“Kita lanjut soal kontraknya?” Suara Kalyana memecah keheningan.
Aksara menutup buku di tangannya dengan hati-hati, lalu mengembalikannya ke rak pada posisi semula. “Tentu.”
Kalyana membuka laci meja bundar di ruang tamu. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua yang masih tampak baru. Di sudut kanan atas tertempel label kecil bertuliskan:
Perjanjian Sewa Paviliun – Rumah Nareswari
Aksara menerima map itu sambil tersenyum.
“Lengkap juga.”
“Aku lebih tenang kalau semuanya jelas sejak awal.”
“Aku setuju.”
Ia membuka halaman pertama.
Bukan hanya lembar kontrak yang tersusun rapi. Di belakangnya terdapat denah sederhana paviliun, daftar inventaris, hingga foto kondisi setiap ruangan.
Aksara mengangkat alis.
“Kamu bahkan memotret kondisi rumah sebelum disewa?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Supaya nanti sama-sama enak.”
Kalyana menunjuk salah satu foto yang memperlihatkan bagian kusen jendela.
“Kalau ada kerusakan, kita tahu itu sudah ada sebelumnya atau baru terjadi.”
Aksara mengangguk pelan. “Profesional.”
Kalyana tersenyum kecil.
“Pengalaman.”
“Pernah kejadian?”
“Dulu pernah.”
“Parah?”
“Ada penyewa yang bilang kaca jendela sudah retak sejak awal.”
“Padahal?”
“Padahal baru retak karena dia main bola di halaman.”
Aksara tertawa.
“Main bola?”
“Bersama keponakannya.”
“Lalu?”
“Kacanya pecah.”
“Kamu marah?”
Kalyana menggeleng.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Yang bikin aku kesal bukan kacanya.”
“Tapi?”
“Dia nggak jujur.”
Kalimat itu keluar pelan. Namun cukup membuat Aksara terdiam sesaat.
Kalyana tidak pernah benar-benar berniat menjadi pemilik rumah yang cerewet. Paviliun itu pun bukan properti yang sejak awal dipersiapkan untuk menghasilkan uang. Bangunan tersebut sudah menjadi bagian dari rumah keluarga Nareswari jauh sebelum ia cukup dewasa untuk memahami urusan kepemilikan, biaya perawatan, atau pajak.
Setelah Eyang tidak ada, beberapa hal perlahan menjadi tanggung jawabnya.
Atap yang bocor.
Talang yang tersumbat.
Kusen yang mulai dimakan usia.
Tanaman yang harus dipangkas.
Hal-hal kecil yang dulu selalu selesai tanpa pernah ia pikirkan, kini datang dalam bentuk tagihan, keputusan, dan sesekali telepon dari Pak Darmo.
Mungkin itu sebabnya Kalyana belajar bahwa menjaga sesuatu tidak cukup hanya dengan menyayanginya. Kadang diperlukan aturan.
Aksara kembali membaca halaman berikutnya.
“Deposit satu bulan.”
“Iya.”
“Pembayaran maksimal tanggal lima setiap bulan.”
“Iya.”
“Tagihan listrik dan air sesuai pemakaian.”
“Iya.”
“Standar.”
Kalyana mengangguk. “Sisanya baru agak berbeda.”
Aksara tersenyum. “Aku sudah curiga.”
Ia membalik halaman berikutnya. Matanya berhenti pada sebuah judul kecil.
Perawatan Bangunan
Ia membacanya perlahan. “Penyewa tidak diperkenankan mengebor, memaku, mengecat, atau mengubah bagian bangunan tanpa persetujuan pemilik rumah.” Aksara mengangguk.
“Masuk akal.”
“Kebanyakan rumah tua rusak bukan karena umur.”
“Lalu?”
“Karena niat baik yang salah.”
Aksara tertawa pelan.
“Itu kalimat baru.”
“Tapi benar.”
“Orang sering ingin memperbaiki.”
“Padahal belum tentu mengerti caranya.”
Dari luar terdengar suara sapu lidi menyentuh permukaan batu halaman. Pak Darmo sedang membersihkan daun kamboja yang berjatuhan sejak siang. Sesekali terdengar suara beliau bergumam sendiri.
Aksara menoleh ke arah jendela.
“Pak Darmo sudah lama bekerja di sini?”
“Lama sekali.”
“Sejak kamu kecil?”
“Bahkan sebelum aku lahir.”
Aksara tampak terkejut.
“Serius?”
Kalyana mengangguk.
“Kalau soal rumah ini, kadang Pak Darmo lebih tahu daripada aku.”
Seolah mendengar namanya disebut, Pak Darmo muncul di balik jendela.
“Lebih tahu apa, Nduk?”
Kalyana spontan tertawa.
“Rumah.”
Pak Darmo mengangguk mantap.
“Kalau soal rumah, iya.”
Aksara ikut tersenyum.
“Berarti kalau saya mau mengubah sesuatu, harus izin dua orang?”
“Betul, Mas,” jawab Pak Darmo cepat. “Mbak Lya sama saya.”
“Pak...”
Pak Darmo terkekeh, lalu kembali berjalan membawa sapunya.
Kalyana menggeleng.
“Jangan didengarkan.”
“Kayaknya aku justru harus dengar.”
Aksara kembali pada kontrak di tangannya. Halaman berikutnya membuatnya tersenyum.
Perawatan Tanaman
“Penyewa tidak diperkenankan memindahkan tanaman tanpa berdiskusi dengan pemilik rumah.”
Ia mendongak. “Ini yang tadi sempat kamu singgung.”
Kalyana mengangguk.
“Beberapa tanaman sudah ada sejak Eyang masih hidup.”
“Yang di halaman depan juga?”
“Pohon kamboja itu ditanam waktu Mama masih SMA.”
Aksara menoleh ke luar jendela.
Batang pohon itu besar, akarnya mencengkeram tanah dengan kokoh. Beberapa cabangnya menjulur sampai hampir menyentuh bagian atap teras. Bunga-bunga putih dengan bagian tengah kekuningan tersebar di antara daun hijau tua.
“Berarti umurnya lebih tua daripada kita.”
“Iya.”
“Kalau ada ranting patah?”
“Boleh dipangkas.”
“Kalau harus ditebang?”
Kalyana diam sejenak.
“Semoga jangan.”
Nada suaranya terdengar begitu pelan hingga Aksara memilih tidak bertanya lagi. Ia membalik halaman berikutnya. Lalu berhenti.
Perpustakaan
“Ini...”
Kalyana ikut melihat.
“Rak buku boleh dipakai?”
“Iya.”
Aksara membaca lebih saksama.
“Penyewa diperkenankan meminjam seluruh koleksi buku di paviliun. Buku dikembalikan pada tempat semula dalam keadaan baik.”
Ia tersenyum. “Lalu ini...” Matanya berhenti pada kalimat terakhir.
“Apabila telah selesai membaca sebuah buku, penyewa dipersilakan meninggalkan secarik catatan kecil di halaman terakhir sebagai jejak pembaca berikutnya. Catatan diletakkan di dalam buku, bukan ditulis langsung pada halaman.”
Aksara mengangkat wajah.
“Ini aturan atau ajakan?”
“Dua-duanya. Bermakna ganda.”
“Kenapa?”
Kalyana memandang rak buku di sudut ruangan.
“Eyang pernah bilang, ‘Buku akan hidup lebih lama kalau isinya tidak hanya dibaca, tapi juga diteruskan.’ Menurutku itu hal yang baik, makanya aku melanjutkan kebiasaan itu.”
Sebagian buku di rak bahkan masih menyimpan catatan Eyang. Tulisan tangan kecil dengan tinta biru. Tanggal selesai membaca. Satu atau dua kalimat tentang cerita di dalamnya. Kadang hanya sebuah tanda seru atau kalimat pendek yang tidak akan berarti apa-apa bagi orang lain.
Kalyana tidak pernah membuang satu pun.
Baginya, rumah itu menyimpan orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya dengan cara yang aneh. Bukan lewat foto atau benda berharga saja, tetapi melalui hal-hal kecil yang mereka tinggalkan tanpa sengaja.
Aksara tersenyum.
“Kalau aku tulis komentarnya jelek?”
“Boleh.”
“Serius?”
“Iya.”
“Asal jujur.”
“Kalau aku nggak suka bukunya?”
“Tulis alasannya.”
“Kalau aku suka?”
“Tulis juga alasannya.”
Aksara terkekeh.
“Berarti aku nggak bisa bohong.”
“Kamu memang sebaiknya jangan bohong.”
Jawaban itu spontan keluar.
Mereka sama-sama terdiam. Lalu tertawa kecil.
Keheningan kali ini terasa jauh lebih nyaman.
Aksara membuka halaman terakhir.
“Tidak ada lagi?”
“Satu.”
Kalyana menunjuk lembar paling belakang.
Catatan Tambahan
Aksara membaca perlahan.
“Setiap perubahan pada bangunan, sekecil apa pun, wajib dikomunikasikan dan mendapatkan persetujuan dari pemilik rumah.”
Ia tersenyum.
“Yang ini aku suka.”
“Karena usulmu.”
“Justru karena kita sepakat.”
Kalyana mengambil pena dari atas meja.
“Kalau begitu...” Ia menunjuk kolom tanda tangan. “Silakan.”
Aksara membaca sekali lagi dari awal hingga akhir. Tidak ada satu halaman pun yang dilewati. Baru setelah benar-benar yakin, ia menandatangani kontrak itu.
Goresan tintanya rapi. Tidak terburu-buru.
Kalyana ikut menandatangani di kolom sebelahnya.
Untuk sesaat, keduanya hanya memandang dua tanda tangan yang kini berdampingan di atas kertas.
Sebuah kesepakatan sederhana.
Namun menjadi awal dari sesuatu yang belum mereka ketahui.
Kalyana menutup map perlahan. “Sebentar.” Ia berjalan menuju lemari kecil di dekat rak buku. Dari laci paling atas, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu jati yang permukaannya mulai mengilap dimakan usia. Saat tutupnya dibuka, berjajar belasan anak kunci dengan gantungan kuningan kecil. Aksara memperhatikan dengan saksama.
“Banyak sekali.”
“Rumah tua.” Kalyana tersenyum. “Setiap pintu punya kuncinya sendiri.”
“Masih dipakai semua?”
“Hampir.”
“Kenapa nggak diganti satu sistem saja? Lebih praktis.”
Kalyana menggeleng pelan.
“Eyang pernah bilang...” Ia mengambil satu anak kunci bertuliskan Paviliun. “...kunci itu bukan cuma alat untuk membuka pintu.”
Aksara menunggu kelanjutan kalimatnya.
“Kunci mengajarkan kita satu hal.”
“Apa?”
“Setiap pintu dibuka dengan cara yang tepat.” Ia menyodorkan anak kunci itu.
“Kalau dipaksa...”
“...”
“...yang rusak bukan kuncinya, tapi pintunya.”
Aksara menerima kunci itu dengan kedua tangan.
Logamnya terasa dingin.
Namun entah mengapa...
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Kalyana tersenyum tipis.
“Mulai hari Sabtu, paviliun ini resmi jadi tanggung jawabmu.”
Aksara mengangguk.
“Dan aku janji...” Ia menggenggam anak kunci itu pelan. “...akan menjaganya sebaik mungkin.”
Tatapan mereka bertemu. Hanya beberapa detik.
Namun kali ini...
Tidak lagi terasa sekaku pertemuan pertama.
Sebelum mereka beranjak dari meja, Kalyana menunjuk anak kunci itu.
“Kalau suatu hari kamu kehilangan kuncinya, bilang.”
Aksara mengangkat alis. “Kenapa?”
“Aku punya satu cadangan.”
“Disimpan di mana?”
Kalyana tersenyum. “Rahasia.”
“Jadi kalau aku terkunci di luar?”
“Telepon saja aku.”
“Kalau kamu nggak angkat?”
“Ya, telepon lagi.”
Aksara tertawa.
“Berarti kunci cadangan bukan benar-benar untuk keadaan darurat.”
“Kenapa begitu?”
“Supaya aku punya alasan menelepon kamu.”
Kalyana terdiam sepersekian detik.
Aksara juga sepertinya baru menyadari kalimatnya sendiri. Ia segera tersenyum. “Jangan khawatir. Aku akan menjaga kuncinya baik-baik.”
Kalyana mengangguk. “Bagus.”
Mereka sama-sama melihat anak kunci yang kini berada di tangan Aksara.
Sebuah benda kecil.
Namun mulai hari itu, benda sederhana itu menjadi penanda bahwa ada satu pintu yang bisa mereka buka kapan saja—dengan cara yang tepat.
Di luar, angin sore kembali berembus.
Daun kamboja jatuh satu per satu di halaman.
Rumah tua itu seolah ikut mengembuskan napas lega.
Setelah sekian lama...
Akhirnya ada seseorang yang kembali dipercaya memegang salah satu kuncinya.