Seminggu berlalu tanpa terasa.
Paviliun di belakang rumah keluarga Nareswari sudah kembali rapi. Seprai baru terpasang, lantai tegel dipel hingga mengilap, dan beberapa tanaman pot di teras dipindahkan agar mendapat lebih banyak sinar matahari.
Kalyana berdiri di depan pintu sambil memperhatikan hasil akhirnya.
“Sudah lumayan.”
Pagi itu Yogyakarta cukup cerah. Aroma tanah basah tercium dari halaman yang baru disiram Pak Darmo.
Entah kenapa, paviliun itu terlihat berbeda.
Padahal belum ada yang benar-benar berubah.
Meja masih berada di tempat yang sama. Rak buku masih memenuhi salah satu sisi dinding. Tegel lama bermotif geometris masih membentang dari ruang tamu hingga kamar.
Namun sebentar lagi akan ada seseorang yang membuka pintunya setiap pagi, menyalakan lampu saat malam, dan meninggalkan sepatu di depan teras.
“Mbak Lya.”
Kalyana menoleh.
Mbok Sri berjalan keluar dari rumah utama. Wajahnya masih sedikit pucat setelah beberapa hari sakit.
“Kok sudah keluar, Mbok?”
“Sudah enakan.”
“Dokter suruh istirahat.”
“Kalau di kamar terus malah pegal.”
Kalyana hanya bisa menggeleng.
Kamar Mbok Sri berada di bagian belakang rumah utama, tidak jauh dari dapur. Beliau sudah tinggal bersama keluarga Nareswari sejak Kalyana kecil. Keberadaannya begitu menyatu dengan rumah hingga bagi Kalyana, Mbok Sri bukan sekadar orang yang membantu mengurus rumah.
“Mas penyewanya jadi pindah hari ini?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Katanya sekitar jam sembilan.”
Mbok Sri mengangguk.
“Bagus. Paviliunnya ada yang nemenin lagi.”
Belum sempat Kalyana menjawab, suara mesin mobil terdengar dari depan rumah.
SUV abu-abu berhenti perlahan di depan pagar.
Pak Darmo yang sedang menyiram tanaman mematikan keran.
“Sudah datang, Nduk.”
Aksara turun dari mobil.
“Selamat pagi.”
“Pagi,” jawab Kalyana.
“Maaf, agak kepagian.”
“Nggak juga.”
Mbok Sri memperhatikan laki-laki yang baru datang itu. Kalyana baru teringat bahwa keduanya belum pernah bertemu.
“Mbok, kenalin. Ini Aksara, yang akan tinggal di paviliun.”
Aksara mendekat.
“Aksara, Mbok. Salam kenal.”
“Oh, ini toh Mas Aksara.”
Aksara tertawa kecil.
“Kok sudah tahu nama saya?”
“Mbak Lya pernah bilang.”
Kalyana langsung menoleh.
“Aku cuma bilang nama penyewanya.”
“Lha, Mbok juga cuma bilang tahu namanya.”
Pak Darmo terkekeh.
Aksara tersenyum.
“Kalau begitu saya yang belum tahu nama Mbok.”
“Sri.”
“Mbok Sri?”
“Iya.”
“Salam kenal, Mbok Sri.”
“Salam kenal, Mas Aksara.”
Mbok Sri melirik mobil.
“Banyak barangnya?”
“Nggak terlalu banyak.”
“Ya sudah. Pindahan dulu. Nanti makan.”
Aksara sedikit tertegun.
Baru beberapa menit berkenalan, tetapi Mbok Sri sudah mengatur waktu makannya.
“Baik, Mbok.”
Kalyana tersenyum.
“Kalau Mbok Sri sudah bilang makan, sebaiknya jangan ditolak.”
“Kenapa?”
“Nanti kamu tahu sendiri.”
Aksara membuka bagasi mobil.
Beberapa kardus tersusun rapi dengan label tulisan tangan.
BUKU.
MAKET.
DOKUMEN.
PAKAIAN.
PERALATAN GAMBAR.
Kalyana memperhatikan.
“Kamu selalu serapi ini kalau pindahan?”
“Jakarta mengajarkanku.”
“Sering pindah?”
“Nggak. Waktu pertama kerja aku tinggal dekat kantor. Setelah pindah proyek, perjalanannya terlalu jauh, jadi aku pindah tempat tinggal.”
“Daripada hidup habis di jalan?”
Aksara tersenyum.
“Tepat.”
Kalyana mengangguk.
Lima tahun ternyata cukup untuk menciptakan kehidupan Aksara yang sama sekali tidak ia ketahui.
Dulu ia tahu Aksara suka duduk dekat jendela ketika belajar. Sekarang ia bahkan tidak tahu apa yang biasa dimakan laki-laki itu untuk sarapan.
Pak Darmo mengambil salah satu kardus.
“Wah, berat juga.”
“Buku, Pak.”
“Pantes. Ilmu ternyata berat.”
Aksara tertawa.
Kalyana mengangkat kardus bertuliskan MAKET.
Aksara spontan mendekat.
“Yang itu pelan-pelan, ya.”
“Rapuh?”
“Iya.”
Mereka membawanya masuk ke paviliun.
Di dalam kardus terdapat beberapa maket yang dibungkus kertas. Salah satunya berupa taman kota lengkap dengan jalur pejalan kaki, pepohonan kecil, dan bangku taman.
Kalyana memperhatikannya.
“Bagus.”
“Proyek waktu ikut kompetisi.”
“Menang?”
“Juara dua.”
“Nyesel?”
“Nggak. Yang juara memang lebih bagus.”
Kalyana tersenyum. Sikap itu ternyata tidak berubah.
“Maket ini selalu kamu bawa?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Biar ingat kalau gambar yang bagus belum tentu jadi tempat yang nyaman.”
“Karena tempat baru hidup kalau ada orang yang memakainya?”
Aksara menoleh.
“Tepat.”
Pandangan mereka bertemu sesaat.
Dua pekerjaan berbeda, tetapi rupanya mereka memahami ruang dengan cara yang hampir sama.
Menjelang siang, sebagian besar kardus sudah masuk.
“Mas Aksara.”
Suara Mbok Sri terdengar dari pintu.
“Makan dulu.”
“Sebentar lagi selesai, Mbok.”
“Nggak. Barang bisa nunggu. Perut jangan.”
Pak Darmo tersenyum.
“Jangan berdebat soal makan sama Mbok Sri, Mas.”
Aksara melirik Kalyana.
“Kamu tadi bilang aku bakal tahu sendiri.”
“Nah. Sekarang tahu.”
Aksara menyerah.
“Baik, Mbok.”
Di rumah utama, makan siang sudah tersaji.
Sayur bening bayam, ayam goreng lengkuas, tempe bacem, sambal tomat, dan kerupuk memenuhi meja. Aroma ayam yang masih hangat membuat Aksara tanpa sadar menarik kursinya lebih dekat.
“Sederhana saja ya, Mas,” kata Mbok Sri.
Aksara melihat meja.
“Kalau ini sederhana, saya jadi penasaran yang tidak sederhana seperti apa.”
Mbok Sri tersenyum puas.
“Di Jakarta masak sendiri?”
“Kadang.”
“Berarti jarang.”
Aksara tertawa.
“Iya.”
“Kalau pulang malam?”
“Pesan makanan. Kadang mi instan.”
Mbok Sri langsung menghela napas.
“Aduh.”
Kalyana tertawa.
“Sudah kuduga.”
“Apa?”
“Mbok paling nggak suka dengar orang hidup dari mi instan.”
“Mulai sekarang kalau Mbok masak, makan saja di sini,” kata Mbok Sri.
Aksara menoleh pada Kalyana.
“Jangan lihat aku,” kata Kalyana. “Keputusan sudah dibuat.”
Mereka tertawa.
Aksara mencicipi ayam goreng.
“Ini enak, Mbok.”
“Yang bener?”
“Serius.”
Tanpa berkata apa-apa, Mbok Sri menambahkan satu potong ayam lagi ke piringnya.
Kalyana menahan senyum.
Cara Mbok Sri menerima seseorang memang sering kali sesederhana itu.
Melalui makanan.
Obrolan makan siang berpindah dari jalan menuju kantor sampai tempat makan di sekitar rumah.
Kemudian Pak Darmo berkata santai,
“Besok paling Bu Tejo datang.”
Aksara mengangkat wajah.
“Bu Tejo?”
“Tetangga,” jawab Kalyana.
“Ngapain?”
“Pinjam gula,” kata Pak Darmo.
“Oh.”
Kalyana menahan tawa.
Aksara menyadarinya.
“Kenapa?”
“Gulanya ada.”
“Terus buat apa pinjam?”
Mbok Sri menjawab tenang.
“Cari berita.”
Aksara terdiam dua detik.
“Baik. Aku harus siap.”
“Kamu nggak perlu siap,” kata Kalyana.
“Kenapa?”
“Bu Tejo selalu lebih siap.”
----
Menjelang sore, kardus-kardus mulai menghilang.
Rak buku terisi. Maket taman kota berada di dekat meja kerja. Sebuah mug hitam bertuliskan Create Better Spaces diletakkan di samping laptop. Jaket tipis tersampir di belakang kursi.
Paviliun yang sebelumnya kosong mulai terlihat seperti tempat tinggal seseorang.
Kalyana berdiri di dekat pintu.
Ternyata Mbok Sri benar.
Rumah memang terasa berbeda ketika ada yang menghuninya.
Aksara keluar dari kamar.
“Kayaknya selesai.”
“Cepat juga.”
“Karena dibantu.”
“Kalau ada yang kurang, bilang.”
Aksara mengangguk.
“Pasti.”
“Selamat menempati rumah barumu.”
“Terima kasih.”
Aksara melihat sekeliling.
“Semoga aku jadi penyewa yang baik.”
Kalyana tersenyum.
“Aku rasa rumah ini sudah memilih orang yang tepat.”
Mereka terdiam sejenak.
Saat Kalyana berjalan kembali ke rumah utama, ponselnya bergetar.
Hans Pradana.
Lya, besok jangan lupa meeting jam 09.00. Aku sudah kirim revisi konsepnya.
Kalyana membalas.
Siap. Besok aku review.
Ia mengunci layar dan kembali berjalan.
Dari paviliun, Aksara sempat melihat cahaya layar ponsel itu. Ia tidak mengetahui siapa yang mengirim pesan dan tidak berniat mencari tahu.
Ia justru memandang ruangan di sekelilingnya.
Di Jakarta, pindah tempat tinggal selalu terasa praktis.
Memindahkan barang.
Mengganti alamat.
Menghafal jalan menuju kantor.
Selesai.
Kali ini terasa sedikit berbeda.
Ada seseorang dari masa lalu yang tinggal hanya beberapa langkah dari pintunya.
Ada Mbok Sri yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah mengkhawatirkan makanannya.
Ada Pak Darmo dengan kalimat-kalimat sederhananya.
Dan rupanya ada Bu Tejo yang mungkin akan datang meminjam gula meskipun gulanya sendiri masih ada.
Aksara tersenyum kecil.
Mungkin kehidupannya di Yogyakarta tidak akan setenang yang ia bayangkan.
Besok adalah hari kerja.
Dan kehidupan barunya...
baru saja dimulai.