantor.
Site visit.
Rumah.
Sesekali makan bersama teman.
Lalu kembali lagi.
Selama ini, rutinitas itu tidak pernah terasa kurang.
Sampai beberapa hari terakhir.
Kalyana menggeleng kecil. “Fokus.”
Lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menjalankan mobil.
Kantornya berada di lantai tiga sebuah bangunan modern dengan dinding kaca besar yang membuat cahaya pagi masuk hampir tanpa hambatan. Tidak terlalu besar. Namun cukup nyaman.
Di satu sisi terdapat beberapa meja kerja yang dipenuhi laptop, dokumen, sampel material, dan gambar teknis. Di sisi lain ada ruang rapat berdinding kaca yang biasanya digunakan untuk presentasi kepada klien.
Pantry kecil berada di ujung ruangan. Tempat kopi, gosip ringan, dan keluhan tentang deadline biasanya bertemu dalam satu meja.
Kalyana baru saja meletakkan tas ketika seseorang menyodorkan secangkir kopi dari belakang.
“Pagi.”
Kalyana menoleh.
Hans.
“Makasih.”
“Americano, tanpa gula.”
“Kamu hafal?”
Hans menarik kursi di depannya.
“Sudah bertahun-tahun kerja bareng.”
Kalyana mengangkat cangkirnya.
“Atau mungkin karena pesananku selalu sama.”
“Itu juga.”
Hans adalah salah satu konsultan di tim yang sama dengannya.
Penampilannya hampir selalu rapi. Rambut tertata. Kemeja licin. Jam tangan yang cukup sering berganti.
Dan sebuah cermin kecil di meja yang sampai sekarang masih membuat Kalyana heran.
Ia pernah bertanya untuk apa. Hans menjawab dengan sangat serius, “Untuk memastikan orang lain tahu aku ganteng.” Sejak saat itu Kalyana memilih tidak pernah membahas cermin tersebut lagi.
“Meeting jam sembilan jadi?” tanya Hans.
“Jadi.”
“Laporan kondisi asetnya sudah selesai?”
“Review awal sudah. Tapi aku mau lihat data konsumsi energinya lagi.”
“Kenapa?”
“Kenaikannya terlalu tinggi dibanding luas area.”
“AC?”
“Belum tentu.”
Hans mengangkat alis.
“Kalau bukan?”
“Makanya aku cek dulu.”
Kalyana membuka laptop. “Kalau langsung bilang AC bermasalah, kita cuma menebak.”
Hans tersenyum. “Nah, ini Kalyana yang aku kenal.”
“Yang mana?”
“Yang nggak pernah mau menyalahkan barang sebelum punya bukti.”
Kalyana tertawa kecil.
“Barang juga berhak dibela.”
“Kasihan sekali AC kalau ketemu konsultan lain.”
-------
Pukul sembilan tepat, ruang rapat mulai terisi.
Kalyana menampilkan data kondisi gedung pada layar.
“Bangunan ini secara umum masih dalam kondisi baik. Struktur utama tidak menunjukkan indikasi masalah yang membutuhkan tindakan segera. Tapi ada beberapa komponen yang perlu mendapat perhatian.”
Ia mengganti halaman presentasi.
“Pertama, sistem pendingin. Kedua, pencahayaan. Ketiga, beberapa bagian waterproofing di area atap. Keempat, pola pemeliharaan yang masih cenderung reaktif.”
Salah satu perwakilan klien mengernyit.
“Reaktif maksudnya?”
“Perbaikan dilakukan setelah kerusakan muncul. AC rusak, baru diperbaiki. Pompa bermasalah, baru dipanggil teknisi.”
Kalyana menunjuk grafik.
“Pola seperti itu memang kelihatan lebih murah dalam jangka pendek, tapi kerusakan kecil bisa berkembang menjadi masalah yang lebih besar.”
“Jadi rekomendasinya?”
“Kita nggak perlu mengganti semuanya.”
Kalyana membuka tabel berikutnya.
“Untuk beberapa aset cukup preventive maintenance yang lebih teratur. Beberapa komponen perlu improvement. Replacement baru diperlukan kalau biaya mempertahankannya sudah tidak sebanding dengan manfaat dan sisa umur ekonomisnya.”
Ruangan hening beberapa detik.
Kalyana sudah cukup sering menjelaskan hal serupa kepada klien yang berbeda.
Tidak semua yang lama harus diganti.
Tidak semua yang rusak harus dibuang.
Namun tidak semua yang lama juga harus dipertahankan.
Ada saat ketika sesuatu memang harus dilepaskan.
Dan pekerjaannya adalah membantu menentukan kapan saat itu tiba.
-----
Meeting selesai menjelang makan siang. Hans berjalan bersamanya menuju pantry.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kalau aku jadi gedung, aku pasti senang punya kamu.”
Kalyana menoleh.
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak gampang menyerah sama barang lama.”
“Aku konsultan, Hans. Bukan penyelamat gedung.”
“Bedanya tipis.”
“Nggak.”
Kalyana mengambil air minum. “Kalau memang sudah tidak layak, ya harus diganti.”
Hans mengangguk.
“Berarti prinsipmu bukan mempertahankan semuanya.”
“Enggak.”
“Terus?”
Kalyana berpikir sebentar. “Mempertahankan yang masih punya nilai.”
Hans mengangguk pelan.
“Filosofis.”
“Realistis.”
“Bedanya?”
“Kalau filosofis, bisa dikutip di Instagram.”
Hans tertawa. “Kalau realistis?”
“Harus ada anggarannya.”
“Oke.”
Hans mengangkat kedua tangan. “Aku kalah.”
Mereka akhirnya makan siang di warung kecil tidak jauh dari kantor.
Kalyana memilih nasi pecel dengan telur dadar, sementara Hans memesan soto dan es teh.
Biasanya waktu makan siang digunakan untuk membahas pekerjaan, klien, atau sekadar mengeluh tentang jadwal.
Hari itu tidak berbeda. Setidaknya hampir.
“Weekend-mu gimana?” tanya Hans.
“Biasa.”
“Biasa itu apa?”
“Di rumah.”
“Seru sekali.”
Kalyana menatapnya datar.
“Memangnya harus selalu keluar?”
“Nggak. Aku cuma memastikan kehidupan sosialmu masih ada.”
“Masih.”
“Buktinya?”
Kalyana mengambil sepotong rempeyek. “Aku sedang makan siang sama kamu.”
Hans menghela napas. “Standarmu rendah sekali.”
Kalyana tertawa.
Ia tidak mengatakan bahwa akhir pekannya memang terasa sedikit berbeda.
Ada kardus di paviliun.
Ada seorang penyewa baru.
Ada suara laki-laki lain di meja makan rumah utama.
Hal-hal yang tidak perlu menjadi bahan laporan kepada siapa pun.
Termasuk Hans.
-----
Sore datang bersama tumpukan pekerjaan yang perlahan berkurang.
Di layar laptop Kalyana masih terbuka foto gedung yang baru mereka evaluasi.
Ia memperbesar bagian atap.
Ada noda lembap di salah satu sudut.
Kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Namun hal-hal seperti itulah yang biasanya menarik perhatiannya.
Ia menulis catatan. Perlu pemeriksaan lanjutan pada area waterproofing. Lalu menyimpan file.
Ketika akhirnya menutup laptop, sebagian besar meja di kantor sudah mulai kosong.
Kalyana memasukkan dokumen ke dalam tas dan mengambil ponsel.
Ada pesan dari Mbok Sri.
Mbak Lya, pulang jangan malam. Sayurnya sudah Mbok masak.
Kalyana tersenyum. Belum sempat membalas, pesan lain masuk.
Aksara.
Lya, tadi kamu bilang jalan yang lewat toko tanaman lebih cepat. Benar. Tapi aku baru tahu toko tanamannya sebesar itu.
Kalyana tanpa sadar tersenyum lebih lebar. Ia mengetik.
Makanya aku bilang jangan cuma lihat jalan. Lihat sekeliling juga.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Aku arsitek. Memangnya bisa nggak lihat sekeliling?
Kalyana membalas.
Bisa. Kalau lagi buru-buru.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Baiklah. Besok aku lebih pelan.
Kalyana menatap pesan itu beberapa detik sebelum memasukkan ponsel ke dalam tas.
Aneh.
Percakapan mereka tidak penting.
Tidak ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Tidak ada informasi yang benar-benar dibutuhkan.
Tetapi pesan-pesan seperti itu terasa sangat mudah dikirim.
Seolah lima tahun yang hilang perlahan sedang diisi kembali oleh percakapan-percakapan kecil.
Di luar jendela kantor, langit mulai berubah warna.
Jalanan kembali ramai.
Orang-orang meninggalkan kantor dengan tujuan masing-masing.
Selama beberapa tahun, pulang bagi Kalyana berarti kembali pada rumah yang sama.
Pagar yang sama.
Teras yang sama.
Mbok Sri.
Pak Darmo.
Dan keheningan yang sudah begitu dikenalnya.
Sekarang tidak banyak yang berubah.
Hanya ada satu paviliun yang tidak lagi kosong.
Satu mobil tambahan di halaman.
Dan seseorang yang mungkin akan pulang melalui jalan yang berbeda.
Kalyana berdiri, menyampirkan tas ke bahunya. Ponselnya kembali bergetar.
Aksara.
Jangan lupa lihat sekeliling juga, Lya.
Kalyana membaca pesan itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Ia tersenyum kecil dan memasukkan ponselnya ke tas.
Aksara menuju satu arah.
Kalyana menuju arah yang lain.
Jalan mereka memang berbeda.
Namun tanpa mereka sadari...
ada satu rumah di ujung perjalanan yang menunggu keduanya kembali.