Ruang kerja Aksara berada di lantai enam sebuah gedung perkantoran yang menghadap ke salah satu ruas jalan utama Yogyakarta.
Dari balik kaca lebar di ujung ruangan, lalu lintas terlihat seperti aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti. Sepeda motor bergerak di antara mobil, sementara beberapa kendaraan berhenti di lampu merah yang terlihat dari kejauhan.
Tidak seramai Jakarta.
Setidaknya belum.
Aksara masih sering membandingkan keduanya tanpa sengaja.
Di Jakarta, pagi terasa seperti perlombaan yang dimulai bahkan sebelum seseorang benar-benar siap. Jadwal rapat, perjalanan menuju proyek, pesan yang masuk hampir bersamaan.
Di Yogyakarta, pekerjaannya tidak menjadi lebih sedikit.
Hanya ritmenya yang berbeda.
Ia masih belajar menyesuaikan diri.
Di atas meja kerjanya terbuka sebuah gambar kawasan berukuran cukup besar.
Garis-garis tipis berwarna berbeda membentuk jalan, blok bangunan, ruang terbuka, jalur pedestrian, dan beberapa area yang masih diberi tanda kosong.
Di sudut gambar tertulis:
KONSEP AWAL – PENGEMBANGAN KAWASAN TERPADU
Aksara mencondongkan tubuh.
Pensil mekanis bergerak di atas kertas.
Satu garis dihapus.
Digambar kembali.
Kemudian dihapus lagi.
“Masih belum.”
“Kenapa?”
Suara seseorang terdengar dari belakang.
Aksara menoleh.
Rendra berdiri sambil membawa cangkir kopi.
Senior planner itu sudah lebih lama berada di perusahaan dan menjadi salah satu orang yang cukup banyak membantunya menyesuaikan diri setelah pindah ke Yogyakarta.
Meskipun secara pengalaman Rendra lebih senior, hubungan mereka tidak terlalu formal. Mungkin karena keduanya sama-sama tidak terlalu menyukai basa-basi.
“Karena orangnya belum diajak jalan,” jawab Aksara.
Rendra menarik kursi.
“Orang mana?”
Aksara menunjuk gambar.
“Kalau turun dari kendaraan di sini, orang harus jalan hampir tiga ratus meter sebelum sampai ruang publik.”
“Masalah?”
“Kalau hujan?”
“Basah.”
“Kalau panas?”
“Gerah.”
“Kalau bawa anak kecil?”
Rendra memperhatikan gambar lebih serius.
“Repot.”
“Nah.”
Aksara kembali melihat kertas di depannya.
“Berarti desainnya belum selesai.”
“Padahal klien sudah suka.”
“Klien lihat gambar.”
“Terus?”
“Kita harus lihat orang yang akan menggunakan tempatnya.”
Rendra tersenyum.
“Makanya aku heran kenapa kamu mau repot mengubah jalur pedestrian.”
“Karena kalau pedestrian cuma jadi garis di gambar, kita gagal.”
Aksara memperbesar gambar kawasan pada layar komputer.
Proyek yang sedang mereka kerjakan merupakan rencana pengembangan kawasan campuran di pinggir kota.
Ada area komersial.
Perkantoran.
Hunian.
Ruang terbuka publik.
Jalur pedestrian dan sepeda.
Serta area parkir.
Di atas kertas semuanya terlihat sederhana.
Namun Aksara tahu setiap garis membawa konsekuensi.
Jalan yang diperlebar bisa mengurangi ruang pejalan kaki. Parkir yang ditempatkan terlalu dekat dengan bangunan dapat menambah kepadatan kendaraan. Ruang terbuka yang terlalu jauh dari pusat aktivitas mungkin terlihat indah dalam gambar, tetapi akhirnya jarang digunakan.
Aksara menggeser salah satu jalur.
“Kalau pedestrian kita pindahkan ke sini?”
Rendra mendekat.
“Akses kendaraan ke blok sebelah harus berubah.”
“Iya.”
“Jarak tempuh bertambah.”
“Sekitar seratus meter.”
“Klien bisa protes.”
Aksara tersenyum.
“Makanya kita kasih dua alternatif.”
Ia membuka lembar baru.
“Alternatif pertama tetap seperti konsep awal. Alternatif kedua prioritaskan pejalan kaki.”
“Terus kita biarkan klien pilih?”
“Kita jelaskan konsekuensinya.”
Rendra mengangguk.
“Fair enough.”
Bagi Aksara, pekerjaan mereka memang bukan mencari satu jawaban yang paling sempurna.
Hampir setiap keputusan mempunyai keuntungan sekaligus konsekuensi.
Tugas mereka adalah memastikan klien memahami keduanya sebelum menentukan pilihan.
-----
Pukul satu siang, mereka berangkat melakukan site visit.
Lokasi proyek berada sekitar dua puluh menit dari kantor.
Sebelum keluar, Aksara memasukkan laptop dan beberapa gambar ke dalam tas, lalu mengambil kamera kecil dari laci.
Rendra melihatnya.
“Masih pakai kamera itu?”
“Iya.”
“HP sekarang kameranya lebih bagus.”
“Kalau pakai HP, aku gampang tergoda buka pesan.”
“Kalau kamera?”
“Cuma kerja.”
Rendra tertawa.
“Alasan yang masuk akal.”
Begitu turun dari kendaraan, udara siang langsung menyambut mereka.
Lahan proyek masih berupa area terbuka yang sebagian ditumbuhi rumput liar. Di sisi timur terdapat jalan lokal yang tidak terlalu lebar dengan beberapa rumah warga di belakangnya.
Di sebelah barat berdiri sebuah sekolah dasar.
Aksara mengambil kamera.
Ia memotret lahan.
Jalan.
Persimpangan.
Trotoar yang tidak rata.
Warung kecil dekat sekolah.
Bahkan beberapa titik tempat orang biasa menyeberang.
Rendra memperhatikannya.
“Kamu foto warung?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena orang lewat sini.”
Rendra melihat warung sederhana yang dimaksud. Dua sepeda motor berhenti di depannya. Beberapa orang duduk di bangku panjang di bawah tenda.
“Kalau kawasan ini dibangun,” lanjut Aksara, “pola pergerakan mereka bisa berubah.”
Rendra mengangguk.
Aksara kemudian menunjuk jalan di depan sekolah.
“Jam pulang sekolah nanti arusnya pasti beda.”
Rendra melihat jam.
“Berarti kita tunggu?”
“Kalau mau tahu tempat ini bekerja seperti apa, jangan datang cuma ketika sepi.”
Mereka menunggu.
Menjelang pukul dua, keadaan berubah.
Orang tua mulai berdatangan. Sepeda motor berhenti di sisi jalan. Anak-anak keluar dari gerbang sekolah. Ada yang berjalan kaki, dijemput, atau menyeberang tanpa fasilitas penyeberangan karena memang tidak tersedia.
Aksara mengambil beberapa foto.
Kemudian menulis catatan.
Pedestrian existing tidak terhubung.
Titik crossing informal tinggi.
Perlu kajian akses sekolah.
Rendra berdiri di sampingnya.
“Kalau nggak lihat langsung, kita nggak akan tahu.”
“Makanya site visit penting.”
Aksara memandang beberapa anak yang berjalan berkelompok di pinggir jalan.
“Bangunan bisa kita gambar dari kantor.”
“Perilaku orang nggak bisa?”
Aksara mengangguk.
“Tepat.”
-----
Sore hari, Aksara kembali ke kantor dengan sepatu yang sedikit berdebu.
Ia membuka gambar kawasan sekali lagi.
Beberapa garis yang pagi tadi terlihat tepat sekarang terasa berbeda.
Sebuah tempat ternyata tidak pernah benar-benar bisa dipahami hanya dari gambar.
Ia mengambil pensil.
Menggambar.
Menghapus.
Menggambar lagi.
Sampai akhirnya sebuah jalur pedestrian baru muncul, menghubungkan area hunian, ruang publik, dan akses menuju sekolah.
Belum sempurna.
Belum final.
Tetapi menurutnya lebih manusiawi.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Kalyana.
Pulang jam berapa? Mbok Sri bilang makan malam jangan terlalu malam.
Aksara membaca pesan itu.
Lalu mengetik.
Masih di kantor. Mungkin satu jam lagi.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Oke. Hati-hati.
Aksara meletakkan ponsel.
Sederhana.
Hanya pertanyaan tentang waktu pulang dan pesan dari Mbok Sri.
Namun selama tinggal di Jakarta, hampir tidak pernah ada yang bertanya jam berapa ia akan sampai di tempat tinggalnya.
Kalau pulang malam, ia pulang malam.
Kalau makan di luar, ia makan di luar.
Tempat tinggalnya akan tetap berada di sana dalam keadaan yang sama seperti ketika ia meninggalkannya pagi hari.
Sekarang berbeda.
Ada meja makan yang mungkin sedang disiapkan.
Ada Mbok Sri yang akan mengomel kalau lauk tidak disentuh.
Dan ada Kalyana yang menyampaikan pesan itu kepadanya.
“Pacar?”
Aksara langsung menoleh.
Rendra berdiri beberapa langkah dari mejanya.
“Bukan.”
“Oh.”
Rendra mengangguk seolah mengerti.
Aksara menyipitkan mata.
“Oh apaan?”
“Nggak apa-apa.”
“Mukamu nggak kelihatan seperti nggak apa-apa.”
Rendra tertawa.
“Aku cuma lihat kamu baca pesan dua kali.”
Aksara terdiam.
“Aku baca biasa.”
“Iya.”
“Kenapa iyanya begitu?”
“Memangnya harus bagaimana?”
Aksara menggeleng.
“Sudah sana.”
Rendra tertawa lalu kembali berjalan menuju mejanya.
Aksara menatap layar komputer.
Tangannya sudah berada di atas mouse, tetapi belum bergerak.
Aku baca dua kali?
Ia mencoba mengingat.
Rasanya tidak.
Atau mungkin iya.
Aksara mengambil pensilnya lagi.
“Kurang kerjaan.”
Entah kalimat itu ditujukan kepada Rendra atau dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, perhatiannya benar-benar kembali pada garis-garis di layar.
------
Malam hampir tiba ketika Aksara akhirnya mematikan komputer.
File terakhir disimpan dengan nama:
Masterplan_Rev03
Ia memasukkan kamera ke dalam tas dan berjalan menuju lift.
Hari itu ia mendapatkan banyak foto.
Jalan.
Pohon.
Sekolah.
Warung.
Orang-orang.
Hal-hal yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain.
Namun sebuah kawasan tidak pernah hanya terdiri dari bangunan.
Ada orang yang tinggal di dalamnya.
Orang yang bekerja.
Anak-anak yang pergi ke sekolah.
Pedagang yang mencari penghasilan.
Orang yang sekadar melewati jalan setiap hari.
Semuanya meninggalkan jejak.
Pintu lift terbuka.
Aksara masuk dan menekan tombol lantai dasar.
Saat mobilnya meninggalkan gedung kantor, jalanan sudah mulai dipenuhi cahaya lampu.
Ia mengikuti rute yang beberapa hari lalu digambarkan Kalyana di secarik kertas.
Toko tanaman.
Lampu merah.
Belok kiri.
Aksara tersenyum ketika menyadari dirinya sudah tidak perlu lagi melihat petunjuk itu.
Ia mulai hafal.
Beberapa kilometer kemudian, suasana jalan berubah semakin tenang.
Aksara membuka kaca mobil sedikit.
Udara malam masuk bersama aroma makanan dari warung-warung yang mulai ramai.
Yogyakarta tidak pernah benar-benar sepi.
Kota itu hanya memiliki cara berbeda untuk menjadi sibuk.
Ketika akhirnya membelok menuju jalan rumah Nareswari, Aksara melihat cahaya dari kejauhan.
Lampu teras rumah utama sudah menyala.
Begitu pula lampu di dekat paviliun.
Ia memperlambat mobil.
Beberapa minggu lalu, pulang berarti sekadar kembali ke tempat tinggal.
Sekarang ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Ia belum tahu apa.
Dan rasanya belum perlu mencari jawabannya.
Seperti garis-garis dalam sebuah rancangan.
Beberapa memang membutuhkan waktu sebelum menemukan tempat yang tepat.
Mobil Aksara masuk ke halaman.
Lampu paviliun menyala beberapa saat kemudian.
Dan untuk malam itu, Aksara cukup tahu satu hal.
Ia sudah pulang.