Pagi pertama setelah Aksara resmi menempati paviliun datang bersama udara yang masih basah oleh embun.
Cahaya matahari baru menyelinap di antara daun mangga ketika Kalyana membuka jendela kamarnya. Udara segar langsung memenuhi ruangan, membawa aroma tanah dan bunga melati dari halaman.
Ia sudah terbiasa memulai pagi dengan membuka jendela.
Mbok Sri selalu bilang, rumah yang terlalu lama tertutup akan menyimpan pengap.
Entah benar atau tidak.
Namun kebiasaan itu tidak pernah berubah.
Kalyana menarik napas panjang.
Lalu mengernyit.
Ada aroma kopi.
Bukan dari dapur rumah utama.
Melainkan dari arah paviliun.
Ia melihat jam.
Pukul enam lewat seperempat.
“Pagi-pagi sudah bikin kopi?”
Kalyana mengambil cardigan tipis dan berjalan keluar.
Halaman masih sepi. Dari dapur rumah utama terdengar samar suara peralatan masak. Berarti Mbok Sri sudah bangun dan mulai menyiapkan sarapan.
Di teras paviliun, Aksara berdiri menghadap meja kecil.
Sebuah dripper keramik, timbangan digital, ketel berleher angsa, dan kantong biji kopi tertata di depannya.
Gerakannya tenang.
Air dituangkan sedikit demi sedikit, lalu ia menunggu sebelum kembali menuangkannya.
Kalyana berhenti di ujung teras.
“Selamat pagi.”
Aksara menoleh.
“Pagi.”
“Kamu sudah bangun dari tadi?”
“Jam lima.”
Kalyana mengangkat alis.
“Jam lima?”
Aksara mengangguk.
“Kebiasaan.”
“Sejak di Jakarta?”
“Iya. Kalau berangkat agak siang, perjalanan ke kantor bisa jadi ujian kesabaran.”
Kalyana tertawa kecil.
“Kalau aku jam lima masih tahap negosiasi sama alarm.”
“Berarti alarmmu sering kalah?”
“Sering.”
“Yang menang?”
“Mbok Sri.”
Aksara tertawa.
Kalyana memperhatikan peralatan di meja.
“Kamu serius juga soal kopi.”
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Ia menunjuk timbangan.
“Pakai itu segala.”
“Biar konsisten.”
“Penggiling sendiri juga?”
Aksara mengangguk.
“Kalau beli bubuk, aromanya lebih cepat hilang.”
Kalyana menatapnya beberapa detik.
Lima tahun lalu ia tahu Aksara suka kopi.
Ternyata selama mereka tidak bertemu, kesukaan sederhana itu berkembang menjadi ritual pagi yang cukup serius.
Ada banyak hal kecil tentang Aksara yang tidak lagi diketahuinya.
Anehnya, pagi itu ia justru ingin mengetahuinya lagi.
Bukan karena sesuatu yang khusus.
Setidaknya begitu yang dikatakannya pada diri sendiri.
“Kamu mau coba?”
Aksara mengangkat satu cangkir.
“Boleh.”
Kalyana menerimanya.
Hangat cangkir berpindah ke telapak tangannya.
Ia menyeruput sedikit.
Tidak terlalu pahit. Ada rasa manis tipis yang muncul belakangan.
“Enak.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Kamu biasanya minum kopi apa?”
“Kopi tubruk.”
Aksara tampak terkejut.
“Sesederhana itu?”
“Aku lebih menikmati waktu minumnya daripada cara membuatnya.”
Aksara tersenyum.
“Itu jawaban yang bagus.”
Kalyana duduk di kursi teras.
Pagi masih cukup sunyi. Sesekali terdengar suara kendaraan dari jalan depan dan burung-burung yang berpindah di antara pohon.
Aksara ikut duduk.
“Semalam tidurnya gimana?” tanya Kalyana.
“Nyenyak.”
“Nggak terganggu suara apa-apa?”
“Justru terlalu tenang.”
Kalyana tertawa.
“Dibanding Jakarta?”
“Jauh.”
Aksara memandang halaman.
“Di tempatku dulu, jam segini suara kendaraan sudah ramai. Kadang belum bangun pun rasanya kota sudah lari duluan.”
“Terus kamu suka yang mana?”
Aksara berpikir sejenak.
“Belum tahu.”
“Jawaban aman.”
“Aku baru satu malam tinggal di sini, Lya.”
“Iya juga.”
“Tapi sejauh ini...”
Aksara mengangkat cangkirnya.
“...lumayan.”
Kalyana tersenyum.
Pintu belakang rumah utama terbuka.
Mbok Sri muncul membawa wadah berisi daun bawang yang baru dipetik dari pot dekat dapur. Pandangannya langsung tertuju pada dua orang di teras paviliun.
“Lho.”
Beliau mendekat.
“Baru sehari pindah sudah buka warung kopi?”
Kalyana tertawa.
“Mbok...”
“Lho, salah?”
Aksara berdiri.
“Selamat pagi, Mbok.”
“Pagi, Mas.”
Mbok Sri melihat cangkir di tangannya.
“Sudah sarapan?”
“Belum.”
“Nah. Sebentar lagi makan.”
“Mbok, Aksa mungkin ada rencana.”
Mbok Sri langsung menoleh pada Kalyana.
“Kalau orang belum sarapan, rencananya ditunda dulu.”
Aksara menahan senyum.
“Baik, Mbok.”
“Tuh.”
Mbok Sri mengangguk puas.
“Mas Aksara lebih nurut daripada Mbak Lya.”
“Lho, kok jadi aku?”
Mbok Sri sudah berjalan kembali ke rumah utama.
Aksara tertawa.
“Kayaknya aku mulai paham peringatanmu kemarin.”
“Baru sehari.”
“Masih ada tingkat lanjut?”
Kalyana berdiri.
“Tunggu saja.”
----
Pukul tujuh lewat tiga puluh, meja makan rumah utama kembali ramai.
Pak Darmo ikut duduk setelah selesai mengurus tanaman di halaman. Mbok Sri meletakkan sepiring tempe mendoan hangat di tengah meja bersama telur dadar daun bawang dan sayur lodeh.
Aroma gorengan yang baru diangkat dari minyak langsung memenuhi ruangan.
“Mas, sambalnya hati-hati,” kata Mbok Sri.
Aksara melihat mangkuk kecil di dekat piringnya.
“Pedas?”
“Menurut Mbok, sedang.”
Pak Darmo langsung terkekeh.
“Itu artinya pedas, Mas.”
Aksara mengambil sedikit.
Dua detik pertama masih tenang.
Detik ketiga, tangannya langsung meraih air minum.
Kalyana menunduk menahan tawa.
Mbok Sri terlihat heran.
“Lho? Pedas?”
Aksara mengangguk pelan.
“Sedikit.”
“Sedikit kok minumnya setengah gelas,” kata Kalyana.
Aksara menatapnya.
“Kamu senang, ya?”
“Lumayan.”
Pak Darmo tersenyum.
“Selamat, Mas.”
“Selamat apa, Pak?”
“Berarti resmi tinggal di sini.”
“Hubungannya?”
“Kalau sudah pernah kena sambal Mbok Sri, berarti sudah dianggap keluarga.”
Semua tertawa.
Mbok Sri menggeleng.
“Pak Darmo itu ada-ada saja.”
Aksara ikut tersenyum.
Sarapan sederhana itu terasa berbeda dari pagi-paginya di Jakarta.
Biasanya ia makan sambil melihat jam, membuka pesan pekerjaan, atau memikirkan jalan mana yang paling sedikit macet.
Pagi ini ia justru duduk di meja makan sebuah rumah tua, mendengarkan Pak Darmo membahas tanaman cabai dan Mbok Sri bersikeras sambalnya tidak terlalu pedas.
Di seberangnya, Kalyana masih sesekali tersenyum melihat wajahnya yang kepedasan.
Aksara mengambil satu mendoan lagi.
Mungkin ia bisa terbiasa dengan pagi seperti ini.
----
Menjelang pukul delapan, mereka bersiap berangkat bekerja.
Kalyana mengambil tas kerjanya.
Aksara meraih tas laptop dan beberapa dokumen yang sudah disiapkannya sejak malam.
Di depan rumah, keduanya berhenti hampir bersamaan.
“Kamu lewat Jalan Kaliurang atau Ring Road?” tanya Kalyana.
“Rencananya Ring Road.”
“Kalau jam segini lumayan padat.”
“Kamu lewat mana?”
“Jalan dalam.”
Aksara mengeluarkan ponsel.
“Share rutenya?”
Kalyana justru mengambil secarik kertas dari meja dekat pintu dan sebuah pena.
Dalam beberapa detik, ia menggambar rute sederhana lengkap dengan patokan warung soto, toko tanaman, dan lampu merah.
Aksara memperhatikannya sambil tersenyum.
“Kamu masih suka gambar pakai tangan.”
“Lebih cepat.”
“Aku juga.”
Kalyana menyerahkan kertas itu.
“Kalau sudah sampai toko tanaman, belok kiri. Jangan lurus.”
“Kalau lurus?”
“Ya tetap sampai.”
“Terus?”
“Muter.”
Aksara tertawa.
“Baik, Bu Pemandu.”
Mereka berjalan menuju mobil masing-masing.
Kalyana membuka pintu mobilnya.
“Semoga hari pertamamu berangkat dari sini lancar.”
Aksara mengangguk.
“Semoga meeting-mu juga.”
Dua mesin mobil menyala hampir bersamaan.
Satu menuju pusat kota.
Satu menuju kawasan perkantoran di sisi lain.
Jalan mereka berbeda.
Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, mereka berangkat bekerja dari alamat yang sama.
Kalyana sempat melihat mobil Aksara berbelok lebih dulu sebelum ia mengambil arah sebaliknya.
Hal sederhana.
Seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun rumah yang biasanya kembali sunyi setelah ia berangkat kini terasa berbeda.
Nanti malam, kemungkinan akan ada lampu lain yang menyala di belakang rumah utama.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Kalyana segera mengalihkan perhatian ke jalan.
Saat mobilnya berhenti di lampu merah, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Hans Pradana
Pagi, Lya. Meeting jam sembilan tetap ya. Hati-hati di jalan.
Kalyana membalas singkat.
Siap. Sampai ketemu di kantor.
Lampu berubah hijau.
Ia meletakkan ponsel dan kembali menjalankan mobil.
Hari kerja baru saja dimulai.
Dan tanpa Kalyana sadari, mulai hari itu ia tidak lagi hanya mengenali pagi dari suara Mbok Sri di dapur atau Pak Darmo yang menyiram halaman.
Sekarang ada aroma kopi dari paviliun.
Ada mobil lain yang keluar dari pagar hampir bersamaan dengannya.
Dan nanti, ketika hari berakhir...
akan ada satu lampu lagi yang tetap menyala di rumah Nareswari.